Subscribe vs Unsubscribe: Strategi tanpa sakit hati


Permintaan pertemanan mau diterima kok tidak ridho, kalau tidak diterima nanti dikira kita bermasalah sama orangnya.

Meskipun sedang diserang isu penyalahgunaan privasi dan tekanan hebat persaingan dunia sosial media, Facebook (FB) meluncurkan tampilan dan sistem baru yang memudahkan penggunanya melakukan seleksi pertemanan.

Seorang pengguna FB pasti memiliki lebih dari 50 orang dalam daftar teman atau kenalan (hm, tentu saja minus akun-akun palsu ya :P). Di antara sekian ratusan nama, terkadang kita tidak suka mendapati halaman lini masa kita (pinjam istilah Twitter Indonesia nih) dipenuhi status atau kabar dari orang yang tidak begitu kita suka. *Ehh, udah tau gak suka masih di-add ajaaah :P 

Maklum, faktor sungkan atau enak-tidak enak masih kental membudaya. Permintaan pertemanan mau diterima kok tidak ridho, kalau tidak diterima nanti dikira kita bermasalah sama orangnya. Duh, simalakama. Karena ingin terlihat baik-baik saja dengan orang bersangkutan (kecuali yang benar-benar tidak kenal), akhirnya kita terima juga permintaan berteman. Biasanya sih, faktor jumlah mutual friend atau kenalan bersama juga sedikit banyak ada pengaruhnya. Tidak enak juga, masa kenalan yang punya teman-teman yang sama tidak diterima? Ya atau ya? *maksa*

Nah, kembali ke persoalan tampilan dan fitur fasilitas baru Fesbuk ini tadi (disebut dengan lafal Indonesia saja deh biar enak bacanya), kita jadi bisa memilih untuk mengikuti pembaruan dari seseorang atau tidak dengan cara subscribe atau unsubscribe. Fitur keren ini sebetulnya mirip dengan sistem Twitter – follow dan unfollow. Kita bisa menghapus lini masa seseorang tanpa perlu menghapusnya dari daftar teman. Keren kan? Sangat berguna!

Kenapa? Karena dengan tidak menghapusnya dari daftar teman, orang itu takkan tahu bahwa kita “membencinya” atau “tidak suka” membaca status-statusnya yang mengganggu dan menyebalkan tanpa perlu terbongkar. Kalau dihapus dari daftar teman, suatu saat orang itu ingin menulis sesuatu bagi kita, ia akan kaget mendapati dirinya tak lagi bisa mengakses laman kita. Hehehehe mental pengecut yang disahkan. Amaaan! :D

Hal lain yang ditambahkan oleh Fesbuk adalah fasilitas list atau pengelompokan nama-nama orang ke grup yang bisa kita modifikasi. Ini juga meniru model sistem “circle” milik Google+ sebetulnya. Tapi karena Google+ masih sepi dan belum banyak modifikasi dan tidak familiar dan tidak banyak update, saya masih malas mengaksesnya :) *alasan ajaaa*

Sistem list ini lebih canggih daripada cara tradisional sebelumnya yang mengharuskan kita masuk program pengaturan dan menambahkan exception list atau pengecualian daftar orang yang tidak kita perbolehkan melihat status atau unggahan apapun dari kita. Kalau tadi fasilitas subscribe-unsubscribe memberi kuasa untuk menghapus lini masa orang lain, fasilitas group-listing ini memberi kuasa pada kita untuk memilih siapa yang ingin atau tidak ingin kita bagi kabar terbaru.

Kalau ditelaah, munculnya fasilitas-fasilitas ini bukan tanpa alasan. Abaikan dulu faktor persaingan Facebook, Google+ , dan Twitter. Mari kita bicara faktor manusia alias pengguna. Pihak yang membuat permintaan sehingga membuat Facebook sebagai pihak produsen menyediakan jawaban. Secara psikologis (menurut Dr. Elga-non S. Psi), hal ini bisa terjadi karena beragam variasi komunikasi antara manusia. *ceileeeh bahasanyaa..*

Dunia maya itu sebetulnya irisan antara kebohongan atau keaslian dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Di dunia maya, orang bebas memilih menjadi asli atau melepaskan diri. Seorang pemalu bisa jadi liar, seorang pendiam bisa banyak berkomentar, anonim bisa mencaci maki, dan seterusnya. Mereka bilang, sikap-sikap ini disebut sebagai Internet Courage. Keberanian di internet. Karena tidak berhadapan langsung atau bertatap muka, kita bebas mengeluarkan keberanian atau sikap yang biasanya akan kita tutupi atau pendam andai harus berbicara langsung.

Pengecut? Mungkin. Munafik? Bisa jadi. Tapi, kita semua melakukannya. Yap. Anda, saya, mereka, dia, sama semua.

Memangnya tidak pernah sekalipun kita ingin mengkritik dengan keras dan cenderung berapi-api tapi tetap tidak ketahuan bahwa itu suara kita?

Maka, Google+, Twitter, Facebook dan ratusan penyedia layanan sosial media lainnya sebetulnya hanya merespon keinginan pengguna. Orang ingin tidak ketahuan bahwa sesungguhnya mereka benci berteman dengan seseorang? Mereka berikan Circle, List, Unfollow, Unsubscribe, Hide, dan macam-macam. Concealer sempurna penutup noda. Mereka tak perlu tahu perasaan ini. Inilah kenapa Friendster bangkrut (eh, masih gak sih?). Soalnya mereka membuka data bahwa kita sedang memata-matai akun orang lain sih. :D

betapa banyak mereka – social media – sekarang

Apakah saya akan menyarankan tindakan bijaksana semacam wejangan bersikap di dunia maya? Tidak. Soalnya saya juga melakukannya. Biarpun di luar sana masih terjadi perang antara penggemar Facebook dan pembenci Facebook (omong-omong, saya malas juga lho menonton perang kubu FB-Twitter-Google+ atau perang BB-Android-Iphone, sudah kayak perang suku antar sekte!), saya sih senang-senang saja dengan kepraktisan yang ditawarkan. Ibarat pasar, mereka membuat sayuran dan daging terpisah di lapak masing-masing. Kalau ingin mencari daging, saya akan pergi ke “bagian daging”, kalau cari sayuran, saya akan cari di “rak sayuran”.

Mudah.

Saya kan juga terkadang naif-malu-malu. Saya tetap ingin merasa uneg-uneg atau gerutuan saya terekspos tanpa seorangpun tahu. Lah, bagaimana pula itu? Begitulah manusia. Rumit-rumit-gila. Sebetulnya kita ini semacam obyek menarik bagi para ilmuwan sosial media. Mereka mengamati sikap perilaku kita, lalu membuat komoditas yang bisa mereka jual pada kita.

Well, sebetulnya kita ini mungkin punya sepotong bakat jadi selebritis. Ingin diperhatikan sekaligus diabaikan.

Unsubscribe. Subscribe only most important. Unfriend. Done.

*silahkan unsubscribe atau unfollow saya. Saya juga tidak akan tahu. Tapi kita tetap berteman sungguhan kaaan??* #ngarep

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s