Ponsel Darurat, Ponsel Limbad


Saya enggan mencari ponsel baru yang mahal. Cukup yang murah-murah saja. Hitung-hitung mengobati trauma

Akhirnya, saya mengalami kecopetan juga…hiks.

Sepulang kantor beberapa hari lalu kedua ponsel saya diambil orang. Malam itu bus yang biasa saya tumpangi agak sepi, bahkan saya mendapat bangku yang biasanya tak mungkin di hari lain. Seperti siklus hidup rutin, ditambah faktor lengah dan tak berhati-hati, saya mengeluarkan ponsel beri saya dan sibuk berbalas pesan. Tak sadar bus sudah hampir berhenti, buru-buru saya masukkan ponsel ke dalam tas. Selang beberapa waktu, saya baru sadar tas saya sudah agak terbuka. Panik, saya rogoh-rogoh bagian dalam.

Dompet tidak hilang. Syukurlah. Tapi…kok kedua ponsel saya tidak ada? Aduh! Alamat kecopetan nih, pikir saya. Sampai saya susuri jalan tadi dan berniat menyusul ke terminal. Dengan hati tak tenang, saya pulang. Segera saya angkat telepon rumah untuk menghubungi nomor saya. Yang ponsel kecil masih bisa dikontak awalnya. Oh, mungkin tertinggal di kantor, pikir saya. Ponsel pintar sudah tak bisa dikontak. Ternyata, dihubungi kali kedua, ponsel kecil pun sudah tak bernyawa.

Mungkin orang bilang, belum jadi warga ibukota kalau belum mengalami hal ini. Ah, masa sih?

Setelah perasaan saya mengatakan kedua ponsel saya resmi hilang dan tak mungkin diharap kembali, saya segera melakukan tindakan sistematis. Sama seperti barang hilang lainnya, kita tidak bisa hanya terpekur dan menangis. Harus berpikir untuk meminimalkan kerusakan. Itu yang selalu saya lakukan sampai-sampai mungkin dikira tidak sayang barang karena terus-menerus hilang dan saya tidak terlihat sedih. Apa boleh buat kan? Daripada tenaga habis untuk melakukan hal sia-sia, lebih baik meneruskan kehidupan. Padahal nyesek juga sih :P

Beruntung saya memiliki kartu nama seorang rekan kerja dan beberapa nomor yang saya hapal di luar kepala (artinya malah lupa, kata teman :D). Saya hubungi mereka, memberitahukan kalau ponsel saya hilang dan meminta mereka mengabaikan pesan-pesan yang datang dari nomor-nomor saya. Di beberapa akun social media saya menyatakan hal sama. Jika ada yang mendapat sandek minta pulsa dari saya, berarti nomor itu disalahgunakan. Huh, dasar copet, semoga rejekimu baik sampai tidak usah mencopet lagi.

Begitulah. Setelah mengurus pemblokiran nomor dan mendapatkan kartu-kartu itu kembali, soal berikut saya harus cari ponsel darurat. Bagaimana misalnya kalau ada telepon menyatakan saya menang undian dan panitia tak bisa menghubungi saya? Gawat sekali kan? Rejeki bisa melayang hanya gara-gara telepon genggam. Tak bisa dibiarkan!

Saya enggan mencari ponsel baru yang mahal. Cukup yang murah-murah saja. Hitung-hitung mengobati trauma. Pilihan ponsel darurat jatuh pada ponsel yang diiklankan Limbad. Ponsel warna merah ini memuat dua kartu sekaligus sehingga saya tak perlu membeli dua buah. Satu saja cukup dan murah. Ponsel Limbad yang saya beli karena salah paham. Saya pikir penjualnya menyebutkan angka sekian, tapi ternyata harga aslinya kelebihan beberapa puluh ribu rupiah. Ya sudahlah.

Ponsel ini punya kamera kualitas buruk yang tidak saya butuhkan, lampu disko yang mengganggu, bahan plastik buatan Cina yang sepertinya terbanting sekali lalu mati, dan parahnya, tak ada laporan pengiriman pesan. Jadi kalau penerima pesan tak membalas yang saya kirimkan, saya pun jadi galau karena tak tahu apakah pesan itu sampai atau tidak ke tangannya. Ayah saya cuma berpesan, “jangan lengah. Kalau nasib sedang sial, kamu tidak boleh lengah atau bakalan terjadi hal yang lebih buruk.” Hmm, baiklah ayah. Anakmu ini mungkin tak berbakat dengan barang elektronik dan telepon genggam.

Mungkin di masa mendatang saya akan berkirim pesan dengan surat, menelepon dengan kaleng atau mengirim telegram indah. Beberapa menyarankan merpati tapi saya rasa burung satu itu mudah dialihkan perhatian oleh anak-anak kampung yang menyoraki. Bisa belok arah dia nanti. Mungkin burung hantu bisa jadi pilihan saat malam, dan mungkin…elang yang lebih cepat terbang! Hi hi!

Bahkan Limbad menyarankan Elang! Baiklah master…
source gambar: di sini

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s