It’s a quarter!


Saya berdebar.

Apa saya salah makan? Apa saya jantungan? Tidak juga. Tidak tahu mengapa ketika saya mengetikkan kata-kata ini mendadak jantung saya berdebar lebih cepat dari normalnya.

Dua puluh lima.

Andai saya diberi seratus tahun, ternyata saya sudah mencapai seperempatnya. Yes! It’s a quarter!

Tahun ini saya hanya menghapus tanggal lahir dari keterangan diri saya di sosial media. Bukan apa-apa. Saya hanya tidak ingin membebankan “kewajiban” mengucapkan selamat. Mohon dipahami, bahwa saya sungguh tidak bertendensi apapun. Hanya ingin menikmati waktu seperti ini lebih banyak bersama diri sendiri.

Sudah agak lama saya mengingkari menghitung usia. Ingin rasanya membekukan waktu agar saya tetap berada di usia remaja (tidak pakai labil yaa :P). Saya rasa, banyak orang seperti saya. Kita mulai berhenti menghitung tahun seiring bertambahnya usia. Biasanya sih diawali ketika menginjak umur kepala dua (survey terbatas dengan responden empat orang: Maria, Elga, Ratri, dan Ayudi :D). Padahal dulu kita menanti-nanti saatnya kita akan diakui sebagai orang dewasa. Buru-buru kita ingin menambah angka.

Mungkin pesta tak lagi istimewa. Mungkin semua makin terasa biasa. “Toh, tiap tahun sama saja kan?” kata beberapa orang.

Tapi saya sedikit tak sependapat. Tiap tahun angka lahir kita memang selalu ada, tapi apakah kita masih boleh menikmati hari itu? Masih boleh berada di dunia? Masih boleh bersyukur dengan keadaan yang prima? Apakah dunia masih ada untuk kita? Apakah kita masih orang yang sama atau sudah berganti sebagai pribadi berbeda?

Saya memang tidak menyiapkan apa-apa. Tidak pesta, tidak perayaan apapun, tidak ada apa-apa. Semuanya akan berlangsung biasa apa adanya seperti hari lainnya. Umm..mungkin sedikit syukuran bersama beberapa orang. Tapi bohong kalau saya tidak mengingatnya. Bohong kalau saya katakan hari ini tak berarti apa-apa. Yang berbeda adalah bahwa tahun ini tak lagi saya rayakan tapi saya syukuri.

Sungguh, saya bersyukur masih diberi hidup sampai saat ini.

Masih menghirup udara, masih menikmati senja. Masih bisa bercanda, masih bisa menangis, masih bisa terbahak atau melangut pilu. Masih bisa cemas, masih bisa berteriak lega. Masih bisa menyayangi dan merasakan cinta. Masih menikmati dunia betapapun wajahnya telah makin renta. Masih berdiri tegak di atas topangan kaki, masih bisa berlari. Masih bisa mengayun lengan, masih bisa menggapai angan. Masih bisa bermimpi, masih bisa memberi arti walau cuma sebegitu saja.

Dan yang terpenting…. Saya masih ada.

Tuhan…saya masih ada. Saya masih bernyawa. Saya masih berwujud benda nyata…

Apa yang saya inginkan tahun ini? Hmm…pertanyaan sulit. Jangankan permohonan ulang tahun, setiap hari saya punya daftar keinginan dan tuntutan yang pasti membuat Santa Claus atau Yang Kuasa geleng-geleng kepala. Bohong kalau bilang saya tidak ingin apa-apa. Tapi mungkin saya bisa minta, siapa tahu dikabulkan, satu permintaan: Supaya saya merasa cukup dan tidak lagi ingin meminta. :D Mustahil? Mungkin saja. Tapi nyatanya ada juga yang bisa melepaskan diri dari keinginan-keinginan yang sifatnya sementara. Well, saya bukan Buddha dan saya bukan pertapa. Saya benar-benar terikat dan terkait nyata dengan kehidupan dunia plus segala godaannya. Tidak mudah lho untuk berkata “tidak, saya tidak ingin apa-apa” atau mengatakan, “saya hanya ingin berguna dan menikmati hidup apa adanya

