Kalau kamu harus tinggal di ibukota #4


Aaah, sudah berbulan-bulan tak ada pembaruan kabar. Maklum yah, selain berganti pekerjaan, saya juga berganti kendaraan he he he.

Sekarang saya bukan bus-er tapi motor-er :D Tapi bukan berarti saya nggak nemu hal-hal menarik lagi tentang Ibukota. Banyak nih, tapi suka lupa buat nulisnya. Kita coba beberapa yang saya ingat yah. Here we go!

Kalau kamu harus tinggal di Ibukota, seperti saya: kelas pekerja, gaji tak seberapa, tak punya atap atas nama pribadi dan selalu berkendara dengan bus kota dan motor roda dua, kira-kira inilah yang akan kita temui di sana:

16. Koridor Transjakarta superrrrr panjang!

Buat para pengguna bus Transjakarta atau yang akrab disebut busway (padahal salah), ada beberapa halte atau koridor pemberhentian yang paling jadi momok. Yang pertama adalah Dukuh Atas ke Dukuh Bawah (bener ga yah?). Selain berliku, jarak tempuhnya lumayan bikin ngos-ngosan lho. Apalagi kalau buru-buru. *lap keringet*

Yang kedua, ini yang paling sering dimaki-maki orang: Bendungan Hilir – Semanggi/depan Polda Metro Jaya. Ya ampuuun, kalau ini saya tobat! Koridor ini menghubungkan halte bendungan hilir yang notabene ada di Jalan Sudirman ke halte depan Plaza Semanggi yang berjarak kurang lebih 800meter. Rasanya seperti koridor tak berujung apalagi kalau malam-malam dan agak buru-buru. Pengen deh loncat keluar trus naik bus kota aja :p

Yang ketiga, agak baru nih kayaknya. Dari Cempaka Putih ke Pulo Gadung dan Matraman ke…lupa. Dua koridor ini sama laknatnya dengan dua koridor di awal. Heran deh, masa pemda ga bisa bikin koridor yang lebih bersahabat? Tapi ya maklum sih dengan tingkat ketinggian jalur, harus dibuat kemiringan yang sesuai. Jadilah kita, penumpang, yang diputer-puter sampai putus asa.

Saya paham perasaan Anda, para pengguna busway Jakarta…saya paham…sungguh.

17. Ranjau paku mengintai dimana-mana

Sebetulnya yang namanya ranjau paku itu nggak cuma di Jakarta. Nyaris di semua daerah itu ada. Tapi entah kenapa, kejadian ban bocor di Jakarta itu lebih mengenaskan. Why? Soalnya tukang tambal ban jauh-jauh, pun rawan kejahatan. Tapi, Anda nggak bakalan lolos dari kejadian ban bocor ini. Yah, makanya hati-hati saja deh. Percaya insting aja. Kalau ada yang terasa nggak beres, segera menghindar.

18. Banyak lomba lari!

Sebagai pelari pemula, ini adalah salah satu yang saya suka dari Jakarta. Runner-nya banyak! Kayaknya 30% penduduk Jakarta doyan olahraga deh. Enggak heran, begitu ada Car Free Day (satu-satunya program Mr. Kumis yang dipuji) alias hari bebas kendaraan bermotor tiap minggu, perhelatan lari massal banyak diadakan.

Bulan Juni ini saja, nyaris tiap minggu ada lomba lari diadakan. Jaraknya mulai dari 5K (5 kilometer) sampai 10K dan half marathon (21 kilometer). Makanya, rugi banget lah kalau enggak mencoba berlari hehehe. Saya juga masih pemula dan belum bisa lari kontinyu. Tapi sudah PD aja daftar lomba 5K :D Enggak apa kalau kalah, tapi dapat kaos gratis nyehehehe!

19. Diskriminasi Parkiran

Let’s face it, motor memang warga nomor 3 di Ibukota. Setelah mobil lalu setelah bus/angkot/truk. Kami memang makhluk marjinal yang dikenal sembarangan dan berantakan. Well, kadang saya juga sebel sih kalau ada pengendara motor buta aturan. Main selip dari kiri, potong jalan, nggak mau berhenti di lampu merah, naik trotoar, dll. Tapi bukan itu poinnya.

Yang mau saya protes itu adalah kebijakan gedung-gedung memanjakan mobil-mobil berpantat dan berbadan lebar dengan penumpang seorang sopir doang itu, dengan parkiran yang maha luas dan gampang! Coba deh, bawa motor waktu liputan. Parkirnya Rp 2.000/jam pun parkirnya jauh atau liar (karena pengelola gedung tidak menyediakan parkiran).

Lebih sebal lagi (dan saya kapok kesana naik motor lagi), adalah Mal Kelapa Gading. Yes, saya sebut nama. Parkir motornya sangat tidak bersahabat untuk para biker. Letaknya di gedung seberang, untuk menemukannya saya harus memutari 1 blok mal. Lalu di basement paling bawah, dan yang paling parah, Anda harus turun dan menuntun motor mulai dari kasir karcis sampai parkir!

Saya agak memahami alasannya: mungkin karena di basement dan akan bahaya untuk pernafasan kalau semua motor menyalakan mesin. Tapi menuntun??? Astagaaa!!! Siang bolong, Anda kudu menuntun jauh kalau tidak dapat parkir dekat jalan keluar. Pun ketika pulang, tuntun lagi sampai kasir. Cih! Tips, parkir saja motor Anda di ruko-ruko seberang mal. Atau, naik bus atau jalan kaki saja! Kecuali Anda salah satu pengguna mobil berpantat lebar dan berbadan panjang “yang muat” 1 orang saja itu ya. Iya, ini saya memang sarkastik :p

20. Macet Senin dan Jumat

Cuma 2 hari? Enggak salah?

Iya, Jakarta memang dikenal kota biang macet. Gerimis sedikit, macet. Demo sedikit, macet. Presiden lewat, macet *eh*

Tapi, setidaknya memang Senin dan Jumat yang jadi momok pengendara kendaraan bermotor. Lebih spesifik, Senin pagi dan Jumat sore.

Logis saja, Senin pagi adalah hari meeting sedunia. Nyaris semua orang kantoran mengadakan meeting di hari pertama hari kerja itu plus sebagian mungkin berkendara langsung dari luar kota. Saat semua orang punya kebutuhan yang sama, di situlah terjadi penyumbatan! Tahu kan? Yang biasanya pakai jalan gantian, hari itu jadi barengan? Macet sampai Mars!

Sebaliknya, hari Jumat adalah bibir dari akhir pekan. Banyak yang memanfaatkan sisa hari yang sedikit itu untuk pulang di rumah luar kota, bepergian, wisata, dan sebagainya. Rumus yang sama dengan hari Senin lah yaaa: Macet semacet-macetnya!

Nah, kayaknya segitu dulu saya bisa cerita. Sambung lagi kapan-kapan ya…atau kasih tahu saya, apa sih yang bakal kita temui di Ibu tiri, eh ibukota ini?

Cheers!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s