Antara Ceri dan Sakura Mochi


Kalau ada negara yang saya beneran pingin kesana gara-gara makanan, jelas Jepang jawabnya. Salahkan semua manga sensei yang sudah meracuni kepala saya dengan sensasi ramen, mochi, dango, hingga dorayaki.

Jamannya tidak ada okonomiyaki dan takoyaki di Indonesia dulu, tidak seperti saat ini, saya cuma bisa meneteskan liur sambil membayangkan cumi bakar yang mengepul panas dan sedap. Oh, terjemahan takoyaki di komik jaman dulu (tahun 90an) memang sekedar ‘cumi bakar’ lho.

Nah, begitu saya makin banyak membaca manga macam Sentaro, Miiko, Yakitake Japan, dan sederet tema masak-memasak plus dijejali acara TV champion edisi makanan, saya makin terkesima dan terbayang-bayang semua makanan itu dan betul-betul ngebet ingin mencoba semua. Setidaknya mencicipi lah. Hayo sebut! Ramen, udon, okonomiyaki, takoyaki, mochi, dorayaki, bolu nagasaki, dango, tonkatsu, miso, puding, shortcake, cheesecake…eh? Tunggu sebentar. Kenapa ada cake yang jelas-jelas produk Eropa? Ah..tentu saja. Jepang itu terkenal juga dengan aneka makanan penutup alias dessert yang manis dan imut hihihi! Bahkan di salah satu episode TV Champion, mereka melombakan…puding telur! Astaga! Jadi, peserta harus bisa membedakan puding yang warna dan teksturnya saling mirip dalam sampel sesendok itu lalu menyebutkan toko dan daerah pembuatnya? Edan!

Nah, sejak pindah ke Ibukota untuk bekerja, ini pertama kalinya saya berkesempatan “mencicipi Jepang”! Oh, bukan. Saya bukan ditugasi ke Jepang (walaupun ingin sekali). Tapi, saya nemu…supermarket Jepang! Yaelah, apa istimewanya?! Umm…buat saya yang belum pernah sekalipun ke luar negeri dan jarang-jarang dapat oleh-oleh langsung dari sana, nemu supermarket yang menjual aneka makanan impor khas negeri Sakura saja sudah melambung bahagia! Hihihi, agak norak sih ketika saya menjerit kecil gara-gara nemu…natto! Natto lho sodara! Makanan kedelai lengket yang dibenci Sinchan itu ada di sini! Lalu ada ikan sanma! Glek! Trus, trus..ada aneka mochi! Aawawawaw, mochi yang untuk tahun baruan dicelup sup juga ada! Bahkan si Papaya (nama supermarketnya) ini juga menyediakan paket Osechi-ryori!! Itu lho, menu lengkap makanan untuk menyambut tahun baru di Jepang. Ih, terbayang kimono plus saling membungkuk dan mengucap “tahun ini pun, mohon bantuannya!” Hihihi!

Nah, yang tadinya cuma berniat menemani teman belanja, tak sadar sudah ikutan meraih ini dan itu. Set, set! Dalam sekejap sebuah dorayaki, sakura mochi, daifuku mochi, shisamo age (sejenis ikan), tonkotsu ramen (yup, tidak halal), dan yoghurt berlabel “hanya dijual di sini” berpindah ke keranjang. Sebagian saya beli dengan embel-embel diskon sih, he! Paling penasaran sama sakura mochi karena pengen tahu rasa makanan khas hanami ini. Ehhh, lalu kok begitu melewati deretan sayuran segar dan buah (juga bikin ngiler berat), ada enam kotak berisi buah bulat berwarna merah ungu yang ranum. Aw! Ceri! Jadi ingat warna cat kuku kesukaan saya deh. Eits, lihat dulu label harganya. Aphuaaa?!?! Sekilo 200 ribu pemirsaaa??! Tapi karena saya belum pernah coba, dan teman sangat menyarankan, jadilah saya ambil BEBERAPA butir saja dengan seksama. Jadilah 0,88 gram ceri itu berpindah pula ke keranjang belanja. Lalala!

Jangan tanya saya mengeluarkan duit berapa karena saya tak mau mengingatnya. Demi pengalaman. Satu-satunya dalih dan juga pemakluman yang selalu saya dengungkan *sigh* Sampai rumah, buru-buru saya buka hasil perburuan dengan menahan diri itu. Pertama, cicipi dulu sakura mochi ah. Harum daun pembungkusnya memang beda, mirip…tidak ada padanannya sih hehe maaf. Lalu, bulatan ketannya berwarna pink dan masih bertekstur kasar butir ketan. Kalau yang pink ini betulan sakura, karena tadi saya sempat lihat di deretan bahan sushi, ada semacam bubuk sakura. Begitu digigit…oh, lemper kacang merah manis! Hahaha! Maaf mengecewakan, tapi sakura mochi ini beneran seperti itu. Ada sedikit samar asin, mungkin di daunnya supaya awet, dan yang jelas manis. Duh, Jepang ini sepertinya kalau bikin adonan kacang merah manisnya nggak kira-kira.

Lalu, berikutnya harta berharga: ceri segar Australia. Begitu digigit…byaaar! Segar!! Aduuuh, suka banget! Rasanya manis dengan sedikit asam, dagingnya renyah dan basah. Juicy! Ekspresi saya pasti sama persis dengan Sentaro (tokoh kelinci) kesayangan Baku. Pantas di Jepang ceri harganya mahal! Berarti, sebutir buah seukuran satu ruas jempol ini… Rp 2.000?! Stop menghitung! Soalnya benar-benar bikin ketagihan! Dulu saya tidak bisa membayangkan rasa lezat ini karena ceri yang saya kenal sudah diawetkan dengan warna merah dan hijau yang biasa menancap di kue tar ulang tahun.

Ahh…sepertinya saya harus menyisihkan gaji tiap bulan kalau ingin merasakan kemewahan segar ini lagi. Atau, haruskah saya mencari cara ke Australia supaya bisa petik langsung ke kebunnya? Huhuhu, bagaimana ini kalau saya jadi sakau ingin makan ceri lagi?

Ah..masih sebulan lagi ya…kali itu, saya akan menyiapkan diri untuk memborong sanma, udon, natto, cheesecake dan…ceri!!

Cheers!!

sekotak ini berapa ya?!

sekotak ini berapa ya?!

Elga Ayudi

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s