Kenapa saya tidak suka menghubungi nomor resmi


“Kenapa Anda menghubungi langsung nomor saya? Karena Anda tidak percaya jalur birokrasi kan?”

Kalimat retoris itu dicetuskan pak Chatib Basri pada saya beberapa waktu silam ketika menemani seorang senior wartawan melakukan wawancara dengannya. Saat itu kami menemuinya di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Saya bukan ingin bercerita tentang BKPM dan segala urusan penanaman modal industri ini-itu. Saya cuma ingin ngobrol tentang satu hal: birokrasi. Yeah, kata itu sudah menimbulkan alergi? Gatal-gatal? Pusing? Sama. Tapi sebagian dari kita cukup “beruntung” dengan berkesempatan menghadapinya. Terdengar sinis? Maaf, tapi saya termasuk orang yang menderita alergi kalau sudah menyangkut urusan dengan karyawan negara alias pegawai negeri.

Oh tidak, saya tidak mengecam, menyindir ataupun meremehkan mereka yang bekerja untuk negara. Baik yang sungguh bekerja atau sekedar menyandang status saja. Anda tahulah maksud saya. Ibu saya, guru SD berstatus PNS golongan dua…atau tiga saya lupa. Tapi yang saya hadapi ini bukan praktisi-praktisi di lapangan macam guru atau mantri, tapi…ad-mi-nis-tra-si. Ah, perlukah saya mengejanya?

Awalnya, rancangan tulisan bertema “karyawan negara” telah lama bertengger di benak saya. Satu setengah tahun lalu. Saat itu, ada semacam hasrat besar untuk menorehkan tulisan dengan ganas sebab ada timbunan muak yang tak terkatakan terhadap sistem ini. Sistem yang melibatkan proses bertele-tele terhadap apapun, saya ulang, a-pa-pun yang diperlukan warga masyarakat dari negaranya. Petugasnya? Ya warga juga. Istimewa.

Tapi, sebelum meluber kemana-mana, mungkin kali ini kita tetap membahas satu hal saja deh: prosedur. Let’s get to the point. Saya, Anda, siapapun, pasti melalui berbagai macam proses setiap hari. Mau sarapan saja pakai proses merebus air untuk bikin kopi, menggoreng telur dan sebagainya atau mengayuh sepeda ke lokasi tukang bubur langganan. Ada tahapan yang harus dilalui setiap orang untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan. Untuk menuju C dari titik A harus lewat jalur B. Simpel.

Nah, jalur yang sederhana ini meningkat sedikit kerumitannya jika sudah berurusan dengan birokrasi organisasi. Katakanlah semacam rumah, untuk menemui empunya Anda harus pencet bel atau mengetuk pintu lalu menyampaikan maksud pada satpam yang berjaga, kemudian satpam menyampaikan pada empunya barulah Anda diberitahu apakah si empunya rumah bersedia bertemu. Cuma, Anda lantas jadi sebal saat memencet bel tak ada bunyi, tapi untuk mengetuk pagar jaraknya terlalu jauh dari bangunan rumah. Belum lagi saat Anda berteriak memanggil si empunya rumah, bukannya satpam atau pembantu atau empunya rumah muncul, melainkan seekor anjing galak yang menyalaki Anda sampai tetangga sekitar keluar.

Ehm! Maaf kalau analoginya panjang dan membosankan. Tapi beneran lho, sebuah proses yang seharusnya mudah bisa sangat menyebalkan untuk dilalui. Hah? Kenapa? Ya karena tak semulus harapan. Bisa saja salah satu dari titik A, B, C, dan seterusnya itu tersendat dan menghambat kita sampai ke tujuan akhir sesuai rencana. Itulah birokrasi pegawai negeri kita. Saking banyaknya titik yang harus dilalui namun kurang atau tak menyadari fungsi serta tugas mereka atau parahnya lagi, tak tahu harus meneruskan proses kemana, membuat rentetan urusan jadi sangat menyebalkan hingga level memuakkan.

by Erick Per1in, link attached

Kalau boleh berandai-andai, misalkan setiap komponen dalam jalur itu bekerja dalam kapasitas benar, sebetulnya takkan ada kesia-siaan dari melakoni sebuah prosedur birokrasi. Tapi ya itu tadi, kebanyakan karyawan negara ini rupanya melamar posisi administrasi dengan tujuan berleha-leha. Kerja santai, dibayar negara, dapat tunjangan pula. Kurang apa? Remunerasi gaji kecil? Toh, ratusan ribu orang tetap berlomba menduduki posisi yang katanya bergaji minim itu dengan modal puluhan hingga ratusan juta. Such a waste. Negara ini terlalu banyak membuang anggaran untuk gaji mereka yang lemah etos kerja.

