Abaikan atau Teruskan?


Hi there, pasti pernah terima Broadcast Message (BM) alias pesan massal atau SPAM melalui ponsel atau email, kan? Teknologi masa kini benar-benar memanjakan proses komunikasi ya? Menebas jarak, memintas waktu. Nyaris tidak bayar pula! Yah, setidaknya tak semahal kolom iklan majalah atau durasi televisi.Pesan massal memudahkan kirim info untuk banyak orang sekaligus. Caranya? Gampang. Cukup buat pesan singkat, padat dan menggigit lalu centang opsi “kirim ke banyak” atau masukkan alamat surel sebanyak mungkin di kolom “penerima”, klik “kirim” dan dalam hitungan detik mereka yang terpencar di berbagai sudut Indonesia atau dunia bisa terima pesan kita. Mudah sekali! Takjub saya dengan evolusi komunikasi dalam 10 tahun terakhir ini!

Hanya saja, sejak menjadi pengguna ponsel beri dan pengguna aktif media sosial Twitter dan FB, saya jadi lebih awas sekaligus prihatin. Berbeda dengan layanan email (gmail, yahoo, dll) yang  diibaratkan kotak pos cerdas, fitur broadcast message di ponsel, twitter dan FB tak punya aplikasi saringan yang bisa menyortirkan pesan. Mau tak mau, semua pesan dan juga kicauan di lini masa akan sampai pada kita alias terbaca. Apa pernah FB, Twitter dan BBM kalian bertanya dulu, “maaf mbak/mas, ini ada surat. Apakah mau diterima?” Memangnya tukang pos? Mereka cuma sejenis loper koran yang asal buang ke halaman pelanggan. Padahal ya, info-info massal itu biasanya seputar jualan atau lucu-lucuan. Dan itu harus menyita waktu kita yang tak sengaja membaca. Haduh…

Kalau saya, kadang pesan semacam itu saya baca dan cermati isinya. Kalau hanya “coba deh, kirim ke semua kontak termasuk aku, lalu…” ah, hapus! Selesai. Teman saya lebih ekstrim, begitu lihat warna teks yang ungu itu (ciri pesan BM) langsung dia tekan tombol hapus tanpa mengintip sedikitpun. Begitupun FB atau twitter. Tinggal keluar dari percakapan atau abaikan.

 Eh, abaikan? Kenapa? Bagaimana kalau isi pesannya penting? NAH! ITU! Kita bahas yuk!

Pesan massal pada dasarnya dibuat untuk mengakomodasi keperluan untuk menyampaikan informasi yang sifatnya penting, mendesak atau perlu diketahui banyak orang. Contohnya, bantuan donor darah atau pencarian orang hilang, bisa juga info penting seperti berita duka, situasi keamanan dan semacamnya. SAYANGNYA, sekali lagi, sayangnya, fasilitas ini juga banyak dimanfaatkan untuk mengakomodasi kebutuhan iseng! Penyebaran hoax (kabar tak benar) tentang foto korban kecelakaan? Penyebaran info menakutkan tak berdasar atau butuh bantuan tapi tak jelas pangkal? Kita yang tidak ingin dapat info semacam itu juga tak bisa steril dari jangkauan keisengan itu. Tapi kalau semua orang malas terima kok hal itu merajalela? Iya, soalnya kalau merajalele itu beras. *krik*

Seperti yang sudah sering sekali dibahas baik oleh pakar ataupun macam saya yang awam, ada banyak alasan kenapa orang berpartisipasi untuk meneruskan pesan massal demikian. Kalau buat saya pribadi, saya akan meneruskan sebuah pesan ke banyak orang lain jika:

  1. Pesan itu sifatnya penting dan mendesak: kabar duka, butuh pertolongan, dan semacamnya. Hanya yang sungguh-sungguh penting dan memiliki keterangan verifikasi yang jelas (CP, alamat, dll)
  1. Pesan itu informatif dan berguna. Contohnya, info konser atau pertunjukkan atau gratisan (nah lo). Saya dengan senang hati akan bantu menyebarkan NAMUN saya pilih juga target sebarannya. Tidak main “centang semua” atau “kirim ke banyak sekaligus” dong. Selektif!

