Bahu Ayah


Mungkin ayah saya takkan bertindak “sok ayah” dengan melarang putrinya menikah. Dia justru pihak yang merecoki agar sang putri segera pergi :D

Sejak saya menulis sesuatu tentang ibu saya, sudah lama saya memendam keinginan menuliskan sesuatu juga tentang ayah saya. Lalu baru teringat lagi karena hari ini adalah “Hari Ayah” alias father’s day.

Bukan latah tentu jika saya ingin bertutur sedikit tentang beliau. Saya hanya kesulitan memilah, manakah bagian yang ingin saya paparkan di antara ribuan kenangan…

Saya memanggil ayah saya dengan sebutan “Papa”. Waktu kanak-kanak dulu, saya tidak terlalu akrab dengannya. Memang ia sering bercanda dan membuat saya tertawa. Tapi mungkin itu karena saya jarang main bersamanya. Seingat saya, papa sering bekerja keluar kota. Pulangnya malam dan biasanya saya tak sempat bertemu dengannya. Kami (Ibu, saya dan kakak) selalu bertiga saja dalam kurun waktu lama. Ibu adalah yang paling cemas menunggu papa pulang, sebab waktu itu papa harus melintasi daerah-daerah desa yang gelap tanpa penerangan cahaya. Kadang ayah terjatuh karena menabrak hewan liar atau anjing lewat. Benar-benar mencemaskan…

Saya ingat bahwa papa orang yang cukup keras…terutama pada kakak laki-laki saya. Sering saya terpaksa menyaksikan drama kakak saya menangis karena tidak bisa menjawab soal waktu diajari ayah. Karena takut dimarahi hal yang sama, saya mengantisipasinya dengan belajar. Tapi papa tidak pernah berlaku sama kerasnya pada saya. Karena anak perempuan? entah…

Tapi di satu ingatan yang samar, saya ingat di suatu malam setelah hujan…

Papa baru pulang dari mengajar (ayah saya seorang guru agama) dan masih separuh kuyup kehujanan. Saya menagih janjinya untuk membelikan saya spidol warna dan buku tulis. Ayah menjanjikannya pada saya sebab ia melihat saya suka mengkliping puisi dan menjiplak gambar dari majalah favorit saya BOBO. Kata ayah waktu itu, akan lebih asyik jika klipingan itu ditempel dalam sebuah buku dan dihias spidol warna-warni. Begitulah.

Ibu berusaha meredam kemauan saya yang keras dengan meyakinkan bahwa masih ada waktu esok hari. Tapi saya tetap ngotot tak mau tahu…well, anak-anak terkadang sangat menyebalkan bukan? Apalagi masalah menagih janji. Kami jagoannya.

Ayah akhirnya menyerah dan berganti baju lalu mengantar saya ke toko buku. Malam itu juga. Baru saya bisa tidur dengan nyenyak dan bahagia (egoisnyaaa!!!)

Ada sebuah kebiasaan di keluarga kami untuk jalan-jalan. Termasuk beberapa ssaat menjelang tidur. Ayah dan Ibu kerap mengajak kami, berempat naik motor honda lama ayah, berkeliling sebentar saat malam. Kata papa kami, anak-anak, lebih cepat tidur jika sudah diajak jalan-jalan.

di balik punggung papa…

Suatu malam, ayah tidak mengajak saya jalan-jalan, tapi memanggul saya di bahu dan menggendong saya keluar rumah. Saat kecil rumah saya adalah satu-satunya rumah di tengah sawah. Benar-benar “mewah” a.k.a mefet sawah :P

Entah hanya membayangkan, atau teringat acara “Ria Canda” di TVRI tentang punakawan, saya melihat sosok Gareng berdiri di tengah kegelapan dengan memunggungkan tangan di belakang dan menyilangkan kaki sembari berdiri. Waktu itu saya tak berpikir apa-apa, hanya bertanya, “Pa, itu apa?” Ayah saya hanya berbalik lalu mengusap punggung saya sambil berkata, “Tidak ada apa-apa…” lalu saya tertidur di bahunya.

Saya tumbuh sebagai Daddy’s Girl atau anak perempuan yang lebih akrab dengan ayahnya. Apakah kebanyakan juga begitu? Tidak tahu juga ya…

Saat kuliah, inilah masa-masa saya paling merepotkan dan menyusahkan ayah saya dibanding masa sekolah. Apa boleh buat? Saat SMA meski tinggal jauh dari orang tua, setidaknya saya tinggal di asrama. Ada suster-suster yang menjaga kalau ada apa-apa. Tapi saat kuliah dan harus tinggal di kos, lain cerita.

