Alienasi gara-gara ponsel beri


meski memiliki ponsel pintar yang berteknologi tinggi dan bisa menghubungkan dunia dalam genggaman…saya tak ingin kesepian atau menyepikan orang lain.

Saya akan berusaha menulis topik ini supaya tidak terdengar sebagai “pembelaan pribadi” karena belum bisa dibuktikan keajegannya hihihihi…

Syahdan, saya memutuskan untuk meningkatkan level ponsel saya. Selama ini saya selalu memakai ponsel low-end alias ponsel-ponsel berharga terjangkau yang tidak neko-neko. Cukuplah untuk mengirim pesan pendek atau menelepon. Lagipula, saya tidak terlalu hoki berjodoh lama dengan ponsel. Sudah 3-4 kali saya berganti ponsel dalam kurun waktu 5 tahun belakangan. Yang kecemplung di toiletlah, yang jatuh di jalanlah, yang ketinggalan di warnetlah, yang hampir hilang karena ketinggalan di POM bensinlah. Singkat kata, saya teledor. Tidak pantas punya ponsel mahal karena dikhawatirkan akan “terjatuh”, “tertinggal”, atau “terlupa” karena keparahan daya ingat dan konsentrasi saya :D

Saya sendiri tidak bermasalah dengan ponsel berjenis murah. Tingkat kegetunan (-jawa) alias kekecewaan yang diakibatkan dari hilangnya ponsel semacam itu bisa dibilang lebih rendah. Meskipun saya benci harus kehilangan nomor-nomor kontak kenalan, teman dan kolega saya. Tapi nyatanya, kalau hilang..ya sudah. Mau apa lagi? Hahahaha cara berpikir yang terlalu menganggap enteng masalah :)

Lalu, datanglah hari dimana saya merasa membutuhkan ponsel yang berkinerja lebih baik. Saya ini tukang corat-coret, maniak agenda dan suka mendadak “gatal” ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba terpikirkan. Belum lagi pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya terus mengikuti perkembangan informasi via internet. Memori penyimpanan dan fasilitas ponsel low-end saya (sedihnya) tidak mendukung ketika saya ingin menyimpan coretan-coretan kata di dalam pesan, terhubung internet, atau (terkadang) ada kalendernya tapi tak bisa dibubuhkan agenda ke dalamnya. Maka, kriteria ponsel baru saya haruslah: memiliki agenda, to-do list, notes, dan browser internet di dalamnya.

Yang saya sadar betul, di masa kini memiliki ponsel semacam itu sebenarnya sudah bukan merupakan barang mewah-mewah sekali. Siapapun bisa beli, asal punya anggaran dananya. Iyalah, tak ada yang melarang misalnya tukang loper koran punya ponsel pintar. Itu uang dia, hak dia membelanjakannya bukan? Begitu pula saya.

Pemandangan macam ini sudah mulai biasa…

Yang tidak saya pahami, pengguna ponsel pintar ini seperti terbagi menjadi kubu-kubu besar. Sebutlah dua kubu yang saling berseteru: pengguna Ponsel Beri dan Ponsel Andro. Di komunitas, di milis, di situs sosial, di situs diskusi mereka saling membela bahwa ponsel yang mereka miliki punya segudang kelebihan dibanding yang lain. Ponsel Andro misalnya, dibilang lebih bersahabat sementara Ponsel Beri hanya mencerminkan gengsi. Hahaha saya sering ketawa sendiri waktu berperan seperti penonton. Padahal masalah utamanya kan paling berkisar antara sistem operasi (OS), kelengkapan fitur, kehandalan kamera dan jaringan operator penyedia sinyal (atau kalau boleh ditambahkan, tingkat ke-happy-an penggunaan :D)

Hingga saya harus memutuskan memilih.

Ketika saya memilih, seolah saya “diwajibkan” untuk menjadi bagian salah satu kubu. Pilihan saya akhirnya jatuh pada sebuah ponsel Beri bertipe tertentu yang saya anggap user-friendly atau ramah pada pengguna. Susunan tombol ketiknya sama dengan ponsel batangan lama saya tapi fiturnya sudah lebih canggih (tentunya). Sedikit melebihi anggaran sebab saya menandatangani perjanjian dengan ayah saya untuk memberikan jatah beberapa bulan sekaligus sembari harus memikirkan bertahan hidup tanpa kiriman beberapa bulan :)

Lalu hal itupun terjadi. Sedikit kehebohan sebenarnya.

