Kalau kamu harus tinggal di Ibukota (#1)


Setelah penyangkalan setahun, akhirnya saya menerima kenyataan bahwa saya harus menjajal kerja di Ibukota. Kenapa? Pertama, meski cinta mati sama Jogja, saya tetap tak bisa menutup mata bahwa selalu akan ada rasa penasaran bagaimana rasanya kerja dengan dinamika Ibukota…Kedua, sarang media (sayangnya) masih terpusat di Ibukota. Ketiga (kalau yang ini saya dapat keyakinan entah darimana), saya percaya kalau bisa bertahan hidup di Ibukota Indonesia tercinta, saya juga akan bisa bertahan hidup dalam situasi terburuk sekalipun. Hah? Bukannya di Jakarta semua tersedia? Betul. Termasuk kebutuhan hidup untuk mendapatkannya beserta semua sisi gelap kehidupan kota besar pada umumnya. Lengkap.

Saya dulu (sekarangpun masih) punya cita-cita ingin melanglang buana ke berbagai penjuru dunia. Maka, mental saya harus dilatih dulu di “Rimba” Ibukota. Tak ada sasana pelatihan lebih baik dari ini. Keempat, saya sudah harus bisa menghidupi diri sendiri. Itu pasti. And the life must go on, and let it begins! Nah, kalau kamu punya nasib sama seperti saya: anak baru Jakarta, kira-kira ini yang bakal kita temui…

1. Bigger is better.

Memang betul biaya hidup di Jakarta tinggi, terutama makanan. Tapiiii…kadang sesuai dengan porsi yang diberikan: ekstraaaa! Saya bisa kenyang sebelum makan hanya dengan lihat porsi makanan yang dihidangkan. Mau capcay, mie, nasi goreng, roti bakar, semua ekstra besar. Wow! Homo Jakartensis rupanya punya lambung seukuran Gelora Bung Karno! Ini yang saya belum terbiasa sampai saat ini. Budhe saya saja sampai mengurangi porsi umum nasi uduk kalau memesankan saya. Itupun kadang masih saya bagi dua. Hahahaha!

2. Ulang tahun di jalanan.

Sering dengar jargon “tua di jalan”, atau “Besar di rantau, tua di jalan”? Hiperbola memang, tapi benar adanya. Kebebasan bepergian saya dirubuhkan habis-habisan di sini. Jika di Jogja saya bisa lala lili naik motor ke 4-5 tempat dalam sehari, sekarang saya harus puas dengan maksimal 2 tempat saja. Itupun dengan kelelahan luar biasa. Mental keluyuran saya terpaksa dihibernasikan sementara. Selain jauh dan lama kemana-mana, biaya transport juga enggak kira-kira. Lets say, kalau bensin Rp 10ribu bisa saya pakai 3 hari di Jogja, dengan nilai yang sama, saya cuma bisa PP rumah-kantor. Berasa? Banget.

3. Pulang sebelum jam 12 malam

Ternyata, dengan ke Ibukota saya bisa jadi Cinderella! Horeeee! *ditimpuk labu* Ehm, maksudnya saya harus berpisah dengan kebiasaan saya kelayapan sampai malam. Pertama, faktor tak punya kendaraan pribadi. Kedua, saya juga harus memikirkan keselamatan diri sendiri. Well, Jogja memang bukannya steril dari kejahatan malam, tapi hati saya lebih tenang di sana meski menembus malam sendirian. Ketiga, suasana malam Ibukota memang tak nyaman. Lebih baik pulang, istirahat, karena esoknya masih harus bertempur dengan macet jalanan.

4. Macet adalah teman

Kalau Lenka suka berteman dengan masalah, kita berteman dengan macet. “Siapa suruh datang Jakarta?” hmmm…ya gak ada sih. Tapi sindiran itu selalu dilontarkan tiap ada keluhan “duh, macet nih” Saya kasih tahu ya, statistik terakhir penduduk Jakarta waktu saya berkunjung 4 tahun lalu sekitar 8-9 jutaan. Sekarang? 10 juta manusia! Itupun yang terdata. Padahal kota ini ya segini aja ukurannya. Masih ketambahan pula 1-2 manusia kayak saya. Tapi saya kan kurus ya, masih bisa nyelempit kemana-mana he…Tapi, dengan statistik 10 juta yang berupa daging, kulit dan massa hidup tadi masih diperparah dengan body besi alias kendaraan pribadi. Gemas juga sih kalau lihat di antara kerumunan hewan besi yang mirip gerombolan sapi itu hanya dikendarai….sendiri!  Iri? So pasti! Eh, maksudnya saya iri karena sama-sama bayar pajak, akses fasilitas publiknya beda sekali. Semoga tak lama lagi mobil seukuran badan jadi pilihan. Toh cuma buat bawa diri dan barang-barang pribadi kan? (mobil keluarga tak masuk kategori)

5. Selalu sisihkan waktu minimal dua jam untuk perjalanan

Percayalah, ini diperlukan. Apapun bisa terjadi dalam perjalanan: Kecelakaan lalu macet, ada demo lalu macet, hujan deras lalu macet. Intinya, semua masalah janjian bersumber pada tersumbatnya arus kendaraan alias macet. Maka dua jam adalah batas waktu yang biasa kita alokasikan untuk kejadian tak diinginkan semacam itu. Kalau ternyata datang kepagian bagaimana? Ya gak papa, disyukuri saja. Walapun ngantuk dan ingin misuh, masih lebih baik daripada terlambat. Saya sendiri kalau berangkat kerja beda 30 menit saja sudah beda hasilnya. Berangkat jam 06.30 sampai kantor 07.30. Berangkat 07.00, sampai kantor 08.30. Lihat bedanya? :D

Daftar ini masih akan terus berlanjut sesuai dengan semangat nyubi saya di Ibukota. Jangan tanya rasanya bagaimana karena nyaris tidak terasa. Tidur tidak terasa tidur, makan tidak terasa makan, waktu terasa mampir saja. Menyesal? Wah, tidak terasa juga. Mungkin benar, saya sudah disulap jadi zombie pekerja. Bisanya tidur-kerja-makan-tidur-kerja-makan-dan seterusnya berulang setiap hari. Curhat nih ceritanya? Iyalah, saya kan suka berbagi kepedihan ke siapa saja. Hahahah!

 

 

Dengan semangat yang mencoba terus dipompa,

 

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s