Mbah Kakung


“Mbah kakung tidak bisa makan. Selalu dimuntahkan,” cetus bibiku tiba-tiba.

Aku diam. Tak tahu harus berkata apa.

“Katanya, mbah kakung sakit limpanya. Saluran pernafasannya juga,” lanjutnya.

“…”

“Sudah diberi susu, kadang bubur, tapi sulit ditelan…”

Ah…aku lupa. Tahun-tahun berlalu begitu cepatnya. Sepupu-sepupu yang terakhir bertemu masih berwujud bayi, kini sudah masuk SMP-SMA. Mbah kakung juga. Menua…

Terakhir kali aku bertemu dengannya, ia sudah tak mampu mendengar. Sekeras apa aku bicara, ia hanya tertawa sambil menatapku. Berkali-kali berkata, “aku sudah budheg, tidak dengar,” ujarnya sambil menggenggam erat tanganku. Cucu angkatan pertamanya. Kutelusuri raut wajahnya. Sama, tapi kepadatan tubuh menghilang perlahan. Kulit tangannya tak lagi kencang. Rapuh di usianya yang melewati tujuh puluh.

Masa lalu melibasku pelan. Ia tak pernah tahu, aku pernah merasa takut padanya. Ia tak tahu, aku pernah memecahkan hiasan pohon natalnya. Ia juga tak tahu aku pernah marah padanya. Sejauh yang kuingat, hanya nenekku, istrinyalah yang terasa hangat.

Tapi, kurasa di sudut hati harus kuakui…

Kami saling menyayangi dengan cara kami sendiri…

Mbah kakung, doaku selalu. Harapkan terbaik untukmu…

Cuapan Elga diunggah dari WordPress di Ponsel Beri

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s