Masalahnya, poin selektif itu sering dilupakan banyak orang. Alasannya? Repot. Ribet. Tidak praktis. Malas ah, dan banyak lagi tapi tetap intinya: Malas. Hehehe. Lebih mudah satu kali “centang semua” lalu “kirim” daripada memilih target sasaran yang sesuai bukan?

Dari tadi tentang BM melulu, FB sama twitter hubungannya apa? Ada dong. FB punya fasilitas “share/bagi” kan? Twitter punya “RT alias ReTweet” kan? Sama saja. Kalau info apapun tak disaring oleh nalar awam kita tapi langsung dibagi begitu saja, kita punya andil atas penyebaran informasi itu lho. Main ReTweet tentang gempa atau adanya tsunami, dibaca 100 follower saja apa tidak bikin panik? Share foto seram di FB atau info butuh pertolongan tapi tidak dicek dulu betul tidaknya apa tidak bikin masalah?

Let’s say, saya ini termasuk bagian orang-orang yang konservatif dan lamban. Apa-apa maunya jelas dulu baru dibantu. Apakah saya salah? Coba anda bayangkan, sebagai pemilik golongan darah B (misalnya) lalu melihat sekian banyak RT twitter yang butuh donor B sekaligus menerima BM tentang kebutuhan yang sama, apa yang anda rasakan? Kalau saya, desakan rasa bersalah sekaligus gelisah. Bersalah karena rasanya seperti melihat ada perampokan di depan mata tapi tak bisa apa-apa. Gelisah karena merasa tak sanggup menangani semua. Walaupun tak bisa membantu langsung, saya merasa punya tanggung jawab “ikut mencarikan” dan itu rasanya tak cukup hanya dengan “teruskan” atau kirim pesan itu ke banyak orang seperti melempar tanggung jawab. Hal ini paling sering terjadi untuk permintaan donor darah yang sifatnya mendesak. Saya paham, dengan metode “gebyah uyah” alias tebar umpan sebanyak mungkin itu, kita berharap setidaknya ada sebagian kecil orang yang muncul dan memenuhi kuota.

Tapi apakah sulit jika kita bantu dengan mengantarkan pesan itu ke orang-orang yang memang kita tahu punya kemampuan membantu? Contohnya, saya teruskan langsung ke orang-orang dengan golongan darah yang dibutuhkan dan saya tambahkan keterangan bahwa yang meminta adalah seseorang yang saya kenal atau orang yang teman saya kenal dan betul-betul butuh bantuan. Saya tidak bisa bantu, tapi saya tidak ingin ikut menebar gelisah dan bersalah pada orang lain.Kecuali, tentu saja, rasanya hanya seperti membaca iklan baris lalu mengopernya ke pembaca sebelah supaya dia bisa mengopernya lagi. Lalu dilupakan. Toh, sudah dioper. Semoga ada yang baca lalu mengajukan diri. Hmm…rasanya kok…

Kalau misalnya hal terakhir itu sudah jadi kebiasaan, masih belum terlambat sih, untuk sedikit mengerem jari-jari yang ingin langsung memencet “teruskan” atau “kirim ke banyak.” Dibaca dulu, ditanyakan dulu, lalu kirimkan ke orang yang kira-kira perlu atau bisa bantu. Malah kalau bisa personal lebih baik lagi, bisa sambil silahturahmi. Undangan kawinan saja dulu diantar satu-satu, masa sekarang mau dipasang di ujung jalan? Iya kan? Supaya, kita tidak berteman cuma untuk jadi target sasaran pesan masal.

Hehehe semoga setelah ini pada ngerasa. Saya sakit hati nih, diajak berteman tapi bukannya sapaan malah selalu pesan massal yang saya dapatkan. :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s