Sekali jalan, lalu ketagihan


Sejujurnya, saya belum pernah menginjakkan kaki melampaui batas teritori Indonesia. Lebih jujur lagi, nyaris-tak-pernah-keluar-Jawa. Jika pernah menyeberang antar pulau, maka prestasi saya hanya sejauh Bali (saat tur sekolah) dan Madura (saat kanak-kanak. Itupun sampai pelabuhan saja).

Tapi, hasrat untuk melihat dunia kelamaan tertanam di benak gara-gara banyak cerita mengenai sebuah perjalanan. Tujuan utamanya mungkin wisata. Awalnya. Tapi kemudian para pejalan (traveler) ini juga mengikutkan unsur interaksi yang intens dengan penduduk lokal. Mereka bercerita tentang banyak hal di luar buku pedoman perjalanan. Kisah-kisah menarik, menyenangkan, seru, juga sedih dan bikin terharu.

Mengatasi segala kecemasan, takut dan perasaan terasing. Itu idealnya.

Jauh di dalam hati, saya menyukai ‘perjalanan’ ke tempat antah-berantah yang tak pernah saya jamah. Cuma, masih ada beberapa syarat dan ketentuan berlaku. Ah. Misalnya, saya harus dalam keadaan merasa aman dan nyaman untuk melakukannya.

Sewaktu kuliah, saya bersahabat erat dengan motor pemberian orang tua. Bersamanya saya menyusuri jalan kota tempat saya belajar. Membiarkan diri, sendirian, untuk menyusuri jalan-jalan asing sekedar memenuhi rasa penasaran. Hasil nyatanya tentu saja: rute baru, pengetahuan arah baru, dan (syukur-syukur) tempat mampir baru.

Pengalaman nyaris nyasar beneran juga berkali-kali mampir. Suatu hari, saya pulang dari rumah teman di lokasi yang agak jauh dari jalan utama. Lalu, saat meninggalkannya, saya menjajal rute baru dengan asal. Tahu kan: Belok kiri atau kanan? Kanan. Lurus atau belok? Lurus. Dan seterusnya.

Bodohnya, saya tak mengantongi duit serupiahpun, tak bawa ponsel, dan meteran bahan bakar menunjuk jarum di area merah. Astaga. mati aku. Begitu pikir saya. Bagaimana kalau motor saya kehabisan bensin, lalu mogok di tengah jalan sepi yang jarang dilalui kendaraan? Andai saya bisa mampir ke rumah seseorang untuk pinjam telepon, bagaimana saya bisa memberitahu teman posisi saya sebenarnya? Saya sendiri tak tahu ada di mana. Pinjam uang untuk pulang? Naik apa?

Berbagai skenario terus menyambar-nyambar panggung drama pikiran saya. Sembari berpikir begitu, saya coba arahkan rute menuju manapun yang saya anggap menuju jalan utama. Oh, sambil berdoa tentu. (Betapa manusia cuma ingat doa saat terdesak ya :p).

Ketika akhirnya berhasil menemukan jalan utama yang saya kenal, betapa terkejutnya saya ketika mendapati ada di jalan yang tak terduga…sangat jauh dari titik awal. Bahkan mendekati perbatasan antar kota berikut. Ulang lagi? Wah, terima kasih. Bukan karena saya tak mau, tapi saya sendiri lupa. Ada semacam campur tangan moda “pilot otomatis” ketika saya berkendara. Makanya nyaris tak ingat sebagian besar rute yang dilalui. Payah.

Baru akhir-akhir ini saya mengetahui sebutan untuk perasaan ingin ‘tersesat’ atau ‘get lost’ itu: wanderlust.

il_570xN.366240545_9eha

Terjemahan bebasnya kurang lebih ialah, “keinginan untuk pergi, untuk menyusuri jalanan asing, hasrat untuk perjalanan.” Dan lucunya, itu menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan setiap kali ingin melakukan “penyesatan diri” tadi.

Seringnya, saya melakukannya sendirian, dengan naik motor. Ada seberkas rasa bebas nan nikmat yang tak bisa ditukar dengan apapun untuk mendapatkannya dalam waktu singkat. Namun, untuk perjalanan ke tempat asing, alarm kewaspadaan selalu saya pasang di level tinggi hingga saya pusing karena cemas.

Maka ketika diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan sekaligus memuat pekerjaan, yang bisa saya lakukan hanyalah menyiapkannya sedetil mungkin dan selalu bersiap untuk beragam kemungkinan lanjutan.

Satu-satunya harapan agar saya bisa lebih menikmati perjalanan adalah ‘fleksibel sekaligus tetap gelisah’ agar lebih awas. Bagaimanpun, keselamatan diri sendiri itu faktor utama, ya nggak sih?

Sekarang, hasrat untuk membawa diri sendiri berkeliling kota, pulau, negara…makin tak terbendung lagi. Well, siapa tahu suatu kali saya benar-benar akan menjalaninya? We’ll see..

not-all-those-who-wander-are-lost-anastasiya-malakhova

Cheers!

Elga signature

 

pictures are taken from: here and here

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s