Tidak Suka Padahal Belum Coba?


Semakin banyak ke-tidak-sukaanmu akan segala sesuatu, semakin menjauh engkau dari kebahagiaan hidupmu #hypnodiningrat words – Budi Sarwono (by FB status)

Durian? Aku gak suka! Eneg! Memang sudah pernah makan? Belom. Kok bisa bilang enggak suka? Ya gak suka aja.

Topik percakapan di atas bisa diganti dengan jenis benda atau makanan apapun. Tapi yang jelas kesimpulannya cuma satu, benci tanpa alasan! Hi hi hi! Banyak orang mengaku ingin melakukan hal baru, bertualang ke penjuru dunia bahkan mengaku doyan makan. Tapi kenyataannya, sedikit saja yang berani mencoba segalanya.

Saya punya masa kecil yang cukup aneh kalau diingat. Semua gara-gara ayah saya yang punya curiosity berlebihan sampai anaknya pun jadi bahan percobaan. Saya sempat makan daging trenggiling yang diaku-aku sebagai daging buaya. Hah? Alkisah, ayah saya pulang dari kerja di wilayah dinasnya dan tanpa sengaja menabrak trenggiling yang melintas. Makhluk yang sudah langka itu teler tertabrak motor ayah. Ayah lalu turun dan memeriksa keadaan. Dia berpikir, “kalau masih hidup, lumayan juga nih jadi peliharaan keluarga” (perhatikan pemikiran ayah-sayang-anak ini). Tapi begitu dicek, ternyata trenggiling itu sekarat. Ayah saya ambil batu lalu tewaslah si trenggiling dan berakhir di jok motor ayah. Sampai di rumah, tanpa terlihat keluarganya, ia menguliti hewan vegetarian itu (trenggiling hobi makan pandan, -info) lalu memasak dagingnya. Pada sang putri yang polos dan lucu, ia suapkan daging itu. “Ini apa pah?” tanya si kecil, “daging buaya dek, suka?” dan si putri terus menelan daging buaya jadi-jadian itu tanpa bertanya.

Lain cerita, ia (masih tentang ayah) menangkap seekor ular melintas. Bukannya dibakar atau dipendam, ia goreng ular yang naas itu. Pada ibu yang baru pulang bekerja, ayah dengan romantisnya menyuapkan nasi hangat berlauk daging yang mirip kulit ayam itu. Ibu tak menaruh curiga meski sempat bertanya dalam hati, “kapan aku beli daging ayam?” Esoknya dengan polos ayah bilang, “tahu gak yang kamu makan apa? ular…” dengan kalemnya membuat ibu ingin mengeluarkan daging yang terlanjur tercerna. Hmph!

Iya, bapak saya memang iseng. Tapi itu yang membuat anaknya punya pengalaman yang tak semua orang punya.

Saat pindah ke ibukota, saya baru sadar kalau penduduk kota ini agak terlalu ‘steril’ dari segala sesuatu. Bahkan mungkin anak yang lahir di kota ini belum pernah lihat sapi secara langsung. Oh well…prihatin juga, tapi saya maklum karena mereka hidup di kota yang hanya memiliki ladang pencakar langit dan bukannya rumput. Tapi jenis-jenis makanan seperti kodok, belut, durian, dan banyak lagi ternyata tak banyak yang suka. Jangan tanya belalang goreng ala Wonosari, mungkin sebagian besar orang akan mengernyitkan dahi sambil berujar, “yaiks!”

Kadang gemas juga sih kalau melihat sikap seperti itu. Habis, belum pernah coba kok sudah menyimpulkan tidak suka. Coba dulu, rasakan dulu sensasinya baru berikan nilaimu padanya. Tentu saja, hal-hal yang mengakibatkan alergi atau sudah jelas bahaya macam narkotika tidak perlu uji coba lah yaa! Cuma satu hal yang saya bilang tidak suka padahal belum coba: rokok. Oh, ralat. Dulu saya pernah melinting rambut jagung dengan kulitnya lalu membakar dan menghisapnya. Well, kalau mau dihitung “mencoba merokok” ya. Saya batuk hebat dan langsung benci benda itu.

Saya juga percaya bahwa semakin kita membatasi diri, kecil kemungkinan kita hidup bebas dan hepi. Sama seperti kata Trinity (Traveler) lah, kalau enggak berani traveling ya jangan mimpi jalan-jalan ke luar negeri. Belum apa-apa sudah takut duluan. Di rumah saja juga tidak mau kan? Pun begitu dengan makanan. Kalau lele dan kodok saja sudah dianggap ekstrim apalagi jangkrik, belalang, dan cacing? Saya cuma tidak tahan membayangkan makan ulat gemuk yang berwarna putih itu. Tapi mungkin saya akan makan versi matangnya daripada mentah berlendir. Nyatanya, teman saya bisa memasak larva tawon jadi cemilan enak dan dulu saya juga diajari menghisap madu dari putik bunga sepatu (eh, iya bukan ya? lupa).

Makanya saya sepakat betul dengan status Budi Sarwono seorang kenalannya teman di Facebook, “Semakin banyak ke-tidak-sukaanmu akan segala sesuatu, semakin menjauh engkau dari kebahagiaan hidupmu.” Benar juga kan? Kalau apa-apa antipati, betapa sedikitnya hal yang bisa kita nikmati. Tidak perlu sampai ke tingkat ekstrim seperti permainan-permainan berbahaya atau makanan langka yang jelas-jelas dilarang agama, cukuplah buka diri terhadap berbagai kemungkinan dan kemauan untuk mencoba. Toh mencoba hal-hal yang jelas tidak bikin mati juga takkan berpengaruh ekstrim pada kehidupan manusia.

Nay! I don’t think so. image from here

Padahal menurut saya, durian itu buah terenak di jagat raya. Kalau enggak suka, berarti belum mencicipi surga dunia hehehe.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s