Nah, setelah bilang begitu nanti bakalan ada banyak orang protes, “kami betulan kerja kok!” Iya, saya juga yakin dan masih optimis tak semua karyawan negara bermental “leha-leha.” Pasti adalah sekian persen yang bekerja tekun bahkan punya inisiatif lebih. Saat ini, sebagai seorang calon jurnalis, saya juga belajar untuk bersabar ketika berhadapan dengan rintangan. Apalagi rintangan bernama prosedur. Saya diajarkan untuk mengendurkan ketegangan dan memperpanjang urat sabar meskipun rasanya tengkuk belakang mau copot lantaran mengejar tenggat waktu. Persisten terhadap prosedur! Saat diminta mengirimkan surat permohonan, saya buat segera dan kirim dengan teknologi tercepat yang saya miliki: surat elektronik (surel) atau mesin faks. Merasa kurang mumpuni, surat saya masukkan amplop dan saya antar sendiri ke kantor yang bersangkutan.

Tapi apa yang terjadi? Saya telepon pukul empat sore untuk konfirmasi sudah tak ada yang mengangkat, surel saya tak dibalas, telepon tak memuaskan, bertemu satpam hanya diberi janji, “baik nanti kami sampaikan.” Masalahnya pak, bu, mas, mbak, kapan persisnya saya dapat jawaban? Iya atau tidak? Setuju atau penolakan? Kapan dan dimana dengan siapa? Alasannya apa? Bagaimana agar saya bisa mendapatkan persetujuan, apa saja yang diperlukan, butuh waktu berapa lama?

Semua pertanyaan itu takkan terjawab mudah. Bisa jadi yang Anda lempari pertanyaan juga tak tahu harus menjawab apa atau meneruskan kemana. Layaknya saluran pipa, dia hanya menerima lalu meneruskan. Bahkan kemungkinan ia tak paham struktur alur proses juga ada. Besar pula. Pernah kan tersesat di perkantoran besar dan tak seorangpun bisa menjelaskan divisi A di gedung sisi mana? Persis seperti itu. Mirip tetangga yang tinggal di sebelah rumah puluhan tahun tapi masih juga tak kenal kanan-kirinya.

Tapi, karena saya wartawan yang selalu berada di jalur waktu yang ketat dan butuh kepastian cepat, maka saya berusaha mendapatkan kontak personal dari pihak yang berwenang. Yah setidaknya sekretaris pribadi atau orang kepercayaan si narasumber sasaran. Segala cara dan jalur harus dicoba tak peduli seberapa minim tingkat keberhasilannya.

Duh, posting ini rasanya makin panjang dan bertele-tele. Mirip prosedur birokrasi. Sebelum berakhir grundelannya, setidaknya ada sedikit harapan terpercik. Tidak semua unsur birokrat bersikap semaunya. Ada juga sih yang ingin berbenah. Pak Chatib Basri misalnya,  dia berusaha menginstruksikan bawahannya untuk mengangkat telepon dan membalas email. Sederhana ya? Tapi hal itu berarti. Bayangkan rasanya jika menelepon instansi lalu tak ada yang menjawab di ujung sana? Apa akan terjadi proses komunikasi? Tidak. Lebih sebal lagi kalau Anda sudah menelepon sesuai prosedur yakni saat jam kerja (tahu kan? sekitar jam 8 pagi sampai jam 5 petang), tapi petugas yang bersangkutan sedang…belanja, atau yang lebih buruk lagi, pulang. Tahaaan! Sabaarr!

Hingga semua prosedur bisa berjalan benar, lancar, bebas hambatan dan pungutan liar (yang entah kapan), ada baiknya kita belajar pernafasan. Tarik nafas dalaaam…dalaaam..dalaaammm…hembuskan perlahan. Lalu, mari kita sama-sama berharap agar agen-agen perubahan di dalam tubuh birokrasi itu tidak mengalami:

Nasib pejuang perubahan. Picture taken from Baloo’s cartoon blog (link attached)

Cheers!

my signature

2 thoughts on “Kenapa saya tidak suka menghubungi nomor resmi

  1. Wahhhh… Tulisan ini dibuat sepenuh hati, aku bisa merasakan emosimu yang meledak-ledak disini… Mengenai birokrasi, semoga ada inisiator yang punya dampak besar bagi reformasi birokrasi ini. Kalau terus begini, Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara lain ya…

    • hahaha! Keren nih, kamu orang pertama yang baca langsung komentar :) Iyaaa, aku sih berharap banget ada orang-orang macam pak CB yang enggak suka bertele-tele. Kasih info yang jelas alurnya, tanggapi dengan cepat. Meskipun…yah, tahulah, yang sampai level terkecil belum tentu seide. :P Thanks Rio!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s