Laporan Nonton: Teater Dokumenter “Sangkar Madu”


Betapapun menarik dan membuat rindu. Ketika kembali ke daerah asal, mereka melepaskan segala pengalaman dan menjalani kehidupan sama seperti sebelum pergi.

Disclaimer: ini bukan ulasan dari kacamata pengamat seni ataupun kritikus ya. Saya cuma penonton yang terkesima dan pulang dengan hati gembira. Juga, tulisan ini super panjang karena saya adalah editor yang buruk buat tulisan sendiri. Harap sabar. You’ve been warned, dear :D

Ceritanya, sebulan lalu -tepatnya  Sabtu, 1 Juni 2013- saya menonton pertunjukan teater dari Teater Garasi di Erasmus Huis, Jakarta berjudul “Sangkar Madu”. Kebetulan inisiatior dan sutradaranya, seorang yang saya kenal: mbak Verry Handayani. Waktu dengar kabar dia akan mementaskan sebuah naskah teater, saya langsung tertarik. Cuma saya pikir mbak Verry hanya akan mementaskannya di Jogja dan sekitarnya (baca: yang dekat-dekat Jogja) saja.

Maka saat mbak Verry mengumumkan akan membawa pementasan  “Sangkar Madu” ke Jakarta, saya pun langsung antusias mencari info tiketnya. Jujur saja, faktor “teman” adalah pemicu utamanya. Bukan judul atau tema. Seumur-umur saya menonton lakon Teater Garasi bertahun-tahun (halah), saya nyaris tidak menyadari “yang mana tho, Verry Handayani?” atau “Bagaimana sih, pentas yang ia sutradarai?” Jadi, wajar saja jika saya membawa sebongkah rasa penasaran. Tapi, minus ekspektasi jalan cerita.

Meski tak berekspektasi apa-apa, saya terusik juga dengan tema yang dibawa: buruh migran. Saya membatin, “sisi buruh migran mana lagi yang mau diungkap? Apa yang tragis dan sedih-sedih lagi?” Maklum, sebagai warga negara dan pekerja media, saya selalu dijubeli fakta dan data bahwa buruh migran itu pihak pekerja paling tragis di antara jajaran pekerja negeri ini. Tambah, ini di-teater-kan. Lha, apakah nanti saya bakal dibuat menangis dan terenyuh lagi? Kita lihat saja.

Kejutan Pertama: Ini teater (dokumenter)!

Oke, ini adalah kejutan pertama buat saya. Pentas ini bukan lakon karangan atau fiktif tapi dokumenter dalam wujud pentas teater. Beda dengan cerita yang meski berdasar kisah nyata, tetap diwujudkan dalam cerita yang direkayasa.

Para pemerannya, menjalani dua peran sekaligus: sebagai pencerita (diri sendiri) sekaligus perwakilan tokoh yang sungguhan ada. Selama riset naskah, mbak Verry membawa para pemeran untuk menemui narasumber mantan buruh migran di Desa Jangkaran, Kulonprogo, Yogyakarta. Meski di atas panggung nama-nama mantan buruh itu disamarkan, tapi tutur kata, logat, dan karakteristik orang tersebut dibawakan sepersis mungkin oleh si pemerannya.

Namanya juga dokumenter, maka seperti membaca klipingan atau guntingan berita, memandang foto-foto, atau mendengar tuturan asli, begitulah rasanya menonton pertunjukan ini. Nyata. Asli. Walaupun tidak tahu sepersis apa dengan aslinya.

mbak Verry bilang, pementasan ini adalah bagian dari “obsesi” yang belum selesai. Dulu dia pernah menggarap lakon serupa beberapa tahun silam. Kalau lihat dokumentasinya, kisahnya tragis dan menyayat hati. Makanya dia bilang, masih ingin menggali sisi lain buruh migran dan menyajikannya ke panggung teater.

