(Cuapan gak penting) Edisi 2: Memusuhi Kopi


Kopi ini membunuhku. Tulis saya suatu waktu.

Kenyataannya, entah sejak kapan persisnya, saya tak lagi bersahabat dengan kopi. Sedikit saja lambung saya bersentuhan dengan cairan hitam pekat beraroma nan nikmat ini, mual berontak keluar. Saya jadi tak lagi tahan meminumnya. Padahal saya tak bisa menolak aroma dan pekat hitamnya: membujuk syaraf hidung dan menjanjikan rasa nikmat di lidah. Ia mengubah diri menjadi semacam barang terlarang bagi saya.

Nikmat tapi menikam perlahan. Hmm…sadis (diucapkan dengan perlahan dan khidmat) :D

Jika dianalisis secara medis, sudah jelas yang bermasalah adalah lambung saya. Mungkin karena kelamaan menanggung beban dosa..eh, stres maksudnya, lapisan lambung saya menipis. Sedikit-sedikit diberi makanan sedikit ekstrim, si Lambung sudah meringis. Nangis-nangis. Mungkin kalau dibiarkan menyampaikan uneg-uneg dia akan teriak histeris sambil mengacung-acungkan linggis, “Bisa gak sih berhenti minum kopi??? Aku sudah nyaris bunuh diri nih!” (berlebihan ya bok :D) Lalu dia akan mendemo perusahaan kopi supaya bikin kopi tanpa kafein. Hahaha, bisa mungkin…kalau tanaman kopi sudah musnah dari muka bumi! Biji kopi akan diganti dengan kacang-kacangan yang menyamar jadi kopi dan kita ditipu dengan jargon “kopi sehat alami” :P

Lalu saya pun berjanji, membuat sumpah pribadi: SAYA, ELGA AYUDI, TAKKAN LAGI MENJAMAH KOPI.

Tapi bohoooongggg!! :D Hahaahahha! Ibarat pecandu narkotika, semakin dijauhkan darinya (si kopi), hasrat meminumnya makin menggila. Apalagi kalau sudah duduk di beranda sebuah kafe dan mencium aromanya yang baru digiling, diseduh dengan air mendidih…Puahhh!!! Mas, saya pesan satu! *dan saat itu pula langit terbelah karena seseorang melanggar janjinya*

Maka, kami pun menjalani hubungan backstreet meski tetap saja ketahuan sebab harus melalui pencernaan :D

Saya iri benar dengan orang-orang yang tahan minum kopi. Mereka bisa mencernanya dengan biasa saja. Malahan, kalau tidak minum pusing katanya. Cih! Beruntung sekali! :( Sementara saya, untuk bertekad meminumnya perlu menyiapkan amunisi: perut harus sudah diisi, sediakan air putih, enzyplex (nama obat pencernaan) dan permintaan untuk menambahkan susu atau mengurangi perbandingan takaran. Repot sekali! Itupun bukan jaminan si Lambung tidak teriak-teriak marah lalu saya mual-mual selama sisa hari. Hu!

Dampak terbesar dari kemunduran ini tentu saja satu: saya tak bisa belajar jadi barista. Lha bagaimana mau jadi peracik kopi kalau tidak bisa mencicipi hasil racikan sendiri? Padahal kalau di serial Korea favorit saya, Coffee Prince, jadi seorang Barista harus (kalau perlu) mencicipi bergalon-galon hasil kreasinya (lebay sih, tapi gak papa) :D Ekses lainnya adalah saya tak lagi bisa menikmati oleh-oleh kopi seribu pulau *sigh* padahal saya ini hobi icip-icip. Dulu sempat mencicip kopi Toraja, kopi Medan, Lampung..dan terakhir saya dibawakan kopi Manggarai. Cita-cita saya adalah mencicipi kopi Luwak yang tersohor rasa (dan harganya) itu :D Suatu saat nanti, saya ingin meminumnya dalam suasana dan kualitas yang asli (soalnya, dengar-dengar yang dikomersilkan di sekitar kita sudah tidak 100% murni).

Nanti lah yaa… sekarang saya ingin menebalkan lambung saya kembali agar kembali akur dengan kopi. Adakah yang tau caranya??

Semoga harimu beraroma kopi yang menenangkan dan menyenangkan!

4 thoughts on “(Cuapan gak penting) Edisi 2: Memusuhi Kopi

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s