Kalau kamu harus tinggal di Ibukota (#2)


Saya yakin akan dicibir sebagian penduduk asli Ibukota atau pendatang yang merasa perlu membela. Hahahah soalnya saya datang kesini tak dengan hati rela yang berkata, “Iya, aku mau hidup denganmu selamanya.” *Eh, kawinan apa pindahan sih?* :D Yah, saya berlagak bagai Sherlock Holmes yang mengamati spesies para Homo Jakartensis ini seolah saya bukan bagian dari mereka. Belum. Mereka belum menggigit leher saya soalnya. Jadi, ayoklah kita rasani kota yang dibilang tempat mengejar mimpi ini. Hati-hati, sibuk mengejar mimpi lupa bangun lagi! Khikhikhi…

Kalau kamu harus tinggal di Ibukota, mungkin kita akan bertemu banyak hal. Well, perlu saya tambahkan pula, untuk kelas pekerja, gaji tak seberapa, dan tak punya atap atas nama pribadi alias numpang tinggal seperti saya. Kalau begitu situasinya, kira-kira kita akan bertemu hal-hal seperti:

6. Harus selalu sedia uang receh

Receh yang saya maksud bukan koin Rp 100 atau Rp 500 ya, tapi lebih ke ribuan dan dua ribuan. Kenapa? Karena kita akan bersahabat erat dengan Transjak, Metromini, Kopaja, KRL atau Komilet dan saudara-saudaranya. Kalau tidak kasih uang pas, siap-siap saja mengkalkulasi rugi. Setiap koin Rp 500 yang dikembalikan juga sudah siap berpindah pada tangan yang menadah. Para pengamen, peminta, pengasong betul-betul ada setiap saat. Kalau saat itu kamu lagi berhati Santa, silahkan memberi. Kalau sedang berhawa neraka, siap-siap saja dipukul oleh anak kecil yang memang diajari meminta dengan memelas tapi kalau tidak diberi akan memukul paha.

7. Masker, tissue, dan sumbat telinga. Barang yang wajib ada.

Dengan bertambahnya penduduk dengan hitungan juta, oksigen yang tersedia tak cukup lagi untuk semua. Belum lagi dengan polusi dari kendaraan umum yang tak diservis tahunan atau dari asap rokok orang yang tak berperasaan. Kita perlu masker.

Walaupun tidak banyak efeknya bagi kesehatan secara signifikan, setidaknya ada sugesti bahwa kita sudah mencegah 30% kuman masuk ke badan. Atau merasa bisa memperpanjang usia karena tidak menghirup langsung racun udara. Ya, sah-sah saja kan orang seperti saya merasa masker dan sumbat telinga berguna? Padahal kenyataannya, saya selalu lupa bawa. Kalaupun bawa, saya selalu enggan memakainya. Repot. Mati ya sudahlah. Semoga ada asuransi.

Ahh…tiba-tiba ingin jadi endorser iklan, “Asiknya (merokok) sendiri, sakitnya bagi-bagi”

8. Akhir pekan adalah…anugerah terindah yang pernah kita miliki, huwoooo

Ijinkan saya menyanyi sekalimat lagu Sheila on 7 dengan lipsync suara duta. Yap benar. Dengan rata-rata hari kerja 5 hari seminggu dan kesempatan istirahat akhir pekan seperti perkantoran pada umumnya, memasuki Jumat tiba-tiba hati riang gembira. Sabtu telah tiba! Sabtu telah tibaaa…hatiku gembira! #MendadakTasya

9. Akhir pekan juga adalah duri yang menusuk hati

Kenapa? Karena kesempatan untuk pergi ke luar kota atau pulang ke rumah sesungguhnya ditentukan oleh harga tiket batas atas dan persaingan dengan puluhan ribu pekerja lain tiap minggunya. Pantas lama-lama jadi anak durhaka. Sayang waktu, duit dan badannya kalau dipaksa pulang dalam tempo 2 hari 1 malam saja. Yah, saya juga bukan Roro Jonggrang yang bisa bikin candi dalam semalam. Pun saya tak bisa menempuh hampir 40 jam perjalanan dalam waktu singkat. Umur saya yang habis di jalan Ibukota, bisa habis pula karena jarak antar kota-antar propinsi. Tiket pesawat? Tak mampu beli!

10. Membandingkan

Oke, kali ini bukan benda atau kejadian. Sebagai anak baru, bukan hanya sedang dinilai tapi hati dan kepala kita pun ikut menilai. Sekarang dan dulu. Ibukota dan kota tercinta. Teman baru dan teman lama. Bukan tak mungkin kita jadi merasa kehilangan dan kesepian. Bisa juga memendam amarah dan hanya bisa menahan. Kalau sudah begini, kuncinya cuma satu: buka hati. Bandingkan saja, tapi sadari juga bahwa kita sudah di sini. The show must go on…

Bagaimana? Sudah menyesal pindah Ibukota? Belum? Kenapa? Ohhh…merasa belum resmi pindahannya ya? Iya deh, yang masih punya kamar kos di Jogja…segitunya sampai serasa orang kaya yang sewa vila. Menyimpan mimpi bahwa setiap saat bisa kembali. Iyalah! Soalnya separuh hati terlanjur ditinggal di sana dan tak bisa diambil lagi. Hahaha!

to be continued…

3 thoughts on “Kalau kamu harus tinggal di Ibukota (#2)

  1. elga di jakarta? teruskan kritikmu aku dukung!.. aku pengen tau seberapa panjang nanti daftarnya…
    jakarta oh jakarta…

  2. …..duh, gimana nanti kalo saya kerja di jakarta ya?

    Kebayang juga kemacetan di sana, udaranya yang kotor, dan lain sebagainya. Ah tapi itu semua dinikmati aja ya. :mrgreen:

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s