Life without wishlist? im-po-si-ble :D

Tapi misalnya saja anda percaya saya sungguh-sungguh dengan permohonan saya…inilah yang terpikirkan di kepala:

Saya ingin ayah dan ibu bahagia sebab saya mencintai mereka meski saya sering lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Tapi saya ingat bahwa pada suatu waktu, saat tanggal ulang tahun beberapa tahun silam, ibu saya mengirimi sebuah kartu saat saya bersekolah di SMA. Saya masih ingat sepenggal kata-katanya yaitu: Ria, hari ini mama membereskan rumah dan memasak makanan kesukaanmu sampai ternyata mama sadar bahwa kamu tidak ada di rumah… 

Plessh. Hati saya terbentur sesuatu. Saya sungguh merasakan rindu ibu yang ditinggal anaknya sekolah dan hidup berjauhan dengannya…maka saya tidak berlebihan bukan kalau saya menginginkan orang tua saya bahagia? Saya yakin mereka juga mencintai saya apa adanya dan berharap saya bahagia, dan karena saya bahagia melihat mereka bahagia…maka mereka harus bahagia :) #gombalanak

Meski saya tak menyukai perasaan-perasaan sentimentil sebab rasanya terlalu sinetron, tapi saya berharap yang terbaik untuk keluarga saya. Untuk kakak saya satu-satunya, semoga ia pun bahagia apa adanya. Menjalani pilihan-pilihan yang sudah diambil dan menghadapi konsekuensinya.

Karena saya ingin terlihat suci, maka saya ingin para gelandangan merasakan kedamaian..meski sedikit. Meski saya tak selalu memberi uang pada pengemis, meski kadang saya jengkel terhadap kepura-puraan..tidak melepaskan fakta bahwa mereka memang kekurangan. Meski pada dasarnya rasa iba terkadang tak membantu apa-apa… Tapi saya ingin yang kelaparan sempat merasakan kenyang, yang kedinginan sempat merasakan hangat, yang kekurangan sempat merasakan cukup… saya tidak bisa memberi keseluruhan harta benda atau diri saya seutuhnya pada semua..tapi andai bisa, andai mampu, andai ada waktu (yang kadang makin terasa dibuat-buat), saya berharap kita semua berjalan ke arah yang sama: bahagia…

Pada para teman, sahabat, kenalan dan orang yang sempat bersimpang jalan… terima kasih sudah memenuhi jalur dan lajur hidup saya dengan aneka “rasa perjumpaan” Entah bagaimana cara dan kesan saat kita berjumpa, bersisian, berpisah, bergandeng tangan, menertawakan hidup dan saling menghibur…terimalah rasa terima kasih dari hati terdalam :) Senang bertemu kalian!

Dan untuk hidup yang (semoga) masih panjang terbentang…Hey, aku milikmu seutuhnya! Aku akan menikmati hidup dan meraih segala hal yang membuatku merasakan damai dan bahagia yang sesungguhnya. Mengutip sekalimat iklan minuman: Saya mau, saya siap! :D

Hahahahaha! Happy birthday Elga, selamat ulang tahun diriku..semoga dirimu bahagia. Kamu tahu kamu layak mendapatkannya bukan? YA!

membubungkan harapan, mencapai batas angkasa

Yogyakarta, dengan syukur tak terhingga,

 

pictures from here

 

 

 

 

6 thoughts on “It’s a quarter!

  1. wekekekekekek… i like this… bersyukur masi bisa bernafas ya… tua itu pasti, dewasa itu pilihan, jompo itu tak bisa dihindari.
    Berbahagialah selalu, karena hidup adalah bagian dari kebahagiaan. Senang bisa menjadi sedikit bagian dari hidupmu ;D.

  2. menjadi tua itu pasti,
    ulang tahun itu pilihan,
    ingin tidak memiliki keinginan itu mendekati mustahil,
    tapi,
    ingin untuk tidak menginginkan sesuatu itu mungkin saja,
    selamat ulang tahun elga..

    bebaslah,
    karena tidak ada yang harus di dunia ini
    bagiku,
    yang harus adalah menjadi bebas..

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s