Jadi, tidak ada edisi kalimat-kalimat puitis atau jeritan menyayat hati? Iya, tidak ada. Tapi bukan itu sih, intinya.

Tokoh asli, kisah asli

Jujur saja, karena di pamflet tak disertakan nama-nama tokoh yang diperankan, saya tak bisa menyebut satu-satu nama mereka. Tapi yang saya ingat betul, kelima tokoh itu mewakili lima orang dengan pengalaman hidup berbeda. Tak semuanya mantan buruh migran, tapi mereka semua terhubung dengan kehidupan buruh migran.

Satu-satunya nama yang saya ingat cuma Bu Saerah. Bukan karena pelakonnya, Ozi (Siti Fauziah, kebetulan saya kenal juga he…) memerankannya dengan begitu sempurna, tapi ya karena nama itu menempel begitu saja. Pun yang diperankannya adalah sesosok mantan buruh migran veteran. Usia Bu Saerah ini paling tua dibanding keempat tokoh lainnya dan punya gestur orang tua: terbungkuk, batuk, tak lancar bahasa Indonesia baku. Lalu, si nenek ini mantan buruh Arab (BA :D) dengan celetukan berbahasa Arab yang amat lancar. Makanya saya paling ingat padanya.

Selain bu Saerah, ada pula mantan buruh Korea, diperankan sebagai pria bertubuh tambun yang pernah bekerja di pabrik negeri ginseng itu. Lalu, ada mantan buruh Taiwan yang jago masak mi, seorang pemilik warung dan pemilik usaha katering di desa itu. Yah, ingatan saya terbatas, jadi tak persis ingat.

Kelimanya adalah tokoh nyata yang namanya disamarkan untuk menjaga privasi. Dalam teater ini, pengalaman hidup mereka dikisahkan kembali.

Sisi Lain Buruh dalam Fragmen

Jalan cerita teater ini memang bukan rangkaian dengan satu plot utuh melainkan fragmen alias potongan-potongan. Mirip membaca komik Miiko atau Doraemon. Satu fragmen, satu benang cerita.

Karena kisah hidup seseorang bisa lumayan panjang dan (bisa jadi) membosankan, maka saya memuji pilihan mbak Verry untuk menyajikan potongan-potongan yang relevan dan “dekat” dengan penonton. Hal-hal biasa dan rutin yang berbeda sehingga terasa eksotik.

Misalnya fragmen tentang masakan dan kebiasaan, terasa seperti membaca brosur wisata dari sudut pandang pelaku. Menjawab rasa penasaran tentang budaya yang sama tapi dilakukan di tempat yang berbeda. “Di sana kami juga suka ada pengajian, ho’oh,” kata si mantan buruh Taiwan.

Para pemeran Sangkar Madu. Maaf, resolusi buruk.

Para pemeran Sangkar Madu. Maaf, resolusi buruk.

Seting panggung dibuat sederhana dan multiguna. Kami, penonton, bertepuk tangan saat meja kasir dibalik dan diubah jadi dapur lengkap dengan kompor yang betulan menyala. Masing-masing pemeran menceritakan kisah mereka bergantian, sahut-sahutan dan saling menanggapi. Kami terbahak saat bu Saerah cerita kebiasaan pesta di Arab Saudi yang heboh dengan tarian perut. Bahkan, kelima tokoh menghebohkan panggung dengan menari Gangnam Style yang dipopulerkan Psy dari Korea. Membawa contoh pengalaman budaya dalam bentuk paling sederhana supaya penonton terhubung: tren.

Para pemeran terasa alami menjalankan perannya sebagai pencerita maupun tokoh yang diceritakan. Gantinya sederhana saja: tambah aksesoris, mengikat rambut, memakai topi dan mengubah gaya bicara. Sudah terasa betul bedanya. Entah sesulit apa memerankan orang lain yang hanya dikenal melalui wawancara dan mempelajari kebiasaannya.

