Cuti haid di perusahaan utopia


“Boleh libur di hari pertama dapet aja udah membantu banget Ga…”

Itu adalah “keluhan” seorang teman perempuan yang harus masuk kerja saat hari pertama menstruasi. Ya, saya paham bagaimana rasanya. Seperti setengah bertarung dengan diri sendiri. Keringat dingin, pegal yang mendekati nyeri atau justru sebaliknya, nyeri yang menyamar sebagai pegal. Sudah tak bisa dibedakan lagi. Perut rasanya seperti diremat dari dalam sementara otot pinggang jadi tegang karena menahan sakit. Akibatnya, jemari kaki seperti mati rasa karena ikut tegang. Begitulah rasanya menstruasi, apalagi hari pertama. Sakit luar biasa.

Bersyukurlah mereka yang tak perlu merasakannya.

Kadang saya heran sendiri, ada beberapa orang yang menganggap sakit menstruasi sebagai “kodrat” perempuan. Emm…saya harus berkomentar apa ya tanpa terdengar sinis, atau sadis :D Apa iya alam ini sedemikian tidak adilnya? Perempuan adalah makhluk yang melahirkan. Sudah pasti dengan penuh kesakitan. Masa harus mengalami sakit luar biasa pula setiap bulannya. Bahkan kalau jadwalnya menyalahi “aturan”, per tiga minggu sekali? Masa yang seperti itu dibilang kodrat? Eh, jangan bilang rasa sakit itu sebagai “latihan persiapan melahirkan” ya.

Baiklah, di luar debat kusir rasa sakit adalah kodrat atau bukan, faktanya hanya satu: sakit menstruasi itu sangat menyiksa. Yang separuh bertahan masih bisa tersenyum enggan. Tapi yang tidak kuat bisa mual, muntah bahkan pingsan. Masalahnya lagi, tidak semua penyakit itu bisa ditemukan sumber penyebabnya. Sakit mens belum selalu berarti ada kista dan kelainan semacamnya.

Lalu anehnya, perempuan yang tersiksa di saat menstruasi tidak bisa mengajukan cuti haid. Paling hanya bisa ijin masuk setengah hari atau pulang awal. Padahal, menurut Pasal 81 UU Ketenagakerjaan,

pekerja perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Pelaksanaan ketentuan tersebut diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. Pengusaha tetap wajib membayar upah bagi pekerja perempuan yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya.

dikutip dari sumber ini

Untuk sekedar beranjak bangun, mandi, berdandan dan memaksakan diri masuk kantor pada saat menstruasi saja sudah terasa memberatkan namun tak terhindarkan. Tak ada toleransi bagi pekerja perempuan.

Saya paham sih bagaimana pola pikir kaum kapitalis itu. Mereka enggan mempekerjakan perempuan karena mereka seolah-olah “rugi” membayar seseorang yang memiliki “tuntutan tinggi” semacam cuti haid, cuti hamil, cuti melahirkan, ijin mengantarkan anak sakit, dan lain sebagainya. Makanya mereka enggan mempekerjakan perempuan yang sudah menikah apalagi sudah punya anak. Repot, ribet, rugi. Peduli setan mereka juga memerlukan pekerjaan (dan juga bisa menyelesaikan pekerjaan yang diperlukan keahlian)

Sejauh ini sih jalan tengahnya hanya dengan mengajukan ijin sakit atau pulang awal itu tadi. Tapi dampak lanjutannya adalah upah yang tak dibayarkan karena dianggap tidak memenuhi kewajiban. Oh dear…

Maka saya berangan-angan, di suatu negara utopia sana, para majikan-pimpinan perusahaan-pembuat peraturan pekerjaan, juga menghitung ulang kontribusi para pekerja perempuan. Upah tak semata-mata dihitung dari lamanya jam bekerja, tapi juga memperhitungkan apakah pekerja dapat mencapai tujuan pekerjaan, menyelesaikan permasalahan dan meningkatkan kredibilitas perusahaan.

Sehingga, mereka dengan sedemikian “rendah hati” akan mengakui bahwa para pekerja perempuan pun punya peran. Mereka tak lagi semata memerah daya upaya, tapi juga memberikan apresiasi berupa ijin tak masuk kerja saat keadaan memaksa.

Toh, andai memang tidak sakit buat apa juga berdusta. Itu sih sudah bukan motivasi bekerja yang juara :P

dengan berharap pada perusahaan utopia,

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s