Duduk di samping “intel”


WARNING: cerita ini kayaknya bakal panjang dan kemana-mana. You’ve been warned.

Pernah enggak ngobrol sama sniper (penembak jitu), bodyguard pribadi, atau mata-mata?

image from here

Selain seram, kayaknya mereka juga bukan jenis (halah, jenis :p) orang yang bakal salaman sama kita terus bilang: “halo, saya pembunuh bayaran top, senang bertemu denganmu.”

Mimpi.

Eh, bukan berarti saya sudah benar-benar ketemu dengan salah satunya ya. Saya cuma menyimpulkan.

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya naik pesawat komersil perjalanan Surabaya-Jakarta. Semua berjalan apa adanya mulai dari proses check-in sampai proses tunggu masuk pesawat. Dengan santai saya menunggu sejam lebih awal dan memutuskan untuk membuka laptop sampai…tidak tahu bagaimana, ada panggilan terakhir! Gila! Panggilan pertamanya kapan? Kok tahu-tahu terakhir??

Bersama saya, ada 5 orang lain yang sama terlambat. Tadinya, saya pikir digabung dengan penerbangan lain karena sedikit sekali rombongan terakhir saya. huh

Tergopoh-gopoh saya segera mencari tempat duduk saya yang ternyata dekat jendela. Ah, beruntung seperti biasa, pikir saya. Tapi, ternyata kursi itu sudah ada yang menempati! Setengah jengkel, saya tanya nomor tiket bapak itu. Pria berambut cepak dan berkulit gelap itu mengaku tadinya ia pikir kursi saya kosong. Akhirnya ia mengalah duduk di tengah (iyalah!).

Nah, ransel saya ternyata tak bisa ditaruh di kabin lantaran sudah penuh (egois betul para penumpang yang bawa tentengan lebih dari 1 koper dalam kabin). Akhirnya ransel saya jejalkan ke bawah kursi depan seperti biasanya.

Tapi….

Ternyata, kursi saya bukan kursi biasa melainkan sisi pintu darurat! Anda tahulah, penumpang di kursi itu harus membaca petunjuk keselamatan baik-baik supaya kalau ada apa-apa, bisa membantu membuka pintu darurat.

Nah, saat menjelang lepas landas. Si bapak minta ransel saya dipindah karena jalur evakuasi harus bersih dari barang. Anehnya, pramugari mengatakan pada saya, “mohon dibantu untuk menaruh di belakang mbak,” katanya, kemudian melanjutkan: “mbak juga silahkan pindah ke belakang, ikut saya.”

Apa? Alasannya apa? Itu kan cuma kebetulan kursi dekat pintu darurat, ya saya nggak mau dong. Mana pintu keluar yang dibuka hanya satu. Artinya, saya harus tergopoh-gopoh membawa ransel berat dari ujung ekor pesawat saat nanti mendarat? Ogah!

Dengan sebal sambil berpaling saya bilang, “nggak ah mbak, saya di kursi saya sendiri saja.” Karena sudah tak ada waktu, akhirnya saya dibiarkan kembali.

Keanehan dan ketidaknyamanan mulai terasa saat peragaan keselamatan. Usai memperagakan baju pelampung dan masker udara seperti biasa, salah seorang pramugari menghampiri saya dan meminta saya menyimak baik-baik cara membuka pintu pesawat. Saya menyanggupi dan berusaha tenang. Bapak sebelah menyeletuk,”tanggung jawabnya berat,” katanya. Sambil tersenyum enggan saya menanggapi sambil lalu, “iya, pasti tak semudah kelihatannya,” jawab saya.

Setelah itu perjalanan berlangsung biasa. Percakapan saya dengan si bapak berambut cepak hanya seputar prosedur evakuasi standar. Selebihnya, saya memilih tidur.

Saat mendarat, hingga saat seluruh penumpang pesawat keluar, si Bapak masih di tempatnya. Saya pamiti, “duluan pak, terima kasih,” ujar saya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil.

Semua hal ini terlupakan, sampai….

Kemarin saya mengobrol via WhatsApp dengan seorang teman yang bekerja sebagai pramugari airline asing. Saya ceritalah sebagian kejengkelan saya karena disuruh pindah waktu itu.

Kata dia, seharusnya tidak ada alasan saya dipindahkan karena saya tetap dihitung “able bodied pax” alias orang yang mampu untuk membantu evakuasi. Perkecualian hanya untuk anak-anak, orang tua, penyandang cacat tubuh, wanita hamil dan orang yang tidak mau. Selain itu, tak ada alasan saya dipindah. Kemudian, tiba-tiba dia juga bilang:

“Kalaupun ada nomor seat yg harus ditukar biasanya dikarenakan oleh security on board (air marshall).”

Hah? Saya bingung. Lalu dia menjelaskan, Air Marshall atau security on board adalah petugas keamanan khusus yang membawa senjata dan semacamnya tetapi menyamar jadi penumpang biasa.

Lalu, biasanya mereka juga sudah punya koordinasinya sendiri dan tidak boleh membiarkan penumpang lain menyadari kehadiran mereka. Teman saya juga menjelaskan, biasanya air marshall alias Z1 selalu duduk di samping pintu darurat atau di dekat pramugari.

Glek..

Tiba-tiba semua rasa tidak nyaman dan “keanehan” terasa jelas. Pantas saja pramugari separuh memaksa saya pindah. Pantas bapak-bapak berambut cepak, berjaket kulit dan berkulit gelap itu mengaku salah kursi. Pantas hanya saya yang diberitahu prosedur buka pintu darurat padahal ada 3 orang lain yang semuanya wanita berada di sisi pintu darurat lain (bahkan salah satunya menaruh tas tangannya di sandaran kursi dan pintu darurat), pantas…si bapak keluar belakangan dan terlihat mengamati sesuatu.

Ahh…jadi si bapak itu adalah…

Yah, saya juga tidak berani memastikan. Tapi setelah tahu fakta begitu, saya jadi bisa melihat benang merahnya. Entah siapa orang penting yang ia bawa, atau bisa saja si bapak betul-betul penumpang biasa, siapa sangka?

Karena identitas dia tidak boleh ketahuan, maka akhirnya saya dibiarkan menempati kursi sesuai nomor tiket saya.

He he, pengalaman lah ya. Setidaknya sekarang saya tahu cara buka pintu darurat. Tapi semoga pengetahuan itu tak perlu saya praktekkan!

Cheers!!

Elga signature

One thought on “Duduk di samping “intel”

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s