Menikmati “roti” bikinan Dee


Sial. Lagi-lagi saya kena “racun” kata-kata Dee. Begitu mengena ke ulu hati.

 

 

 

Saya suka roti. Saya suka Dewi Lestari a.k.a Dee.

Lalu, apa hubungannya? Apa sekarang Dee buka toko roti? Saya berharap begitu, sayang kenyataannya tidak. Dee tidak buka toko roti. Padahal kalau keahliannya menguleni adonan roti sebaik keahliannya menguleni kata hingga jadi karya…wah, pasti enak! Nyamm!

Nah, ini adalah tentang MADRE karya terbaru Dee yang baru saja diluncurkan beberapa waktu ini. Saya mengamati kehebohan pra-peluncurannya via Twitter. Sangat ditunggu. Saya pun ikutan menunggu. Mirip calon Maba (mahasiswa baru) melihat papan pengumuman ujian masuk. Wih!

Saya mulai menanyakan ke toko buku besar, kata mereka: belum ada. Ah..bagaimana ini… Lalu, entah bagaimana saya malah mampir ke sebuah toko buku diskonan, ehh..tumpukan Madre dijajar dalam kereta dorong. Sip, ambil satu!

Saya membawa pulang Madre dalam keadaan tersampul rapi dan langsung saya bubuhi tandatangan (punya saya tentu :D) plus tanggal pembelian sesuai tradisi. Anda juga begitu bukan?

Tapi buku ini tidak langsung saya baca. Saya simpan hingga menunggu waktu tepat untuk menikmatinya. Kira-kira mirip perasaan yang ingin menikmati sekaleng bir dingin saat istirahat melepas penat. Mungkin begitu.

Tidak seperti perkiraan saya, Madre yang tebalnya hanya 176 halaman itu bukanlah sebuah novel utuh melainkan kumpulan cerita. Hanya cerita yang seperti apa, saya tidak tahu. Tapi tetap ingin baca.

Saya menggemari karya Dee sejak dulu, terutama Supernova-Akar dan Filosofi Kopi. Perahu Kertas pun sebetulnya saya suka, namun saya tempatkan dalam deretan terakhir karya Dee yang paling saya suka sebab ceritanya agak terlalu panjang untuk penyelesaian yang entah kenapa berakhir klise di benak saya. Kalau dipikir sekarang, ternyata wajar saja..karya itu merupakan kategori peruntukan remaja alias teenlit ternyata. oalahh..

Madre ini, menurut promosi penulisnya akan bercerita tentang makanan. Yang tak disangka-sangka, ceritanya adalah tentang biang roti alias semacam ragi untuk adonan roti. RESEP RAHASIA toko bakeri! Olala! Kalau ini saya suka! Sebab saya menggemari aneka roti sampai-sampai mencari di internet untuk mengetahui bentuk dari nama-nama roti yang aneh: Crumpet, Baguette, Bagel, Croissant, Madeline, Pound Cake dan banyak lainnya. Saya ini penggemar komik masak-memasak juga. Apalagi kalau sensei pengarangnya bisa menggambarkan rotinya dengan sangat detil dan lezat! sluurrp!

Nah, dengan alasan ini-itu, saya belum sempat buka apalagi membacanya. Madre saya letakkan begitu saja di meja kamar hingga…di suatu dini hari mata saya masih nyalang terbuka. Dengan maksud menenangkan diri supaya mengantuk, saya mengambil Madre dari meja dan mulai membuka halaman pertama: kalimat pengantar sang editor buku Sitok Srengenge. Ia memuji kelebihan karya Dee dengan sangat rendah hati namun memang harus diakui kepiawaian Dee dalam bercerita: kaya rasa, kaya makna. “Jangan percaya, buktikan sendiri“, begitu katanya.

Wow. Baiklah.

Niat semula memejamkan mata gagal total. Saya malah terjaga sepenuhnya. Menghabiskan rangkaian kata Dee yang sederhana dengan tokoh yang sebetulnya tidak terlalu rumit. Tansen, misalnya, si tokoh utama ini adalah surfer Bali berdarah campuran antara India dan Sunda. Tiap minggu harus nulis blog sebagai upaya meditasi dan merasa hidupnya bebas sepenuhnya.

Sampai ia mendapat warisan dari seorang Cina yang sudah meninggal tanpa kenal nama apalagi hubungan keluarga. Begitu saja ia mendapatkan Madre, si ibu biang roti. Dan begitu saja sejarah hidupnya berubah: dia bukan punya cipratan gen Sunda malahan Cina. Lalu ada Mei, perempuan oriental modern yang beritme hidup tinggi. Terlihat serba wah namun ternyata ia memiliki impian tentang roti buatan tangan yang mengharukan.

Semua serba sederhana. Ceritanya sederhana. Tokoh-tokohnya sederhana. Keinginan para tokoh yang sederhana: menghidupkan kembali usaha pembuatan roti legendaris. Perubahan hidup si Tansen yang tadinya tak peduli hingga ia menerjunkan diri dalam dunia roti, Mei yang berambisi meluaskan bakeri ke pasar Asia Tenggara dan ibu-bapak tua eks karyawan toko Tan de Bakker yang hanya ingin mengabdikan diri membuat roti.

Total semuanya cuma 72 halaman. Sampai ketika cerita ini berakhir saya cuma bisa membatin, “Hah? sudah??” lalu “Beneran nih sudah?

Begitulah. Sebetulnya, cerita Madre ini sungguh sederhana. Amat. Sampai saya tidak ingin menuliskan resensi cerita saking pendeknya. Hahaha maafkan saya. Tapi satu kesan yang saya rasakan saat usai membacanya…ahhh. Seperti sehabis mimpi. Yang menyenangkan dan hangat. Saya sempat ketawa, sempat sedikit berlinang air mata. Lalu cerita itu saya ulang lagi, saya baca lagi. Sampai tiga kali.

Dan sebuah kalimat terngiang begitu kuat dari kata-kata Pak Hadi, tokoh yang mengajari Tansen bikin roti, “Sesungguhnya tak ada orang yang sanggup membunuh ibu sendiri

Sial. Lagi-lagi saya kena “racun” kata-kata Dee. Begitu mengena ke ulu hati.

Dee – si jenius perangkai kata

Satu lagi yang saya suka adalah cerita penutup buku ini “Menunggu Layang-layang”. Saya tidak mau cerita ah, silahkan baca sendiri. Kalau biasanya cerita romantis ditulis dari sudut pandang feminin atau perempuan, silahkan rasakan sensasi dari sudut pandang berlawanan yang digunakan Dee dalam cerita ini. Uh..benar-benar meremat perasaan. Saya baca yang terakhir ini…empat kali :D

Dan akhirnya saya tak sadar, jam menunjukkan pukul 5 pagi. Sial! Sial! Sial! Padahal saya harus bangun pagi. Tapi bagaimana harus bangun kalau saya belum tidur?? Sungguh siaaal. Ah, tapi sial yang bahagia dan mengena! Baiklah Dee, kali ini saya jatuh cinta lagi!

Masih terngiang kisah Tansen dan Che :)

2 thoughts on “Menikmati “roti” bikinan Dee

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s