Empat jam kita


Dear papa,

Bulan ini adalah kali keenam aku melewatkan “rutinitas” kita. Biasanya aku mengabarimu kapan rencana kepulanganku. Lalu seperti biasa, kau akan menyetir mobil bak tua kesayanganmu itu untuk menemuiku di tengah-tengah. Aku 9 jam perjalanan, kau delapan.

Selama 4 jam melewati jalanan tak rata dan kadang menyebalkan saat hujan itu, kadang kita bertukar cerita. Sesekali bertengkar. Sesekali tak berkata apa-apa. Diam sembari aku memandang jalanan dan kau fokus mengemudi. Kadang kau bercerita tentang rencana-rencana. Tentang hal yang kadang tak kupahami benar bagaimana maksudnya. Jika lelah aku hanya menggumam, sesekali mempertanyakan. Lalu kusadari satu hal: waktu terus melaju di antara kita dan entah sampai kapan aku akan merekam percakapan-percakapan sederhana ini.

Kini kau tak lagi menjemput di tengah. Aku pulang dengan burung besi dan melanjutkan sendiri sampai depan rumah. Dengan waktu makin terbatas yang kumiliki, sesekali aku hanya menerima kabar melalui surat elektronik dan percakapan 20 detik. Tak ada yang menandingi obrolan sederhana dalam 4 jam perjalanan yang langka.

Kapan kita bisa melakukannya lagi? Kali itu tiba, ijinkan aku yang mengemudi. Mungkin aku yang bercerita dan kali itu kau yang memandang keluar jendela. Mengingat lagi masa-masa bahagia, masa jahil kanak-kanakmu yang selalu kau ulang cerita padaku hingga aku tertawa.

Janjilah pa, jangan pergi dulu sampai kita ulang lagi 4 jam perjalanan itu ya. Janji ya..

One thought on “Empat jam kita

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s