Edisi galau: Banjir kenangan (1)


…ada kalanya, ketika ketahanan mental saya sedang menurunkan kadar kewaspadaan, saya membiarkan ingatan-ingatan itu bertebaran

Seseorang mengatakan bahwa biarkan masa lalu menjadi sesuatu yang telah berlalu. Lewat. Sudah. Selesai. Tak perlu diingat-ingat lagi apalagi untuk disesali. Tapi saya rasa, yang ia maksudkan adalah jenis yang menyakitkan. Jenis yang membuat perasaan tak terdeskripsikan. Campur. Baur. Menyesakkan.

Tapi bagaimana jika ingatan yang datang banjir dengan muatan kenangan?

Apa yang sudah terjadi di masa lalu memang tak mudah diubah, cenderung mustahil malah. Tapi kalau diingat sesekali…apakah akan jadi masalah? “Jangan mau ditarik oleh masa lalu, harus dilawan. Masa lalu kan sudah final, tidak bisa diapa-apakan lagi“, kata orang itu.

Benar…selama ini saya melawan habis-habisan setiap terkenang sesuatu yang menyakitkan atau meresahkan. Saya tidak ingin membuat diri saya melankolis dengan memikirkan hal-hal yang sudah terlanjur terjadi dan tak bisa saya perbaiki atau raih kembali. Percuma dan jelas sia-sia.

Tapi ada kalanya, ketika ketahanan mental saya sedang menurunkan kadar kewaspadaan, saya membiarkan ingatan-ingatan itu bertebaran. Mereka terlanjur berjejalan dan memaksa dikeluarkan. Maka kadang-kadang saya jabarkan dan saya bentangkan seolah-olah ingatan itu serupa cucian yang harus saya rapikan.

Saya bongkar, pilah-pilah, dan saya coba menata ulang.

Sama seperti melihat album foto sewaktu membereskan ruangan, kita berhenti sebentar untuk melihat foto-foto itu satu per satu. Kadang kerjaan menyapu atau mengelapnya diabaikan (Dasar males!) :D Karena keasyikan, foto yang sebenarnya bukan waktunya dilihat ulang saat itu justru diamati dan dipandang lagi.

Berorientasi pada masa lalu. Itu kata guru Sejarah Budaya suatu waktu.

Saya lupa kami sedang membahas apa ketika itu, tapi satu frase kalimat itu begitu kuat terikat di sudut ingatan saya. Hmm…saya tahu saya tidak begitu. Saya tidak melakukan sesuatu dengan melulu melihat masa lalu. Masa lalu itu sesungguhnya bukan suatu hal yang perlu.

Bagi saya, fungsi dari masa lalu sebatas memperkaya pengalaman dan membentuk kebijaksanaan. Tanpa masa lalu takkan ada kita yang berdiri di sini. Tapi memang tak seharusnya masa lalu mendefinisikan dan menentukan apa yang harus kita kerjakan, apalagi rasakan. Toh, ditunggu sebentar apa yang saya rasakan sekarang tiba-tiba berubah jadi bentuk lampau.

Memangnya untuk disebut masa lalu itu perlu ada batasan waktu? Selama apa? sejam, sehari, seminggu, setahun, satu dekade? Buat saya…kemarin saja sudah bisa dikatakan masa lalu. Tapi mungkin juga rentang waktu masa lalu adalah satu hitungan yang cukup lama…

Mengingat-ingat rasa.

Kadang apa yang ingin saya lakukan, dan yang saya jadikan alasan pembenaran tindakan pembiaran banjir kenangan itu, hanyalah seperti membuka album foto. Saya cuma “merasa perlu” mengingat kembali seperti apa rasanya begini atau rasanya begitu. Perasaan yang begitu kuat karena terbentuk pada satu kejadian dan – kebetulan saja -sudah berlalu. Sehingga, untuk merasakan hal semacam itu sampai perlu membuka arsip lampau. Misalnya saja, perasaan puas atas suatu kesuksesan, perasaan bangga karena menerima pujian, perasaan berbunga karena jatuh cinta, dan kenangan ketika merasa bahagia…

Apa yang tadinya dikira kotak pandora berisi kenangan – yang kalau dibuka jadi malapetaka – justru diperlakukan seolah bank data. Ketika dibuka, saya hanya akan mengambil sejumlah perasaan tertentu untuk dijadikan alat tukar pada perasaan yang tidak saya punyai saat ini. Karena, saat kita tak punya uang (cth: nominal tertentu) dan kita tahu kita punya dan bisa mengambilnya dari rekening pribadi, maka tak ada salahnya simpanan uang itu dipakai untuk menutupi kebutuhan saat ini. Nanti ditabung atau dikembalikan lagi ketika keadaan sudah memungkinkan.

Eh? Kalau begitu, kenangan itu serupa investasi? Yah..mungkin. Benda berharga yang sebetulnya tak memiliki nilai investasi saja bisa disimpan dalam safe-deposit box bukan? Bebas.

Simpanan kenangan yang memuat perasaan..inginnya sih ditahan saja dan tidak dikembalikan. Tapi bagaimanapun itu adalah hutang bukan? Kalau sampai kita memerlukannya, berarti sesungguhnya kita tidak atau belum memilikinya. Kalau sudah punya, tak perlu mencari-carinya di sudut-sudut masa lalu. Jangan sampai hutang tak dibayar lunas.

Ah, andai saja sistem pengaturan perasaan bekerja baik adanya, pinjaman tadi bisa segera dikembalikan lalu melangkah lagi ke depan. Demikian.

 

 

Entah kenapa merasa kewalahan,

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s