Kalau kamu harus tinggal di Ibukota (#3)


Nah, nah, setelah tidak ada pembaruan selama beberapa minggu, akhirnya saya nemu beberapa hal untuk ditambahkan. Sudah lama terendap di kepala. Tapi karena saking lelahnya saya tiap hari bertempur dengan jalanan Ibukota, baru sekarang kesampaian untuk menceritakannya.

Kalau kamu harus tinggal di Ibukota, seperti saya: kelas pekerja, gaji tak seberapa, tak punya atap atas nama pribadi dan selalu berkendara dengan mobil berpintu tiga alias bus kota, kira-kira inilah yang akan kita temui di sana:

11. Tercuci otak!

Uh’huh yeah, kasus cuci otak bukan cuma monopoli cerita sci-fi teman. Ternyata, 80% kasus cuci otak disebabkan oleh lagu. Pernah kan, kita sangat benci sama satu lagu, tapi malah lebih hafal lagu itu daripada Pancasila yang cuma lima? Itu terjadi juga di bus kota, saudara! Saya curiga, pengamen-pengamen yang tiap jam itu masuk ke bus yang itu dan menyanyikan lagu itu-itu melulu sebetulnya suruhan Alien untuk mencuci otak manusia pekerja seperti saya. Konstan. Berulang. Tiap hari. Isi lagunya bijak kalau perlu agamis sesuai suasana pra-hari raya, tapi buntutnya cuma satu: duit dong bang!

12. People are spitting everywhere! Yaiks!!

Saya tidak tahu kenapa tidak menempatkan satu hal ini di urutan pertama, tapi di nomor berapapun ia berada, saya tetap mual dibuatnya! Gosh! Semua orang meludah sembarangan, no matter who they are! Yah, tidak semua. Mungkin cuma saya yang enggak bisa melontarkan ludah sembarangan! Yuck! Jorok banget! Suatu kali saya pernah nge-tweet, “in this hell city I tried so hard to keep my head up. Everything is disgusting me. Sorry.” Itu benar. Kalau enggak sampah, ya ludah. Astagaaa! Apa mereka tidak bisa pakai tisu? Atau paling enggak, jangan di lantai bus atau trotoar for God shake! Pengalaman magang di kota ini 4 tahun lalu hampir membuat saya tidak bisa makan lagi. Berlebihan? Memang, tapi itu kenyataan.

13. Basa-basi itu basi dan kesabaran itu langka

Menurut saya, 90% Homo Jakartans itu berubah kepribadian di jalan. Sembilan persen sisanya membuka percakapan dengan maksud tertentu, yah tahulah, sedangkan 1% sisanya pasti penduduk baru yang berusaha ramah. Oh, mungkin harus saya katakan kalau kesabaran mereka pasti tak lolos acara “MTV Boiling Point”? Rata-rata batas sabar di acara itu adalah 10-15 menit, tapi di sini cukup sedetik saja potong jalan atau serempet sedikit, kata-kata makian plus gebrakan tangan bakal diumbar dengan murah hati. La la la! Inner peace itu langka! La la la!

14. Weirdo Newspaper Seller

Satu hal yang patut saya puji dari penduduk kota ini adalah kreativitasnya. Apapun akan dilakukan untuk menyambung hidup dan mencari rejeki. Dulu, saya sempat “tertipu” permainan “sulap” seorang pedagang yang berhasil mengubah-ubah bahan jadi berbagai bentuk binatang. Saya pikir itu sejenis lilin mainan, tapi ternyata…balon tiup berisi tepung! Argh! Oke, jadi ceritanya saya bertemu penjual koran “kreatif” ini setiap pagi di bus kota. Idenya cemerlang, ia membacakan headline berita hari itu dan menambahi dengan komentarnya sendiri, “Luar biasa! Inggris menang di Olimpiade, luar biasa!” Tapi setelah didengarkan, tak ada kata lain keluar dan sepertinya dia pun sadar kalau kehilangan kata-kata, jadi ya cuma “luar biasa” dan “karena ia sungguh luar biasa” yang diulang berkali-kali! Hihihi!

15. Interior Angkot yang…menakjubkan *keluh*

Jangan remehkan sopir angkot. Meski pekerjaan mereka terdengar remeh, meski mereka dibenci karena ugal-ugalan dan seenak jidat kalau menepikan kendaraan, mereka jelas punya selera! (maaf, saya enggak bisa menahan ketawa! Mmhh..mwahahahahh!!) Ambil contoh angkot jarak dekat yang selalu saya tumpangi sebelum dan usai kerja. Seperti ada kompetisi “pimp my ride” versi “angkot”, saya ternganga-nganga dengan interior angkotnya. Kursi penumpang dilapis kulit (imitasi) merah. Pun di bagian belakang ada pengeras suara yang mengalunkan lagu-lagu melayu terkini! Oh, di angkot lain tak mau kalah, sopirnya menambahkan wadah untuk menaruh…Vodka! Olala, gelas “kristal” pun tak ditinggal! Hihihi! Pernah berjumpa angkot model begini?

Baiklah, sepertinya saya masih bisa bertahan. Selama kata-kata “sabar, tetap tenang” selalu saya dendang perlahan di pikiran. Nanti saya cerita lagi ya, kerja dulu…jangan sampai magabut (makan gaji buta) :D Cheer up!

to be continued

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s