Merindukan Romo Martin (sebuah catatan lama dengan pembaruan panjang)


Pada 31 Mei 2010 saya menulis sebuah Note di Facebook tentang figur seseorang yang sangat saya kagumi sejak lama. Ia adalah seorang rohaniwan Katolik. Saya bahkan merasa lebih dekat padanya dibanding figur-figur rohaniwan lain yang lebih terkenal. Ia adalah Romo Martin Suhartono. Berikut adalah note yang saya tulis setahun lalu itu:

Jika ada seseorang dari sisi kehidupan beriman yang paling saya kagumi, dia adalah Romo Martin. Pertama kali perjumpaan saya dengannya adalah melalui tulisan. Saat kecil, ayah saya berlangganan majalah rohani yang memuat tulisan rutin Romo Martin. Saat itu sosoknya berkacamata tempo dulu, dengan rambut hitam ikal sebahu. Tulisannya menyegarkan dan lucu, karenanya anak di bawah 10 tahun seperti saya waktu itu, bisa mencerna jalan ceritanya.

Karena sering membaca tulisannya, saya pun jadi mengidolakan sosok itu. Waktu saya bersekolah di Jogja, sekolah saya sering mengadakan misa bersama. Saat tahu Romo Martin tinggal di Jogja, saya mengusulkan namanya untuk memimpin misa…sayangnya, tak ada yang berhasil mengontaknya. Entah apa penyebabnya, saya lupa, Romo Martin akhirnya tak pernah memimpin misa sekolah saya. Gagallah perjumpaan saya dengannya.

Tapi mungkin memang tak ada yang namanya kebetulan, saat dewasa saya berjumpa lagi dengannya. Dengan Romo Martin dan penampilan di masa tuanya. Penampilannya saat ini sangat berbeda, rambutnya sudah tak ada…perawakannya mirip biksu Budha di Tibet sana. Tapi satu hal yang selalu terbayangkan dan menjadi kenyataan adalah: sosok Romo Martin memang menenangkan. Saya sangat jarang atau bahkan tak pernah mendengar khotbah langsung sang Romo saat misa, tapi saya selalu menunggu-nunggu saat berkat tiba. Dengan suara yang jernih ia melantunkan berkat dalam bahasa Ibrani yang entah bagaimana…membuat hati saya sangat tenang dan nyaris larut dalam haru.

Suatu waktu saya berjanji pada diri sendiri untuk merekam berkat dari Romo Martin. Nyaris mirip yang selalu saya lakukan saat remaja ketika mendengar lagu penyanyi kesukaan saya. Tapi keinginan itu tak pernah mewujud nyata.

Telah lama saya tak ke gereja, dan lama juga saya tak lagi bertemu dengan wajah tenang dan sayu itu. Berkali-kali saya berharap menemuinya dalam misa pagi, tapi tak pernah lagi ia saya jumpai. Saya kehilangan sosok itu. Salah satu sosok yang berhasil menenangkan kegelisahan hati tanpa ia sadari. Ia mirip dengan aroma kopi, selalu menenangkan pikiran yang resah dan hati yang mencari.

Adakah yang tahu dimana dia berada? saya hanya ingin mendengar lantunan doa yang selalu diucapkannya dalam misa biasanya…

***

Lalu hari ini, seorang teman membaca note tersebut dan mencari informasi ke mana gerangan ia pergi. Lalu ia menemukan sepotong file berjudul RAIB JADI RAHIB yang rupanya ditulis Romo Martin tahun 2008. Begini petikannya:

Martin Suhartono sudah tak ada lagi! Mohon dimaafkan, saya pergi begitu saja, raib tanpa pamit. Dulu di Yogyakarta, saya dijuluki “Biksu Thong” karena gundul plontos. Sesudah tiga tahun di Thailand, saya sekarang menjadi biksu beneran, hanya saja, biksu Katolik alias rahib, bernama “Ambrose-Mary”.

Jadi, Romo Martin Suhartono sudah mengganti namanya dengan Rahib Ambrose-Mary rupanya…:D Mengenai alasannya, beliau menuliskan

Saat itu (1967) saya baru saja membaca artikel di koran Merdeka tentang makna nama; penulis menganalisa bahwa nama dua Pemimpin RI sama-sama tidak sempurna karena masing-masing kekurangan satu unsur alam yang ada pada yang lain. Menurut penulis itu, su mewakili unsur manusia yang baik, har atau kar mewakili unsur binatang, to unsur tetumbuhan, dan no unsur tanah/bumi; nama Suharto kurang lengkap karena tidak berpijak pada no (bumi) sedangkan nama Sukarno pun tidak lengkap karena tidak menguasai wilayah to (tetumbuhan).

