Surat


Hey, kapan terakhir kali kau menulis surat?

Bukan. Bukan jenis surat kilat yang kau kirim melalui jalur elektrik. Pun bukan rangkaian huruf cetak yang tertera singkat di layar telepon genggammu. Surat yang biasa saja itu, lho. Yang ditulis dengan kertas dan pena. Yang sesekali kau pandang lama saat membuatnya.

“Sulit merangkainya. Aku harus menulis apa?” begitu pikirmu.

Jenis surat yang taksabar kau robek jadi dua. Jadi tiga. Jadi serpih atau kau remukkan dan kau lempar ke bak sampah yang menganga. Yang tepian lidah perangkonya kau jilat agar rekat.

Iya, aku merindukannya. Aku ingin mendapatnya lagi barang satu atau dua. Apa? Gila nostalgia? Aku? Ah ya..mungkin. Dulu aku selalu merasa canggih dan moderen. Tapi aku kehilangan rasa itu.

Iya, rasa hangat karena melihat guratan kata yang tercetak dengan kekhasan penulisnya. Bersimbah perasaan di selembar kertas. Kata yang dipilih dengan seksama. Sambil merenung atau memikirkan dia, yang jadi tujuan kirimanmu itu.

Surat yang hangat…

Yang sekedar bercerita dan tak tergesa. Sekerat hangat yang bisa kusimpan lama. Meski kadang aku tak bisa membaca atau sekedar menerka, noda lembab yang tertinggal namun nyaris tak bersisa..

Mungkin esok akan kutulis 1-2 lembar. Pada orang-orang yang jauh. Akan kucoba susun: kata-kata yang mungkin selama ini sembunyi dan sulit kuungkapkan. Bahkan oleh bantuan kecanggihan.

Dengan doa dan cinta bagi para pengantar surat hingga pelosok desa,

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s