Seperti yang saya bilang tadi, cerita lakon ini sama sekali tidak ada tangis-tangisan. Tapi bukan berarti minus ketegangan. Misalnya saat bu Saerah cerita ada sweeping (apa ya padanan katanya?) sampai ia harus sembunyi di lemari kain lantaran takut diciduk polisi di Arab. Saya jadi sadar juga, ada persoalan yang diam-diam mengintai, yakni legalitas keberadaan mereka: para buruh migran, di negeri orang. Mungkin saja bu Saerah tak tahu cara menjadi buruh secara legal atau sebetulnya ia legal tapi tetap ketakutan pada aparat keamanan. Sebab, resiko warga negara, apalagi pekerja rumah tangga di negara lain jelas lebih besar. Bisa hilang atau diadili tanpa sempat melakukan pembelaan diri….

Sepotong kisah masa lalu

Dalam penceritaan itu juga digambarkan betapa kehidupan para buruh migran ini (yang tidak mengalami kekerasan) mampu mengubah perekonomian keluarga. Mereka digambarkan punya rumah yang lebih mewah dibanding para tetangga. Tapi yang bikin senyum miris, pekerjaan buruh tetap dianggap aset mendatangkan fulus bagi desa dan keluarga. Anak-anak perempuan seolah dididik untuk bersiap bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pun para mantan buruh migran diharapkan mau memberikan sumbangan berupa uang atau fasilitas karena dianggap lebih “berpunya.”

Di akhir cerita, para pemeran menuturkan, kisah-kisah yang dialami para buruh migran ini tak ubahnya satu lembar cerita yang sudah dilupakan. Betapapun menarik dan membuat rindu. Ketika kembali ke daerah asal, mereka melepaskan segala pengalaman mereka dan menjalani kehidupan yang sama seperti sebelum mereka pergi. Mungkin saja, itu adalah salah satu cara mereka beradaptasi.

Tapi seperti kata para pemeran, pengalaman mereka tak dimaknai lebih dari sekedar pengalaman hidup. Bu Saerah tak serta merta membuka katering khusus masakan Arab, misalnya. Atau mantan buruh pabrik Korea benar-benar merintis usaha kembali ke negara itu betapapun dekatnya ia dengan mantan atasan dan betapapun ia dengan senang hati kembali.

Mungkin, kisah-kisah itu hanya bentuk dongeng yang bisa diceritakan pada anak cucu. Bahwa dulu ayah, ibu, nenek, pernah begini dan begitu. Pernah mencicipi kehidupan yang sama sekali beda dengan di negeri sendiri.

Saya memiliki keuntungan sebagai penonton karena memahami alur cerita dan dialog yang kebanyakan disampaikan dalam tutur bahasa Jawa. Mungkin terasa berbeda bagi penonton yang tak mengerti sama sekali walaupun ada teks terjemahan di layar. Tapi, meski saya terbahak dan terhibur, persoalan buruh dan kehidupan yang terlihat menyenangkan ini ya masih menyimpan ganjalan. Sejauh mana budaya antar negara dipertemukan dalam kaitannya dengan kehidupan atasan-bawahan yang dialami para buruh migran itu?

Begitulah yang bisa saya ceritakan. Nanti kalau saya teringat sesuatu atau merasa kelebihan sesuatu, tulisan ini akan saya utak-atik lagi. Selebihnya, maaf sudah menahan Anda lebih lama dari yang Anda harapkan.

Salam,

Elga signature

NOTE: Sebetulnya, karena sudah bertahun-tahun tidak menjadi penonton teater, pendapat saya ini bisa dikategorikan amatiran. Tahulah, semacam wujud gumunan (mudah heran, -Jawa) dan memaknai dangkal saja. Tapi, karena saya suka (catat ini), maka saya jadi ingin membahasnya sesuka saya sekaligus sudah terlanjur janji sih sama mbak Verry ehehehe!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s