Resmi pelari?


Siang ini saya resmi jadi pelari. Kok bisa?

Bisa. Soalnya, saya baru beli sepatu lari yang mahal sekali (walaupun sudah diskon 40%) he he he!

Memang sih, jadi pelari tidak ada inisiasinya. Tidak ada patokan berapa kilometer jarak sudah dilalui supaya kita resmi dicap pelari. Apalagi saya, baru mulai lari 3 bulan terakhir. Minus 1 bulan absen. Hih.

Tapi, saya ya baru menemukan kesenangan berlari baru-baru ini juga. Padahal, momok terbesar saya adalah olahraga. Ingat betul dulu waktu SD kalau disuruh lari rasanya mending pura-pura pingsan daripada pingsan beneran di jalan.

Ngos-ngosan itu lho.

Tapi, setelah di Ibukota, entah kenapa saya malah rajin lari. Mungkin karena di sini temannya banyak ya. Maksudnya yang bener-bener niat lari. Habis, di Jogja dulu saya jaraaaaang banget nemu orang yang hobi lari. Ada sih, satu-dua, tapi mereka….polisi :D

Lagi, jam kerja dan lokasi tempat tinggal saya sekarang strategis sekali. Gelora Bung Karno itu nyaman sekali lho waktu pagi. Sumpah, rasanya kayak nemu oase sejuk di tengah belantara pencakar langit. Daaan, saya bisa mencapainya hanya dengan 20 menit jalan kaki! Hiks, terharu…

Satu lagi penyemangat lari saya adalah motivasi untuk mencapai target. Teman saya ada yang berhasil menempuh jarak puluhan kilo tanpa henti. Apalagi hobi saya akhir-akhir ini nonton variety show Korea: Running Man. Mereka punya tagline: don’t walk, run!!. Wuoosshh!!! Makin terbakar deh semangatnya! Pengen juga sih ikut lari-lari di acara itu. (Jadi artis dulu gih!)

Eh iya, saya juga sudah ketemu langsung dan ngobrol sama pak Sandiaga Uno dan makin termotivasi lho. Untungnya enggak teralihkan sama wajah si bapak ya *grin*

Kata dia, berlari itu bisa memotivasi diri. Semacam meraih pencapaian prestasi yang diusahakan sekuat tenaga untuk diri sendiri. Betul kan? Siapa yang enggak bangga bisa menyelesaikan maraton 42 kilometer tanpa henti? Bukan buat pamer, tapi effort yang diperlukan untuk itu memang besar. Tidak bisa ditipu hasilnya.

Kalau teman pak Sandiaga berhasil menempuh maraton di usia 50, saya pengen sebelum 40. Enggak perlu maraton internasional. Yang 10Km atau half marathon juga tak apa. Kali ini saya yakin bisa. Soalnya, sebelum beli sepatu mahal dan tetek-bengek lainnya, saya sudah melangkahkan kaki dan berlari.

Masih sangat lambat. Masih sangat singkat. Dan masih terpatah-patah dengan jalan kaki dan nafas yang terengah-engah. Tapi, saya yakin akhir tahun ini saya bisa lakukan 1 kilometer lari tanpa berhenti. *jiah, udah sesumbar gini malu ya kalau gagal* hahaha!

Doakan saya ya! Let’s run!

Sepatu lari pink ceria

Sepatu lari pink ceria

4 thoughts on “Resmi pelari?

  1. Asiiik, saya dukung 1000%, Mbak El! :D

    Saya gak bisa ngasih saran lain selain “mulai sekarang juga” dan “cobalah bertahap”. :) Jangan memaksakan diri. Nanti persendian kaki sakit dan jantung terlalu dipaksa. Ujung2nya bisa2 malah gak termotivasi lagi. :( Ukuran sepatu harus pas lho ya. Jangan kelonggaran dan jangan kesempitan. Sepatu yang nyaman bakal bikin tubuh kita makin enjoy berlari. :)

    Satu hal lagi yang penting, yaitu harus rutin. Kalo mau cepet kuat lari, lari harus jadi rutinitas yang gak boleh ditinggalkan. Nanti rasakan aja deh kalo udah sebulan dua bulan lari. Rasakan perbedaan di kebugaran tubuh Mbak. :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s