Sepenggal cerita Natal


Natal itu seharusnya bikin rindu. Tapi rindu yang kurasakan pada suasana Natal itu rupanya semakin mengabur dan dangkal. Aku merindukan imej Natal sesuai gambaran drama atau buku cerita: Salju, pohon berhias, kado, peri, dan semacam-itu.

Maka ketika makin dewasa, Natal ideal tak kutemui di sekitarku. Aku perlahan menonton televisi, berharap mereka memutar film-film bertema Natal. Yang hangat, yang mengharu-biru, yang menyenangkan dan indah. Yang bisa membuatku bermimpi. Natal yang kebarat-baratan sekali, Natal yang dialami oleh negara dengan empat musim. Tapi entah kenapa sekarang makin jarang juga ya?

Lalu kilasan-kilasan Natalku berkelebat di ingatan. Natalku. Natal yang tidak ideal…

————

Dulu, pohon Natal sungguh langka untukku. Tidak seperti sekarang, yang harga versi mininya mampu kubeli sendiri. Dulu, tak ada pertokoan memajang hiasan semacam itu semegah sekarang. Apalagi di kotaku. Kota kecil yang tak mengakomodasi suasana Natal. Aku begitu ingin menghias pohon Natal itu, lalu ayah mengatakan ia sedang membuatkan sebuah untukku. Waaah! Badan ini sampai girang tak karuan. Membayangkan akan punya pohon Natal sendiri yang bisa kuhias sesuka hati.

Tapi…betapa kecewa aku. Ketika ayah menunjukkan sepotong pohon kemangi kering. Ia bilang akan membersihkannya lalu menaburinya dengan gabus putih yang diparut agar tampak seperti salju. Tapi dasar egoisku, aku marah dan tak mau melihat pohon hasil kreativitas seorang Ayah. Aku tidak mau kalau bukan pohon natal yang hijau dan berbentuk cemara. Aku tak tahu perasaan Ayahku kala itu. Tapi kalau dipikir lagi, mungkin aku harus naik mesin waktu dan membungkam diriku di masa itu agar tak berkata begitu.

Di lain waktu, Ayah dan Ibu mengatakan mereka sedang membuatkanku puding susu. Dalam kosakataku, puding berarti jelly. Kami tak punya lemari es saat itu. Sungguh, barang elektronik lebih punya gengsi di jaman kecilku. Tak seperti sekarang saat kau berniat beli satu, malah dapat satu. Lalu ayah dan ibu mengatakan sedang membekukan puding itu di termos yang diberi es batu. Mereka orangtua yang banyak akal. Adonan puding itu mereka masukkan plastik es lilin dan dimasukkan dalam termos agar beku. Lagi-lagi egoisku, aku tak mau memakannya karena aku tak suka puding susu. Karena aku ingin jelly, bukan puding susu.

Tapi,

Ada juga saat yang kusetujui dengan senang hati. Adalah saat aku dan kakakku membantu ibuku membuat gua natal dari karung bekas semen dan membuatnya tampak seperti gua sungguhan. Gua yang tak rela kubongkar meski masa Natal telah lama lalu. Kami meletakkan patung-patung replika domba dan gembala di gua itu, menaruh jerami kering yang kucuri dari sawah belakang dan mengecat pinggir-pinggir kemasan semen itu dengan cat sisa hijau, hitam, biru.

——————-

Sekarang, aku telah lama berkubang pada realita. Meski kami tak lagi sempat menghias pohon, gua dan semacamnya. Aku kadang memikirkan hal-hal itu sebagai pengingat. Bahwa aku diperlakukan istimewa seumur hidup oleh orang tuaku. Saat ini aku belum bertemu Natal idealku. Hanya kadang-kadang terhanyut rindu yang dibangkitkan lagu-lagu. Sungguh hebat para pencipta lagu natal itu, pikirku. Mereka memikirkan apa ya sembari menyusun nada dan irama yang hangat dan bertahan sepanjang masa?

Jadi, meskipun dangkal dan nyaris hanya kurayakan di permukaan….aku juga terus mendoakan kebahagiaan, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh makhluk di bumi.

Selamat Natal semuanya!

One thought on “Sepenggal cerita Natal

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s