Itulah latar belakang saya memilih nama Suhartono. Harapan saya: nama sempurna otomatis akan membuat saya sempurna. Ternyata tidak! Pilihan lain tentu saja Sukarnoto tapi saya kuatir ini akan membuat saya sukar menata hidup. Bagaimana pun juga, ternyata hidup saya ini memang sukar ditata karena kejutan tak kunjung berhenti meskipun saya sudah ganti nama.

Fiuuh, untung saja namanya bukan Martin Sukarnoto ya…:P Dalam tulisan 16 halaman tersebut, Romo Martin rupanya mengalami pergulatan batin antara panggilan sebagai imam dan sebagai pertama. Meski sama-sama menyerahkan diri “seutuhnya” pada Yang Kuasa, tapi jalan keduanya tentulah sangat berbeda. Hingga Ia sempat berontak pada kemauan dan arah takdirnya,

Sore itu, Sabtu 2 September 2006, saya sedang berjalan-jalan menyegarkan pikiran di tepi sebuahsungai seberang shopping-centre dekat residensi kami. Dalam kejengkelan, merasakan tarikan untuk tetap di SY dan tarikan untuk ke pertapaan, mengamati muda-mudi Filipina dengan aneka ragam gaya dan pakaian yang lalu lalang dengan bebas di tepi sungai itu sambil menantikan malam Minggu, saya seakan terdorong berontak pada Tuhan dan berseru, “Saya bebas melakukan apa pun yang saya maui! Tidak harus menuruti panggilan-Mu! Wong sudah enak-enak di SY kok ya masih dioprak-oprak terus untuk jadi pertapa!”

Saat itu malah timbul pikiran untuk melupakan segala hal, baik SY maupun pertapaan, seolah-olah muthung, tak mau repot-repot lagi akan panggilan Tuhan apa pun itu halnya, mau jadi awam biasa saja.

Namun ia juga seakan tersadarkan bahwa hidupnya ditujukan untuk sebuah rencana,

Tapi saat itu juga seakan ada suara dari langit yang bergema di batin saya, “Kau diciptakan untuk  suatu rencana!”
Saya pun terperangah dan cuma bisa berdesah, “Ya, Tuhan! Aku diciptakan untuk rencana-Mu, dan betapa gelisah hatiku sebelum rencana-Mu itu terlaksana sepenuhnya dalam hidupku!”
Saya terinspirasi oleh ucapan St. Agustinus, “Ya Allah, kepada-Mulah kami diciptakan dan betapa gelisah hati kami sebelum kami beristirahat di dalam Dikau!”

Saat itu pula terlihat di kejauhan menara sebuah gereja di tepi sungai, dan saya pun berjalan ke sana. Ternyata gereja itu dikhususkan untuk pusat devosi Kerahiman Ilahi. Di hadapan lukisan khusus devosi ini, Tuhan Yesus dengan cahaya warna merah dan putih yang memancar dari Hati-Nya yang Maha Kudus, dengan tulisan “Jesus I trust in you” di bawah kaki-Nya, saya diingatkan kembali akan Kasih Allah semata-mata. Kasih itu pula yang telah menyentuh saya di retret akhir SMA dan mendorong saya untuk memutuskan menjadi imam.

Namun kenyataannya tidak mudah untuk “melepaskan segalanya” dan menjadi Rahib sebab ibunya (atau yang dipanggil Mami) jatuh sakit. Namun setelah ibunya sembuh, ia memantabkan hati untuk mengikuti panggilan awalnya menjadi pertapa. Ia ikut sebuah ordo bernama Karthusian. Ordo ini didirikan tahun 1084 dan Romo Martin mendapatkan infonya dari website resmi mereka (http://www.chartreux.org/). Dikatakannya,

..amat mengesankan hati saya, terutama ungkapan yang dipakai oleh Pendiri Ordo ini, St. Bruno (abad 11), untuk menggambarkan semangat hidupnya, yaitu “dibakar oleh Kasih Ilahi …. meninggalkan yang fana … dan meraih yang abadi…” senada dengan e-mail pemuda Thai yang saya terima sebelum retret, dan sepaham dengan gagasan Papi dalam surat terakhir.

Sebelum berangkat ke Inggris, ia tinggal di rumah orangtuanya sebab menurut nasehat dari biara Karthusian Inggris, Tinggallah dengan Ibumu, karena sebagai Karthusian, kita tak akan pernah pulang ke rumah lagi ….” Ahh…saya berkaca-kaca.

Dalam penutup surat keterangan ke”raib”annya menjadi Rahib, Romo Martin Suhartono yang telah berganti nama menjadi Dom Ambrose-Mary menuliskan kalimat perpisahannya (sumpah, ada yang merenyut hati saat membaca ini),

Maafkanlah segala kesalahan kata maupun perbuatan saya, atau apa pun dari pihak saya yang takberkenan di hati Anda, sesuatu yang amat mudah terjadi dalam perjumpaan kita bersama selama ini. Kita senantiasa dipersatukan oleh Kasih Allah dalam doa-doa kita bersama. 