Seolah ketika saya terlihat memakai ponsel ini, saya “berkhianat” terhadap beberapa orang dan menjadi alien lalu terbang ke bulan. Sebegitu anehnya saya memiliki ponsel semacam ini. Saya lho ya, kalau orang lain yang pakai entah..

Pertama, ketika saya memilih ponsel Beri, saya dianggap akan menjelma menjadi seorang autis (istilah ini tidak boleh digunakan lagi) ansos. Anti Sosial. Serta-merta dengan memiliki ponsel ini, saya akan menjadi orang yang sibuk dengan teknologi dan mengabaikan kedekatan komunikasi pribadi. Saya tak bisa menyanggah seratus persen, tapi satu hal yang hanya bisa saya pahami: saya sendiri tidak suka diabaikan. Maka meski memiliki ponsel pintar yang berteknologi tinggi dan bisa menghubungkan dunia dalam genggaman…saya tak ingin kesepian atau menyepikan orang lain.

Kalau ada pepatah yang mengatakan tentang Man behind the gun atau Man behind the camera, maka sebetulnya ada juga Man behind the gadget :D Selamanya kesan personal itu terletak pada orang yang menggunakan sebuah alat. Ponsel ya hanyalah sebuah alat untuk berkomunikasi. Kalau pada akhirnya seseorang tidak bisa menyikapi penggunaan sebuah alat semestinya dan menyesuaikan keadaan sekitarnya, apakah salah alatnya? Saya sendiri sering sebal jika diabaikan oleh teman yang sibuk sms atau sedikit-sedikit mengecek ponsel walaupun bukan ponsel Andro ataupun ponsel Beri. Atau mereka yang menerima telepon lama saat tengah bercakap-cakap dengan kita. See?

Kenapa jenis/merek ponsel harus menambah tingkat kekesalan kita karena diabaikan oleh seseorang yang jelas-jelas tidak bisa membagi perhatian pada orang yang ada dan tidak ada?

hiiiyy..serem. Kok saya bilang orang yang tidak ada sih? :D

Jika saya sampai bertindak ekstrim, misalnya menggunakan Ponsel Beri yang sudah saya beli hanya untuk menelepon atau mengirim pesan saya juga rugi. Saya tak perlu melakukannya hanya untuk mematahkan hipotesis bahwa memiliki Ponsel Beri akan mengubah saya menjadi pribadi ansos. Kenyataannya, saya senang memiliki ponsel yang lebih canggih sampai-sampai saya ingin meruwatnya agar jangan sampai hilang :P

Saya menyukai kenyataan bahwa saya bisa menuliskan agenda sebanyak saya mau, menuliskan potongan-potongan kata yang sering mendadak muncul di kepala tanpa harus mengosongkan memori penyimpanan, dan saya suka dengan akses mesin pencarian internet yang memudahkan saya mencari hal-hal yang mendadak terpikirkan. Merasa naik gengsi? tidak juga tuh. Satu-satunya hal yang sedikit mengganggu meskipun sebetulnya tidak perlu adalah: fakta bahwa saya seolah terpisah (atau dipaksa pisah) dari mereka yang masih menggunakan ponsel kurang canggih atau kubu saingan ponsel Beri. Sekali lagi, ini cuma masalah Man behind the gadget saja sebenarnya :) Sangat konyol rasanya jika kita membuat strata sosial berdasarkan benda mati.

Kalau saya terlihat ansos beberapa kali, itu karena saya berusaha menyesuaikan diri dengan kerumitan alat canggih yang kadang justru tidak sederhana dan malah menyusahkan :D. Saya juga tetap sedikit kesepian sebab sahabat saya sudah terpencar-pencar dan memupuk pertemanan baru kadang cukup melelahkan. Apakah ada peneliti kajian budaya populer yang ingin mewawancarai saya sebagai generasi pro teknologi yang maniak terhadap media sosial dan mengabaikan kedekatan personal? Saya lebih suka ditanyai sebagai narasumber pemegang gadget yang (katanya) bergengsi namun lebih memilih mengetik posting blog di warung internet dengan monitor lebar berlayar datar :D

PS: ingatkan saya jika saya sudah mulai melanggar prinsip anti-abaikan ini…janji ya!

Salam nyubi (newbie) dalam teknologi,

2 thoughts on “Alienasi gara-gara ponsel beri

  1. Hmmm… serba salah juga ya punya ponsel pintar.. :) Enjoy your new smart phone ga..
    Me is still happy with my “batangan” cell phone :D

    • Ahahaha begitulah Ratna.
      Tapi lumayan berguna juga lo. Bisa utk membunuh waktu. Tapi kalau ada yg ngasih tablet pc, dg senang hati aku tukar ganti ;D *pengen banget*

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s