Ramadhan, Petasan dan Razia Warung Makan


Ini aneh. Kenapa ya, awal bulan Ramadhan selalu ditandai bunyi petasan yang disulut dimana-mana? Seolah, tanpa diorganisasi pihak manapun, jutaan anak-anak di tempat berbeda, sepakat kompak menghancurkan gendang telinga dan bikin jantungan orang tua.

Puh, saya yakin sekali, tidak ada yang bisa memberi tanggal pasti kapan “tradisi” ini dimulai.

Tapi ya, urusan petasan ini harus diakui memang jadi lahan rejeki dadakan. Teman saya, waktu mahasiswa, tiap tahun selalu masuk kotak telepon umum dan berubah jadi suparman pedagang petasan. Jadi wajar, kalau dari tiap sekian miligram bubuk mesiu seharga sekian ribu itu, ada rejeki bagi penjual kegaduhan.

Dan saya benci.

Dulu, saya sempat trauma. Pergi les naik sepeda. Jantung berpacu dengan kewaspadaan saat melewati perkampungan. Tidak pernah tahu kapan saat yang tepat bagi bocah-bocah itu melancarkan serangan. Kaget hingga oleng dan nyaris terjerembab lubang itu biasa. Sepanjang jalan terus jadi sasaran tembak. Dengan sengaja pula. Ugh! Bencinya saya pada keisengan berbahaya itu!

Kembang api sama saja? Eh, kembang api beda ya. Kalau untuk hiburan, kalian pilih mana? Yang ada atraksinya atau yang cuma menang keras bunyinya? Lagipula kembang api kalau meledak kan di udara (lalu sampahnya yang jatuh dimana-mana). :p

Mungkin, penemu dan penjual petasan pertama menangkap peluang dari banyaknya anak-anak kurang kerjaan. Daripada mengganggu orang tua, disuruhlah mereka main. Mungkin lebih baik gaduh daripada berisik minta makan. Mungkin lho ya. Untuk menunjukkan semangat kala puasa? Hah. Jangan harap saya percaya. Memang saya tidak tahu alasannya hei bocah? Apa kalian menganggap bulan puasa melegalkan ledakan? Kalian cuma mau senang-iseng saja kan?

Walaupun sudah sering ada razia dan larangan, letusan-letusan itu dianggap wajar. Bukan puasa tanpa petasan namanya. Seperti makan tanpa kerupuk. Alasan!

Hal kedua yang selalu saya ingat dari bulan puasa adalah razia warung makan. Ini adalah hal terkonyol untuk “dilestarikan”. Di beberapa tempat, kalau kalian kedapatan berjualan makanan waktu masih waktu puasa, akan ada aparat yang datang. Sintingnya, dengan sorotan kamera, mereka akan membuang nasi dan lauk-lauk ke jalan atau menendangi piring berisi makanan yang dijual. Makanan itu bukan sampah basi lho! Lihat saja ya, suatu saat akan ada orang yang mengeditnya dan menggabungnya dengan dokumentasi situasi kelaparan di Afrika!

Gambar-gambar kontroversial macam itu sudah beredar tapi tiap tahun selalu kejadian. Mikir apa sih mereka? Apa ada hukum yang melarang orang tetap mencari rejeki? Dasarnya apa makanan dibuang-buang dengan alasan menggoda iman? Apa kalian tidak diajari orang tua untuk menghargai makanan?

Jadi ingat sesuatu kalau menyangkut toleransi. Dulu, waktu masih SMP, masih naifnya anak-anak yang disusupi pendapat orang tua yang aneh, saya yang tidak puasa terpaksa “ikut puasa”. Kantin tidak buka, tentu saja. Sementara tak ada pedagang makanan di sekitar sekolah. Lagi, kalau bawa bekal saya harus makan diam-diam di pojokan supaya tak “menggoda iman” teman-teman lainnya. Kalau tidak, saya akan dituduh tidak menghormati.

Masih ada beberapa hal lagi yang terlanjur mewujud tradisi. Tapi sebagian masih bisa saya toleransi. Sinetron religi? Tayangan infotainment berbau gosip yang disamarkan akhlak? Ah, itu masih tak apa. Saya bisa menghadapinya. Cukup matikan televisi!

Nah, semoga di bulan Ramadhan ini teman-teman yang berpuasa bisa menjalani ibadah dengan tenang sampai akhir. Saya cuma bisa berharap sih, dua kekonyolan di atas tidak bertahan lama. Main petasan silahkan, pergilah ke sawah, hutan, pantai, atau lapangan. Siapa tahu banyak “teman” menemani main. Hihihi!

Selamat berpuasa teman!

Salam,
EA

Cuapan Elga diunggah dari WordPress di Ponsel Beri

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s