Sampai jumpa lagi di mana pun Tuhan berkenan mempertemukan kita kembali, entah masih di dunia sini atau pun di dunia seberang,

Shalom! Salam dalam Kasih Tuhan, Berkat-Nya senantiasa melimpah ruah atas Anda sekalian,

Dom Ambrose-Mary

Jadi demikianlah, Romo Martin Suhartono yang saya kenal dan saya kagumi sudah tak ada lagi. Sudah berganti menjadi seorang Dom Ambrose-Mary. Terakhir kabar yang saya dapat, beliau ada di Thailand. Ah…semoga suatu saat saya bersilang jalan dengannya dan boleh mendengar kembali lantunan berkat yang selalu ia ucapkan di akhir misa…”Diberkatilah anda sekalian dalam lindungan Tuhan

Doakan kami Romo, sampai ketemu lagi…

Jogja, dengan haru yang meledak kembali

25 thoughts on “Merindukan Romo Martin (sebuah catatan lama dengan pembaruan panjang)

  1. saat ini beliau sdh resmi menjadi rahib (eremit diosesan, di Keuskupan Agung Semarang. Kaul Kekal Publik pd tgl 8 September kemarin di Sendangsono, dalam perayaan tahun hidup bhakti. Dihadiri oleh imam projo se regio jawa. Jika Anda masih blm berhasil menghubungi dia, sy punya telp dan emailnya. kebetulan saya jg memilih utk menjadi eremit. Terima kasih.

    • Terima kasih romo (atau eremit?) Roman :) iya, beberapa teman mengabari saya tentang peristiwa tersebut dan meski saya tidak benar2 paham, tapi saya selalu berdoa agar beliau senantiasa sehat. Apakah artinya bila menjadi pertapa juga mengasingkan diri?

      • saya banyak berkat lewat sharing nya romo martin.di internet

        sempet chat lewat.fb dulu

        kagum sm hati dan pemikiranya beliau

      • Cara hdp eremit adlah bertapa dn mengasingkan diri dr keramaian dunia. Kerasulan eremit adlah kerasulan doa. Sebuah kerasulan yg trsembunyi namun berdaya ubah bagi kesembuhan dunia. Sejauh sy tau Rm Martin skrang shdh agak terbuka, setiap minggu ada kerasulan ruang tamu. Mbak elga, semoga pencaharianmu berbuah. Berkah dalem dari sang peziarah

      • Maaf, menjadi eremit selalu tertutup. Apakah Anda Thomas aquino yg dulu teman sy di kota daeng? Jika benar, silakan kontak sy melalui email sj. Berkah dalem

  2. alamat pak Romo Martin xxx Jawa Tengah. *edited

    Re: terima kasih banyak Mas/Pak Alex, saya sudah diberitahukan oleh pengunjung blog lain mengenai keberadaan beliau. Tapi sengaja tidak saya cantumkan dengan alasan privasi. Beliau kini menyepi dan tidak ingin terlalu “dicari” :) suatu saat bila semesta mengizinkan, saya pasti bertemu. Salam ;)

  3. hai mb elga puji Tuhan ya sy slalu bs ketemu beliau,,,skrg beliau menyepi dan bertapa,,,akan sy smpaikan kpd beliau mgkn suatu saat anda bs bertemu beliau langsung Gbu

  4. elgaaaaaaaaa pooootteerrrr missss uuu sooooo ….. ga sengaja nich buka google kok ada namamu ak pikir elga siapa, eehhhh kok yooo dilalah per selasa besok ak efektif penempatan matesih… mau ak carikan info romo martin kah?

    • Wahhh, halo nenggg.. Apa kabar? Hehehe ita boleh2 kalau ada infonya, kabar2. Email aku dong kontakmu hehehe… Bs pakai pesan di blog ini yang “hubungi saya” ;)

  5. Romo Martin adalah seorang yg tidak pernah saya lupakan didalam hidup saya…
    Dia adalah seorang Yg sangat ak kagumi..saya merasakan betapa kasih sayangnya terhadap saya, disaat saya sedih dan susah dia selalu ada disamping saya dan selalu mendampingi dan menasihati saya…romo martin adalah seperti orang tua saya yg sudah mengasuh saya dan memberi pengarahan tentang arti sebuah kehidupan, dimanapun romo martin berada saya tetap akan selalu berdoa agar romo martin selalu di lindungi dan di beri kesehatan.

