Jadi Kutu Loncat


Alkisah, beberapa minggu belakangan saya kerap dapat kabar seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Entah teman, kenalan, atau rekan. Obrolan selalu diawali dengan percakapan semacam, “eh si A mau resign (berhenti kerja) lho,” kemudian diikuti faktor penyebab: “kayaknya dia mau nikah/pindah ke perusahaan X/pindah kota,” dan seterusnya.

Menariknya buat saya, kabar macam itu tak lagi membuat kaget atau bengong. Yap, sudah biasa. Bahkan dalam runtutan daftar karir saya, belum ada satu jenis pekerjaan yang saya lakukan lebih dari setahun. Saya mudah bosan sih.Yah, karena saat itu saya masih kuliah dan mencari-cari (entah apa), saya anggap semua jenis posisi di perusahaan/institusi apapun itu sekedar magang. Makan roti panggang.

People come and go, right?

Begitulah. Jadi kutu loncat alias gonta-ganti pekerjaan rasanya sangat lumrah di paruh waktu zaman sekarang. Orang mudah saja memutuskan tidak lagi tertarik pada pekerjaannya, atau ingin mencari yang sesuatu yang “lebih.” Baik posisi maupun gaji, atau sekedar pengalaman baru untuk menghidupkan gairah minatnya.

Cuma, saya tak bisa bayangkan keputusan yang sama terjadi di era bapak-ibu saya. Seingat saya, bapak-ibu saya sudah jadi guru selama…err..hidupnya. Jadi sekali memutuskan karir, ya sudah nyemplung di situ selamanya sampai masa pensiun tiba. Eh, tapi bapak saya dulu sempat dagang ini itu juga sih sebelum memutuskan mengajar.

Maka terjadilah ‘gap’ itu. Ibu saya selalu ingin anak-anaknya punya “pekerjaan tetap” yang “layak” dan “menjamin hidup.” Kenapa semua saya beri tanda kutip? Iya, soalnya definisi macam itu kan tidak ada patokannya. Kakak saya ganti kerjaan dengan jam kerja rutin sebanyak 5 kali dalam 6-7 tahun usai lulus sekolah. Tetap saja Ibu belum menganggap dia bekerja dengan “layak” lantaran keseringan ganti perusahaan.

Sekarang ini, saya tak lagi menganggap bahwa kontrak kerja pada sebuah perusahaan itu merupakan ikatan jangka panjang. Soalnya, menurut analisis cemerlang pendapat pribadi saya, loyalitas pekerja sekarang bukan berada di luar dirinya, melainkan cenderung pada dirinya sendiri.

Artinya, apapun motivasi orang saat bekerja, tak lagi semata bertahan hidup sembari mencurahkan segalanya pada suatu institusi yang mengucurkan sumber hidupnya (baca: gaji, upah, dll). Melainkan pada motivasi personal seperti upah (jelas!), minat, situasi pribadi atau mengisi waktu (hih! hajaaar!!).

Loyalitas seorang pekerja akhirnya bisa terbagi menjadi profesi/minat atau kebutuhan materi. Tak lagi ditentukan pada institusi beserta nilai-nilainya.

Jadi, kalau tidak puas bekerja di perusahaan A, bisa dengan mudah berpindah ke perusahaan B yang menawarkan, entah upah lebih tinggi atau karir lebih wah. Mari tak bicara tentang lapangan pekerjaan dan pengangguran. Sensitif.

Lalu apa yang terjadi? Kalau boleh berbagi pendapat, menurut saya, situasi demikian membuat sebuah institusi jadi sedemikian rapuh. Apalagi untuk perusahaan yang makin besar dan besar. Lebih parah kalau tidak ada nilai utama yang ingin dicapai bersama. Bayangkan saja, Anda bekerja bersama orang-orang yang sebetulnya mengerjakan sesuatu bertujuan sama tapi tidak tahu arahnya kemana. Seperti disangga dengan tiang yang disambung-sambung. Kapanpun sambungannya akan lepas lalu sempat kosong sebelum terisi lagi.

Saking rapuhnya, beban seorang pimpinan perusahaan bisa berat sekali ya. Cuma dia yang diandalkan untuk terus menopang kesolidan perusahaan. Lha kalau orang ini pergi dan tak ada yang meneruskan? wasalam.

Menurut saya, orang tak lagi bangga mengenakan atribut institusi (tidak semua begini juga sih) karena setiap saat dia berhak dan bisa menanggalkannya. Mengambil jarak. Akhirnya ya itu, loyal pada apa yang dipercaya sendiri. Misalnya, tetap berada di jalur karir jurnalis walaupun membukukan 6 perusahaan media berbeda dalam perjalanannya.

Memang sih, dinamika itu penting. Zona nyaman hanya akan mematikan kreatifitas seseorang, kecuali mereka yang bisa mempertahankan niat untuk belajar. (cih, klise abis). Yang jelas, ada yang namanya ketidakpuasan abadi. Susah kan menyamakan kemauan di antara seribu orang?

Dulu saya selalu memilih untuk “meninggalkan” sebelum merasakan “ditinggal” rekan kerja. Aneh rasanya saat situasi tak lagi sama. Dulu merasakan kompaknya bekerja dengan A dan B, lalu sempat putus karena usai masa magang, ketika ada kesempatan kembali rupanya semua sudah berubah. Akhirnya pergi juga sebelum merasa makin asing.

Walaupun datang-pergi adalah proses biasa, tapi tetap sedih juga lho. Meninggalkan dan ditinggalkan itu sama sedihnya, sama tidak enaknya. Soalnya ada faktor “kebiasaan” yang dicabut dan dihentikan. Saya masih kerap mengingat saat masih bekerja paruh waktu di Jogja, hal-hal menyenangkan yang dialami dan sebagainya. Tapi apakah saya akan mengorbankan yang sekarang demi kenangan itu? Tentu tidak. Sebab kembalipun belum tentu akan dapat “barang” yang sama.

Pengalaman tak pernah terjadi sama dua kali. Ya kan?

Jadi, ketika pilihan sudah diambil, mau tak mau ya cuma bisa menghormatinya dan mendoakan yang terbaik. Sadari saja bahwa itu cuma sebagian kecil dari proses panjang kehidupan yang makin rumit sekarang.

Cheers!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s