Pagi terakhir


Jam berapa ini?

Ah..rupanya sudah pagi. Kukira aku terbangun, tapi tidak. Kurasa aku belum sempat terpejam dan menyerahkan badan pada mimpi. Belum.

Sekujur badan didera lelah. Aku melampaui batas ketahanan pada perjalanan yang sanggup dicapai tubuhku. Seharusnya aku tak perlu kembali. Tepatnya, aku mencari-cari alasan. Untuk menunda pergi.

Bingung, setengah terhuyung kutatap tembok ungu kamarku ini. Bukan warna kesukaanku tentu. Aku takkan pernah mengecat dinding kediamanku dengan warna ungu. Apalagi ungu kamar ini dipadu merah jambu yang tak serasi. Norak sekali.

Andai aku punya lebihan waktu, akan kuamplas dinding norak ini dan kubilas warna yang kusuka. Tapi percuma.

Kamar ini kupilih karena aku tahu takkan cukup punya waktu. Ini bukan kamar yang menemaniku di 4 tahun awal masa peralihan. Yang kucat dengan dinding hijau gradasi dan luasan yang menyenangkan. Aku menyukainya. Kamar hijau yang menemaniku memandang hujan di kebun belakang tetangga dari teralis jendelaku.

Bukan pula kamar kecil tersembunyi lapis-lapis pintu yang membuatku lelah membuka sebelum beralih ke kamar berikut yang berada di antara petak-petak ramai.

Bukan juga kamar keempat yang berseberangan dengan sahabat-sahabat. Sebelum akhirnya mereka pergi hingga suasana tak lagi hangat.

Tapi aku masih ada. Masih utuh dan menjalani hari seolah mimpi. Seolah pikiranku berhasil dimanipulasi.

Aku akan pergi. Tak apa..nanti pasti bisa kembali.

Jogja, 30 April 12 dini hari

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s