  6. Hallooo…. Salam kenal,
    sekedar ingin berbagi info, baru kemarin sabtu tanggal 9 agustus 2013, aku ketemu Romo Martin
    mengunjungi Beliau di tempatnya menyepi sekarang,
    Beliau tinggal di Matesih, Karanganyar Solo, dekat dengan Giri Bangun
    Kemarin adalah pertemuan pertamaku dengan Romo Martin, tapi tidak seperti pertemuan pertama, seperti yang sudah lama kenal, dan sangat berkesan
    Sebetulnya arah ke tempat Romo Martin tidak susah, tapi saat aku kesana kemarin seperti yang butuh perjuangan, seperti perjalanan spiritual, tapi sangat menyenangkan dan mendamaikan hati…

    Dan tambahan informasi, dari beberapa orang yang mengenal beliau, pilihan beliau untuk menetap dan menyepi di tempatnya yang baru sekarang sudah dinubuatkan.

    Berkah Dalem…

    • Waaah terima kasih banyak infonya ya mbak… di Matesih masuk paroki apakah? Saya tahu tempatnya tapi tidak tahu persis gereja atau parokinya :) pasti menyenangkan yaaa bs ketemu lgs beliau… sehatkan beliau?

      • Romo Martin sudah tidak tinggal lagi di pastoran dan tidak lagi diserahi tanggung jawab memimpin misa (hanya jika diminta saja atau diperbantukan),
        Beliau memilih untuk menyepi disana, alamat pastinya saya kurang paham, tapi yang pasti di Matesih – Karanganyar, Solo (dekat dengan pesantren), panggilan beliau disana Pak Romo.
        Puji Tuhan beliau sehat dan penuh sukacita…

        Jika memang sangat berkenan untuk megunjungi beliau disana, saya akan coba tanyakan alamat lengkapnya :)

    • Wah ini kebetulan yang baik. Kemarin saya berbincang2 dengan seorang teman cerita tentang Rm. Martin yang sekarang sudah memilih untuk hidup sendiri. Tahun kemarin kami sempat beberapa kali sharing pendek tentang pencarian kami lewat email. Email terakhir dari Beliau tentang menemukan tempat di Matesih. Setelah itu kami belum berkomunikasi lagi. Saya kira mungkin tidak pakai email lagi, tapi berkeinginan kalau satu waktu pulang ke Indonesia ingin bertemu juga. Kalau Mbak Ellyse tidak berkeberatan mungkin bisa beri tahu bagaimana mencapai tempat Beliau atau berkirim surat/email. Terima kasih banyak sebelumnya.

      Amie, Sgm

      • Hallo semuanya, dan salam kenal amie.
        maaf sekali ternyata alamat pastinya beliau saya ga berhasil mendapatkan, tapi berhubung saya pernah kesana, saya cuma bisa memberitahu petunjuk arah menuju kesana. Lokasinya di Matesih, Karanganyar – Solo (dekat dengan Giri Bangun) dan dekat dengan pesantren Mihtaful Ulum (kalo ga salah), kalau sudah di daerah situ rata-rata penduduk sekitar tahu Romo Martin (panggilan beliau disana Pak Romo).
        Untuk alamat email beliau saya ga tau.
        Cuma itu yang bisa share, mudah-mudahan teman-teman bisa berjumpa dengan beliau.

        Berkah dalem
        Els

  7. wah, blog ini masih ada dikunjungi empunya ngga ya? btw, romo martin adalah romo yang unik. Bagi saya secara pribadi, beliau itu misteri. Saya tak pernah tahu apa yang ada di pikirannya bahkan kemana arah pikirannya. Tapi bagi saya, beliau adalah orang yang ramah, pintar (lha wong dosen KS), dan siap membantu siapapun yang datang padanya. Agak sulit memang untuk “masuk” secara face to face, tapi kita bisa melihat diri beliau dari tulisannya yang agak unik menurut saya, dengan selera humor yang agak kurang biasa bagi orang Indonesia umumnya. Perjumpaan dengan beliau pun saya rasa bukanlah kebetulan semata, namun Tuhanlah yang mempertemukan dan Tuhan pula yang berencana atas pertemuan saya dengan beliau. Begitu pula dengan pertemuan Anda dan Beliau. Apa itu? Tuhan nanti yang menunjukkannya. Berkah Dalem.

    • halo halooo..terima kasih sudah mampir :) Saya masih sering menengok blog ini sih walaupun jarang update hehehe. Saya sendiri sayangnya belum berkesempatan mengobrol dengan romo Martin. tapi saya betul-betul menyukai tutur kata dan tulisan beliau :)

  8. Sekarang Oom Martin sudah tidak menjadi rahib lagi…..sekarang tinggalnya di lereng gunung lawu melayani masyarakat sekitar

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s