Bus Kota yang Semena-mena


Pagi ini, saya berangkat lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan yang biasa terjadi di hari Senin. Hari lain juga sama macetnya, tapi Senin memang istimewa. Dia seakan merupakan akumulasi kemacetan setelah akhir pekan. Saya adalah satu dari sekian ribu pengguna jasa angkutan umum di Ibukota. Terutama bus kota. Dan bukan kali ini saja, kami dikhianati oleh mereka…Saya sudah curiga. Menunggu 30 menit lamanya, mengapa tak satupun bus kota berwarna kuning-hijau itu lewat? Saya hanya menunggu bus satu itu karena ia melewati rute termudah dan “tercepat”. Tapi, pagi ini, tak satupun lewat. Saya rasa mereka langsung masuk jalan tol setelah keluar dari terminal. Meninggalkan ratusan pengguna jasanya menumpuk tak terangkut di perempatan. Keterlaluan.

Tapi para penumpang bisa apa? Ini seperti relasi yang timpang. Kami, penumpang, memang bayar. Tapi kuasa ada pada sistem preman. Sopir, kondektur, dan calo. Hanya bermodal kata-kata sopan seperti: “Bapak Ibu, mau langsung lewat tol tidak supaya lebih cepat? Tapi bayarnya 5 ribu,”  mereka sudah mengantongi ongkos dua kali lipat tanpa perlu mengangkut penumpang yang biasanya berjubelan dan protes jika kondektur memaksa menambah jumlah. Seperti kambing kurban.Saya sendiri pernah mendengar percakapan: “Lewat tol saja, malas mengatur penumpang di X”

Lihat? Itu strategi. Banyak lagi strategi untuk menambah pendapatan tapi merugikan penumpang.

Mungkin anda pernah juga mengalami diturunkan di jalan karena sopir tidak memenuhi kewajiban mengantar penumpang sampai ujung rute? Dimintai ongkos lebih? Dibuat jantungan karena perilaku ugal-ugalan? Dibuat nyaris tersungkur karena tidak benar-benar berhenti saat anda turun? Ya, kita penumpang, yang membayar, yang memberikan mereka penghasilan, tak lebih bernilai dari barang seharga 2500-7000 Rupiah. Cuma seharga itulah kita.

Angkutan umum nyaman dan tertib? Ah, saya ingin tahu apa yang bisa dikerjakan oleh “pimpinan” mereka. Saya yakin merekapun tak berkutik. Dengan ancaman pemogokan atau demo, selesai sudah. Lalu kita terus bermimpi untuk punya kendaraan sendiri yang bisa kita anggap transportasi nyaman di jalan. Padahal ruas jalan tak bertambah, lebar jalan tak berubah.

Andai bisa, saya minta Leonardo Di Caprio untuk melakukan proses inception pada mereka. Pelaku-pelaku industri transportasi. Agar yang dikejar bukan materi melulu. Saya paham, mereka dikejar setoran dan ada keluarga yang harus bisa diberi makan. Saya paham. Tapi keselamatan di jalan dan rasa nyaman itu selamanya hanya angan, kalau mereka tidak paham bahwa penumpang bukan sekedar barang.

Saya rasa ada yang salah dengan sistem tranportasi kita, entah apa. Mungkin ketidakpedulian salah satunya?

 

 

Salam,

Pengguna setia angkutan umum Ibukota. Mantan pengendara motor Jogja.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s