Natural Born Marketer


Saya akan dianggap tidak tulus dan tidak dapat dipercaya hanya karena sayalah yang bertanggung jawab dan digaji untuk promosi hal yang saya tawarkan.

Bulan ini saya baru menulis dua kali. Kemunduran parah. Tapi saya memang merasa lebih produktif sewaktu masih mahasiswa. Setidaknya, jelas status saya siapa: orang yang tugasnya cuma mikir merampungkan skripsi dan mengupayakan wisuda. Begitu jadi pekerja? Ya tambah lagi persoalannya… #curcol

Tapi daripada itu, saya tiba-tiba teringat tentang sebuah topik yang sudah lama ingin saya cuapkan. Topik itu membuat galau hati dan mengganggu tidur saya di malam hari (halah..insomnia cari alesan!)

Gara-gara lihat ada orang diliput televisi yang mengatakan dia bisa melihat masa lalu dirinya di kehidupan masa lalu (buat yang percaya reinkarnasi). Saya jadi ingin tahu…apakah saya ini…dulunya adalah pedagang di pasar? *tampang polos, mimik andalan Kabayan* :D

Sebab sodara, saya merasa bahwa apa-apa yang saya lakukan selalu terkait dengan barang dagangan dan jual cangkeman (perkataan). Yaa..saya memang masuk kelas Bahasa waktu SMA, tapi itu bisa dihitung sebagai ketidaksengajaan. Jadi apa yang membawa saya pada jalur hidup sebagai “pedagang cangkeman” seperti sekarang?

Bukti-bukti memberatkan saya, betapapun saya tak ingin mengakui, bahwa saya selalu menjajakan ini-itu di setiap kesempatan. Pertama, kerja yang saya lakoni, baik magang atau bukan, selalu terkait dengan unsur penjualan: entah kaos, informasi, citra atau apapun yang bisa dijual-beli. Lalu…ini yang paling terasa, saya selalu mempromosikan sesuatu. Tembok akun FB saya selalu dipenuhi dengan link mengarah pada sesuatu yang saya anggap “menarik” atau “lucu”

Padahal nih yaa…saya tidak digaji atau dibayar untuk itu! Nah!

Ada teman mengadakan event, saya bantu sebarkan. Ada makanan enak dicoba tapi warungnya sepi, saya promosikan dengan mengajak teman berbeda-beda mencicipi. Saya tidak pernah menuntut balik dipromosikan atau “dilarisi” (apapun yang saya jual) hehehe…tapi sepertinya promosi sudah jadi sifat alami. Saya ingin yang belum tahu jadi tahu tentang apa yang saya tahu yang saya anggap menarik bagi mereka (ini adalah bentuk kalimat majemuk super tingkat yaa) :D

Singkatnya, saya terlahir sebagai tukang jualan. Natural born marketer.

Apa kontribusi orang-orang seperti saya bagi dunia? Banyak. (Biarkan saya merasa senang yaaa) Kalau ternyata saya memang berbakat membujuk dan mengajak orang hingga mereka sukarela melakukan sesuatu…itu manfaatnya. Anda semacam ketemu Endorser Gratis kalau bertemu orang-orang seperti saya. Kalau saya menilai apa yang anda bawa berkualitas adanya…tak perlu khawatir, saya pasti akan menceritakannya kepada lainnya.

Sayangnya, ilmu semacam ini tak banyak berguna pada jenis pekerjaan “berjualan” yang sesungguhnya. Kenapa begitu? Kok bisa? Bukannya bos/calon bos kamu justru bahagia kamu yang tidak pernah berhenti promosi bekerja menjualkan dagangannya?

Itu masalahnya.

Saya akan dianggap tidak tulus dan tidak dapat dipercaya hanya karena sayalah yang bertanggung jawab dan digaji untuk promosi hal yang saya tawarkan. Coba, apa yang anda pikirkan saat seorang SPG sabun cuci piring mengatakan produknya bagus? “Ya iyalah situ bilang bagus, kan situ yang jualan” :D Begitulah. Manusia itu makhluk aneh.

Jaman sekarang..orang lebih bisa membuat barang daripada menjualnya. Persaingan membuat para bos mengetatkan pengeluaran dan menetapkan target berlebihan. Pantes aja kalau sales/marketing/AE…you name it, adalah profesi yang paling sering kosong lowongannya di bursa tenaga kerja. Para calon pekerja malas berhadapan dengan target muluk dan tantangan menjual barang. Pikiran semacam “Mana mungkin laku?” “Susah nih, targetnya ketinggian” “Mana ada jualan cepet laku, kudu dari nol dulu laah!” adalah beberapa yang paling sering mampir. (Para bos..cobak ini didenger) :D

Maka saya usul, daripada menggaji para sales dan marketing yang terkadang terlalu menekan sebab mereka sendiri ditekan (oleh target). Lebih baik mereka yang memiliki keyakinan barang atau jasa yang mereka tawarkan baik adanya…melobi dan mendekati NBM-NBM seperti saya (tanpa terlihat promosi sama sekali) dan membuat saya membuka suara untuk mempromosikan jualan anda. Susah? Pakai strategi donk!

Saya sendiri tidak menyukai target berlebihan. Itu beban. Sungguhan lho ini yaaa…kalau buat target mbok yang masuk akal. Misalnya saja ya, perusahaan motor menargetkan penjualan meningkat. Halooo…semua orang sudah punya motor..memangnya tidak kenal sama yang namanya titik jenuh?? Kalau mau orang beli motor lagi, ya tarik dulu barang-barang keluaran lama dan jual yang baru. Ehm! ini cuma teori asal saya saja. Aslinya saya tidak tahu apa-apa tentang teori menaikkan neraca perusahaan dan mendatangkan keuntungan :D

Demikianlah. Selama para NBM masih bernafas dan masih memiliki sifat “ingin segera mengabarkan”, yakinlah roda perekonomian akan tetap jalan. Hahahahaha!

Jadi, apakah anda sudah mampir ke tulisan-tulisan Elga yang lainnya? *kedip*

picture from here

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s