Si M


Pagi itu aku mengantar seorang sahabat ke stasiun kereta. Itu adalah pertama kalinya aku mengantarnya ke sebuah perhentian kereta setelah tak bertemu setahun lamanya. Kami sudah berpisah 2 tahun semenjak ia merampungkan studi lebih dulu dariku. Tapi saat itu tak ada perpisahan. Tak ada lambaian tangan atau pelukan.

……

“Mohon perhatian, kereta jurusan … telah tiba di peron..

Sebuah kesadaran menghentak saat pengumuman kedatangan kereta bergema. “Ah, dia pergi…” begitu pikirku. Meski masih separuh mengantuk, hatiku terjaga sepenuhnya. Lalu aku pulang setelah melepasnya melewati gerbang penumpang. Tiba-tiba…entah mengapa air mata lancang keluar. Kami bukannya tak kan bertemu lagi, aku paham itu. Kami akan berjumpa lagi, itu pasti.

Hanya…tak sesering dulu lagi. Ya kan?

Jika dipikir kembali saat ini, ia adalah satu dari sekian orang yang sanggup menoleransi sikap dan perkataan tajamku. Bagiku, ia adalah orang paling naif dan polos yang kukenal. Tapi sekaligus, ia adalah orang yang berhati lurus dan bisa dipastikan maju duluan untuk mengulurkan bantuan.

Bersamanya, aku melakukan banyak kebodohan dan kekonyolan. Kami sering spontan mengikuti dan mendatangi acara-acara yang kami anggap menarik, mendaftar pekerjaan paruh waktu bersama, melakukan kegiatan kampus ini-itu dan juga jalan-jalan. Ia punya gairah hidup tinggi dan ketertarikan pada banyak hal sama sepertiku.  Dan akhirnya, ia juga yang sering menyelamatkanku dari rasa sepi.

Aku ingat satu kali, saat aku patah bahu karena kecelakaan.  Ia mengantarjemput dengan motorku (karena ia tak memiliki kendaraan). Selama masa itu, bisa dibilang kami berusaha saling menguntungkan meski kami sering bertengkar di jalan. Aku sering kesal pada ketidaksabarannya saat menjemputku dan sama sekali tak membantuku. Saat itu aku kesulitan mengenakan baju dengan bahu kiri tak bisa digerakkan dan lengan kananku terbungkus gipsum. Ia hanya menunggu di luar halaman dengan ketidaksabaran yang kentara. Mungkin saja ia kesal karena harus segera melakukan sesuatu tapi terhambat “keharusan” menjemputku yang tak “berlengan”.

Tapi…ia tetap membawakan motorku, menjemputku, dan bersedia menoleransi keluhan-keluhanku.

Aku juga mengenalnya sebagai orang yang tak sungkan menawar harga dan kalau bisa mengirit apa saja. Tapi yah…itu karena keadaannya saat itu. Kali ketika ia datang lagi, ia memaksa untuk membayari semua hal sebab ia adalah orang dengan rasa sungkan yang tinggi. Ia mengatakan dengan bangga padaku betapa ia sekarang bisa mengatur sendiri uangnya dan membeli apa yang ia mau. Aku ikut senang mendengarnya, teringat betapa prihatin dulu ia mengatur kecukupannya.

M punya pembawaan polos dan lurus. Mungkin itu sebabnya banyak orang tak menaruh curiga dan merasakan aura bersahabat keluar darinya. Ia sangat mudah diajak bicara. Bahkan, sekian orang asing bisa dengan mudah bercerita panjang lebar padanya. Cerita yang kemudian akan ia sampaikan padaku dengan semangat dan ketakjuban yang kentara. Kurasa hal itu juga yang membuat kami betah mengobrol 6 jam untuk sebuah acara promosi provider ponsel! Kami betul-betul mengobrol dan memanfaatkan acara itu dengan bergosip khekhekhekhe :D

….

Sebelum ke stasiun kereta itu ia memintaku berhenti di sebuah swalayan, “mau beli cemilan dan minum“, katanya. Lalu kulihat 2 botol besar air mineral di kantung belanjanya. Kutanya untuk apa 2 botol air besar itu, apa dia tidak berat membawanya di perjalanan? Ia hanya mengatakan, “untuk kamu, sebab aku sudah menghabiskan persediaan minummu. Nanti kamu pulang tidak ada yang bisa diminum.”

Hey M, tahukah kamu berapa orang yang peduli aku minum cukup air atau tidak?

Aku juga bukanlah satu-satunya orang yang diperlakukan istimewa olehnya, tapi aku yakin aku memiliki sepotong tempat istimewa di hatinya. Sama seperti keberadaannya, yang telah menyelamatkanku sekian kali dari rasa sepi.

 

Jogja, satu kali…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s