Mendingan sakit hati (daripada sakit gigi)


Maaf Bang Meggy Z, kali ini kita berbeda pendapat. Aye mohon maaf nih Bang ye, tapi SAYA SANGAAAATTT SETUJU kalau mendingan sakit hati daripada sakit gigi! :D *disambit tambalan gigi sama bang Meggy*

Yeah, andai harus memilih satu di antara dua penyakit itu, saya akan pilih sakit hati daripada sakit gigi.

Gigi saya sudah duet sama SM*SH selama empat hari: cenat-cenut, cekat-cekut, semat-semut..  X( Mangap (membuka mulut lebar-lebar) untuk menguap saja suakiiit apalagi minum air putih! Wadooooww! Iya! Air putih! Saya sampai musuhan sama air putih, dan cairan minuman jenis apapun! Kalau terpaksa minum, saya sampai pakai sedotan dan teknik memiring-miringkan posisi kepala supaya airnya tidak menyentuh rahang kiri atas sumber derita itu X(

Memang sih, kalau sedang dalam keadaan biasa (tidak makan, tidak minum, tidak sikatan :P), tidak terasa sakit. Tapi begitu tersentuh cairan atau hawa dingin sedikiiiitttt saja…WOGH! Amit-amiiittt! Sampai tidak sadar kalau sudah nangis bohay..eh, bombay! Yang sudah pernah merasakan derita gigi macam ini pasti mengerti. Ingin rasanya mencongkel lepas gigi dan diganti dengan besi :P Gara-gara sakit gigi ini saya jadi kurang gizi. Kok? Entah, tapi berat badan yang sudah susah payah saya tingkatkan angka mencapai 2 kg harus drop lagi ke angka semula. Menyebalkan! Padahal sudah beli susu nutrisi mahal! huh! :(

Heh? Apa? Anda penasaran kenapa saya “rela” bersakit-sakit hati..eh, gigi (yang nyatanya bikin sakit hati juga) selama empat hari dan tidak langsung menggedor tempat praktek dokter gigi supaya penderitaan saya diakhiri? Yah..alasan klasik mantan mahasiswa kelas pekerja (level pertama)…Tidak ada dana, saudara! Persediaan dompet saya tinggal selembar uang plastik dan saya tidak tahu perkembangan terkini biaya berobat gigi. *Dengar-dengar sih sudah inflasi* :D

Maka saya putuskan untuk cari alternatif termurah dengan pelayanan meriah: PUSKESMAS! Jika anda berpikir Puskesmas tidak kompeten, pikiiiirrr lagi Saudara! Puskesmas adalah jawaban doa bagi penderita sakit berkantong tipis seperti saya. Apalagi kalau anda pegang kartu sakti ASKES dan semacamnya. Pengobatan gigi?? Gratiiissss! Sayangnya, semenjak wisuda, hilang sudah privilese saya sebagai mahasiswa. Sejak toga dikenakan di kepala, saya sudah tak lagi dibiayai negara (meski nebeng status PNS ibu saya) :D

Nah, tapi ada satu masalah…

Saya tidak pernah bisa bangun pagi! Sementara Puskesmas hanya buka dari pagi sampai tengah hari (08.00 – 12.00 WIB). Jiaaahhh! Alamat sakit gigi makin menghebat! Tapi apa boleh buat? Saya bertahan demi jangkauan harga :P Tapi setelah hari ketiga saya melewatkan waktu buka *Kamuuu bangun jam berapaaa Gaa?? *plak* akhirnya saya menyerah. Saya mulai cari kredit dana sistem tanpa-bunga-boleh-dibayar-kapan-saja :D Memangnya ada? Adaaaaa! Buat apa saya terlahir bungsu dalam keluarga? Ya jelas untuk bermanja-manja saat tak ada dana! Hoahahahhaha *paiiitttt* XO

Akhirnya saya menghubungi Kepala Suku dan meminta tambahan beberapa ribu (lumayan banyak sih mintanya) lalu bergegas ke klinik gigi terdekat usai kerja. Nah, inilah salah saya yang kedua. Saya menuju bangunan yang tadinya saya sangka sebagai RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) milik sebuah universitas swasta di Jogja. Tapi yang tidak saya perkirakan, jam operasinya sama saja dengan Puskesmas sodara! Haiiissh! Lalu saya dimana? Saya sudah mengisi formulir pasien baru dan menunggu di ruang…klinik swasta milik universitas itu! Bodohnyaaa!

