Berpisah dengan bulan Juni


Juni adalah bulan yang spesial untuk saya, dan karenanya…melepas ia berlalu terasa sedikit pilu.

Perasaan terikat dengan bulan Juni mungkin dialasi fakta bahwa saya lahir di bulan ini. Mungkin juga karena sepotong sajak dari Sapardi “Hujuan Bulan Juni” berikut ini:

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni | dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni | dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni |dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1994

anda bisa mendengar musikalisasi puisinya disini

Percaya atau tidak, di waktu seharusnya matahari bersinar terik sepanjang waktu, hujan sungguh mengguyur saya di bulan Juni. Meski hanya sebentar. Meski cuma numpang lewat membasah-kuyupkan wajah. :D

Juni, apakah kita bisa bertemu lagi? Mungkin akan kubiarkan sebelas bulan melewatiku hingga tiba lagi pada giliranmu. Ketika itu, akankah kau membawa kejutan untukku yang selalu menunggumu?

Sampai jumpa lagi bulan Juni…

Jogja, saat 30 Juni dan rasanya berat berhadapan dengan Juli

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s