Ruth dan Rebecca


Ini kali pertama saya rayakan Natal di Ibukota. Oh, sungguh, tak ada yang luar biasa ataupun perlu dikeluhkan. Tak ada. Saat semua pekerja “normal” mendapat apa yang diberi judul “cuti bersama”, saya masih menjalani hari ‘kerja’.

Saya menghadiri misa malam natal dengan kakak di sebuah gereja yang kami putuskan seketika (mau natalan di mana nih? Di Blok Q aja? Ok!). Lalu ditraktir (harus dong!) makan steak yang pertama kalinya saya harus antri untuk dapat tempat duduk. Akhir pekan kemarin, saya bahkan belanja setengah kalap karena taburan diskon yang menggoda.

Lucunya, teman sekos saya malah yang paling semangat untuk buat hiasan Natal dan membelikan saya Kastuba merah, tanaman khas Desember itu, serta menggantung hiasan pita ala kadar yang kami bentuk pohon natal dan lingkaran (thanks ya Dil :)).

Begitulah, tak ada yang terlalu istimewa meski kali ini semua serba pertama. Di kota asing yang sesak ini, pertama kalinya saya menjadi penonton alias watcher untuk sebuah perayaan…

Merayakan namun tak terlibat. Semua bagai film yang diputar di layar lebar dan saya tengah menyaksikan dengan segelas soda di tangan sembari mengunyah berondong jagung.

Ah, tunggu. Bukankah sudah cukup lama ‘jarak’ itu ada?

Di tengah kotbah Romo yang “unik” (beliau pakai presentasi powerpoint untuk menjelaskan konsep ini dan itu), ingatan saya meloncat kabur ke bertahun-tahun lalu…

Sewaktu saya kecil, ibu memiliki sebuah kaset sandiwara natal yang selalu ia putar ulang. Kalau dipikir, orang beberapa dekade lalu sungguh hebat, cuma dengan fasilitas ala kadarnya bisa menghasilkan karya yang menoreh jejak di otak. Di antara beberapa cerita, ada satu yang saya hapal di luar kepala: Ruth dan Rebecca.

Dikisahkan, ada dua orang perempuan yang saling berteman. Mereka adalah: Ruth dan Rebecca. Suatu ketika, mereka mendengar ada seorang raja telah lahir. Raja ini disebut-sebut akan jadi pemimpin luar biasa dan penuh kuasa. Sudah bisa diduga, si bayi raja adalah Yesus adanya. Nah, Ruth dan Rebecca yang mendengar kabar itu ingin menjenguk sekaligus menghadiahkan sesuatu sebagai bentuk penghormatan. Keduanya mulai memikirkan apa ya kira-kira hadiah yang pantas untuk bayi raja.

Mendekati waktu keberangkatan, Ruth sudah menemukannya. Ketika Rebecca tanya Ruth menyiapkan apa, ia menunjukkan sehelai selimut dari kain hangat yang ia jahit sendiri tepiannya. Melihat itu Rebecca mencela dan mengatakan percuma Ruth membuatnya. “Dia kan anak raja! Sudah pasti dia punya banyak selimut mewah, harus beri yang indah seperti ini,” kata Rebecca sambil menunjukkan gelang emas berkilauan. Ruth tak terpengaruh dan meneruskan jahitannya.

Saat menempuh perjalanan ke arah Betlehem, mereka mendengar suara tangis bayi yang sangat keras. Suara itu berasal dari seorang bayi kecil ang sedang digendong ibunya di atas keledai. Ayahnya menuntun mereka sambil berjalan memegang tongkat. Seketika Ruth bertanya, “apakah anak ibu kedinginan?” Pasangan itu hanya mengangguk sedih. Sang ayah berkata mereka harus menuju Mesir dan tak sempat menyiapkan banyak bekal. Spontan saja, Ruth memberikan selimut bingkisannya untuk si bayi. Rebecca langsung menyikutnya, “Ruth! Bukankah itu untuk Yesus nanti?” Ruth hanya mengatakan bahwa ia lebih kasihan si bayi itu kedinginan. Lagipula Rebecca masih punya hadiah gelang untuknya.

Usai berpamitan, keluarga kecil itu meneruskan perjalanan, pun Ruth dan Rebecca. Lalu, tibalah mereka di tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi kelahiran sang bayi raja. Namun bayi itu sudah tak ada. Salah satu Malaikat menunjukkan diri dan mengatakan bahwa Yesus harus segera mengungsi ke…Mesir. Ahh..jadi? Rebecca lemas. Rupanya pasangan yang mereka temui di tengah gurun dan bergegas menuju Mesir adalah bayi raja yang sangat rindu mereka jumpa. Selimut Ruth sampai kepadanya. Gelang Rebecca? Yah…

Dan, sayup-sayup lagu penutup drama itu terngiang..Rebecca congkak hatinya, gelang emas. Tak bertemu, tak berjumpa Yesus. Oh betapa bahagianya..ya ya ya..melihat Kanak Yesus pada sesama, seperti Ruth dalam hidupnya..oh betapa bahagianya..

Well, tentu saja tak perlulah selalu dicari pesan moralnya. Apalagi kalau tiba-tiba ingin segera membikin atau membeli setumpuk selimut untuk dibagikan pada anak-anak kecil yang mengulurkan tangan di perempatan. Rasanya memang tertampar, tapi rasanya percuma jika langsung serta-merta ingin mengubah dunia. Apalagi untuk tindakan imitatif begitu. Tapi…

Satu hal yang pasti, mungkin perlu diakui bahwa ada ruang kosong yang tak terisi yang seharusnya ditempati oleh rasa syukur dan sesuatu bernama…bahagia dan lega. Jadi…sebetulnya, kehangatan Natal itu memang tak seharusnya saya cari dari lagu-lagu, dari kado, dari bingar dan gerlap lampu dan impian akan salju.

Mungkin…yah, ini hanya mungkin..kekosongan itu harus coba diisi dengan interaksi dan mimpi. Mencoba hidup dengan syukur sepanjang jalan dan keluhan yang ditekan.

Tapi saat ini, rasanya, akan selalu ada ruang kosong tak terelakkan ketika saya harus berkutat dalam perjalanan mencari kedamaian.

Selamat Natal, damai di hati…damai di bumi!

Setitik senyap di bagian Ibukota, saat semua makhluk lelap namun sebagian lagi tak senyap.

Elga Ayudi

5 thoughts on “Ruth dan Rebecca

  1. Kebetulan lagi ingat cerita ini & nyanyiin lagunya. Trus coba browsing di google & ketemu pembahasannya di sini. Rupanya kita hidup di masa yg sama dgn sarana edukasi yg sama. Thanks for sharing :)

    • Wahhh nggak nyangka ada yang tau lagu ini juga hehehe. Saya bener2 masih kecil pas itu mbak Lea :) tapi memang cerita dramanya membekas sekali. Terima kasih sudah mampir ya :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s