Suatu kali sepulang dari naik gunung di Jawa Barat, saya mengalami demam tinggi. Saya minumi paracetamol tidak mempan. Karena sudah memiliki tiket pulang ke Jogja, saya paksakan pulang sesuai jadwal. Pikir saya, “ah, istirahat di Jogja saja.” Ayah dan Ibu tahu saya sakit dan memaksa saya ke dokter tapi saya menolak dengan alasan ini hanya demam biasa. Tapi, setelah 2-3 hari, demam saya tak kunjung reda. Malam hari saya menggigil, jalan saya sempoyongan-miring. Saya tak kuat lagi mencari makan di luar sehingga hanya termos pemanas air saya dekatkan beserta beberapa bungkus sereal.

Benar-benar neraka sebab saya ternyata mual-mual juga. Kepala sangat berat dan badan saya kehilangan tenaga. Waktu itu ibu menawarkan dirinya atau papa untuk datang ke Jogja, dan saya tolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. Tapi pada satu titik, saya seperti ingin mendapat pertolongan. Akhirnya saya kirim sandek pada ibu, “Ma, boleh enggak kalau papa datang ke Jogja?

Hari itu juga beliau berangkat ke Jogja.

Malam-malam (atau menjelang pagi, saya lupa) seseorang muncul di kamar saya seperti dipanggil dari mimpi. “Papa sudah datang. Saya selamat!” pikir saya. Dengan segera beliau menyiapkan pakaian saya dan mengantar saya ke rumah sakit. Benar saja…ternyata saya terserang Demam Berdarah. Terlambat sedikit saja mungkin saya sudah tak bernyawa (mengingat sudah berapa lama saya terkapar lemas dan tak bertenaga).

Untung papa datang!

Dan bagaimana ayah sampai begitu pagi di kos saya? Ia berjalan kaki dari Jembatan Janti ke kos saya di daerah Demangan. Ia datang terlalu larut hingga tak ada kendaraan lagi..dan ia pun..berjalan kaki. Saya berhutang untuk itu.

Saya berhutang cinta yang sangat besar padanya.

Kini Ayah saya tak lagi terlalu sering ke Jogja. Saya sudah (dan seharusnya) bisa menjaga diri sendiri. Tapi beliau masih tidak tega kalau saya pulang naik bus putus-sambung dan kadang menjemput saya di tengah rute, dan selalu mengantar saya sampai perhentian pertama saat akan kembali ke Jogja. Perbincangan kami makin sedikit dan terkadang kami sering beradu argumen. Sebabnya sih mudah saja, kami terlahir dalam naungan bintang yang sama dan sama-sama keras kepala. Apalagi ia memiliki keingintahuan yang sama besarnya dengan saya..kadang-kadang merepotkan menjawab semua pertanyaannya (padahal dulu saya juga menghujaninya dengan pertanyaan).

Kadang saya termakan drama dalam manga atau komik yang melihat sang ayah sebagai pengidap daughter complex. Ia akan mengancam atau galak terhadap pria manapun yang mendekati putrinya :D. Sayangnya, yang satu ini tidak masuk hitungan. Ia takkan mengatakan, “hadapi dulu aku kalau ingin mengambil anakku.” Mungkin ayah saya takkan bertindak “sok ayah” dengan melarang putrinya menikah. Dia justru pihak yang merecoki agar sang putri segera pergi :D Saya ingat anjurannya terakhir kali, “cepat punya pacar sana toh dik, biar papa gak usah ngurusi kamu lagi” :D Hahaha! Dikira cari pacar itu gampang? Apakah ada yang dilarang ortunya pacaran? mau tidak tukar dengan bapak saya? hehehe!

Tapi di kala merindukannya, merasa bersalah padanya, tiba-tiba ingin berbincang dengannya, atau mendengar lelucon konyolnya, saya selalu ingat bahu papa. Bahu itu besar, melindungi saya dari terpaan angin dan memberikan saya perlindungan dari dunia. Saya sesekali berharap bisa kembali menyandarkan pipi dan merasakan kedamaian di sana…

Terkadang saya benar-benar rindu duduk di bahu bidang itu sekali lagi…

Selamat hari ayah…Pa..

All pictures is taken from here

4 thoughts on “Bahu Ayah

    • hmm…anak perempuan selalu terlahir lebih beruntung kalau terkait relasi orangtua-anak (bener gak sih?) :D soalnya sepengamatan saya, anak cowok diharapkan lebih tegar dan bertanggung jawab. Dan kadang hal itu dengan cara bersikap tidak terlalu terbuka pada perasaan lalu hubungan dengan ayahnya jadi kaku. Jadi perempuan sampai sekarang dianggap lebih bebas untuk mengutarakan perasaan dan berlari memeluk kalau ketemu orang tuanya :P

      Tapi, jauh di dalam hati…

      orang tua itu (ayah dan ibu) sama sayangnya, sama berdoa yang terbaik, sama berjuang dan berkorban untuk anak-anaknya..tidak peduli laki-laki atau perempuan :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s