Eh? Kenapa memang?

Ya jelas itu sebuah kesalahan sayang, level RSGM adalah para “calon dokter”, sementara klinik ini levelnya “suhunya calon dokter” :D Paham? Saya berhasil mengumpankan diri sendiri pada tagihan dana yang entah berapa! Tapi apa boleh buat, sakit sudah tak tertahan dan saya sudah menyerah bangun pagi :P

Waktu saya masuk ke ruang periksa saja, sang bu dokter gigi pakai kacamata khusus (bentuknya mirip alat penakar berlian yang ada di film-film itu lho, tapi yang ini untuk sepasang mata), plus dua orang asisten! Mati deh! Bakal bayar berapa nih kira-kira? Tapi saya sok saja…urusan nanti deh! (padahal deg-degan kalau disuruh ngepel 3 lantai :D) Nah, sistem pengecekan lokasi sakitnya gigi itu pakai dicukit-cukit begitu. Saya tidak ingin cerita detilnya karena saya yakin anda sudah merasa ngilu hanya dengan frase kegiatan “cukit-cukit”. Yeah, itu jenis usaha yang makin membuat saya menggigit sengit! SUAKIIITTTT!

Setelah cukat-cukit sedikit di sana-sini, pukul sedikit di gigi ini dan gigi itu, ketemulah sumber penyakit saya: Lubang kecil tak kasat mata dan gusi yang terbuka! Solusinya? Ditambal donk tentunya! Tapi sampai saya menulis ini, sakitnya hanya berkurang 80%. Tapi lumayanlah daripada menderita lagi :P

Dokternya menyarankan hal yang umum tapi menohok: “Harus telaten membersihkan gigi mbak, apalagi sudah pakai bracket. Kalau tidak…wah giginya bisa hancur.”  APAAA?? Gigi hancuuurr?? Tidaaaakkkk!!!

Saya langsung bertekad akan jadi maniak-sikat-gigi :D

Salah satu asisten mengantar saya ke apotik untuk membayar tagihan. Duh, ini dia! Saya sudah siap ancang-ancang menolak menebus resep dan membayar biaya rawat saja (supaya tidak bokek mendadak), tapi ternyata tidak ada obat yang harus saya tebus. Baiklah, saya bayar tagihannya. Tidak lebih mahal dari rumah sakit langganan saya PR, tapi jelas lebih mahal dari puskesmas atau RSGM. Tapi biarlah, yang penting…saya kembali ceria dan bebas tertawa! Hahahhahaha (dalam hati nyesel setengah mati kenapa harus sakit gigi :D)

Jadiiiii adek-adek, kalau disuruh gosok gigi itu nurut yaaa! Jangan males! Nanti beneran lebih milih sakit hati lho!

Sakit hati bisa diobati dengan nangis seharian, curhat semalaman dan makan sekalapnya plus shopping sampai bangkrut. Tapi sakit gigi bikin kepala pusing, mood buruk, tidak bisa mikir, tidak bisa makan, tidak bisa tidur dan sekian tidak mampu lainnya (termasuk tidak mampu bayar dokter gigi :P). Dan itu lebih lama dari sakit hati! hahahaha!

Baiklah Bang Meggy, ini saatnya saya bernyanyi…”lebih baik sakit hati..daripada sakittt..di giiigiiii..uoooo

Salam gigit gigi!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s