Seorang Anak Kecil dan Mainan Halma*


Sekali-sekali, saya ingin cerita ah..

Ada seorang anak yang berulang tahun keenam di bulan Juli. Pestanya sederhana saja: bersama ayah, ibu serta nenek tercinta. Meski sederhana, ia tampak gembira. Memonopoli hiasan cokelat kue tart untuk dirinya sendiri.

Kado-kado pun dibuka. Kebetulan, semuanya memberi mainan. Si anak senang sekali. Dari ayah ia dapatkan robot rakitan. Begitu pula dari ibu. Uniknya, nenek memberinya papan-papan permainan lawasan: monopoli dengan ular tangga di lain sisinya, serta…halma.

Halma-Spielfeld

Papan halma tampak menarik baginya. Bintang besar enam sudut warna-warni. Di dalamnya ada titik-titik hitam yang saling berhubungan. Terpesona, ia minta ayah-ibu mengajarkannya. Malam itu, di hari ulang tahunnya, si anak kecil belajar bermain halma.

Ibu memberitahu aturan mainnya: jalankan pionmu satu-persatu menuju ruang berwarna serupa. Caranya adalah melompati pion lain di depannya. Jika tak ada pion lain, kau hanya berhak menggeser satu langkah saja. Demikian seterusnya kau lakukan hingga seluruh pionmu berpindah tempat dengan cepat.

Si anak tampak tak paham namun mengiyakan. Pada akhir permainan, ayah-ibu-nenek sibuk bermain sendiri, adu strategi. Si anak menyemangati dan tertawa bersama. Berkali-kali ia menyenggol papan dan mengacaukan permainan. Ayah memintanya mengamati dan berpartisipasi. Tapi si anak sudah kehilangan minat dan perhatiannya.

Pagi harinya…

Si anak berteriak-teriak memanggil sang nenek. Ayah ibu pergi bekerja. Ia libur dan ingin bermain. “Nek! Ajari aku bermain halma!” Teriaknya. Ia terus menyerocos tanpa henti. Ia bilang, “Aku bingung kenapa mainnya begini, kenapa begitu!”

Si nenek dengan enggan datang menanggapi. Dengan sabar ia meminta si anak menyusun papan halma dengan pion-pion di atasnya. Menunjukkan caranya. Tapi, entah kenapa, si anak terus berteriak frustasi, “aku bingung! Kemarin ayah ibu mainnya begini! Aku tidak tahu! Aku bingung caranya! (Sembari meninggikan suara nyaris menangis),” jeritnya.

Nenek berusaha menata papan halma, tapi si anak seperti hilang akal dan hanya memuntahkan rasa kesal. Tak sedikitpun ia berhenti dan mendengarkan.

Nenek mulai hilang sabar dan meninggalkannya sendirian. “Kamu mau diajari malah marah-marah!” Tukas nenek. Si anak kecil terdiam. Tak lama, ia sudah sibuk dengan robot-robotannya.

Aku, si pencerita, ingin menghardik si anak: “Kamu tak cukup menaruh perhatianmu! Kamu ingin bisa tanpa belajar caranya! Kamu malas dan manja!”

Tapi, tentu saja aku tak bisa. Aku cuma pencerita, bukan?

KET:
*Halma adalah permainan menggunakan pion di atas papan bergambar bintang sudut 6 yang dimainkan 3 orang. Intinya adalah memindahkan pion-pion milik pemain menuju area berwarna sama di seberangnya dengan saling melompati pion lain. Yang tercepat menyusun pion di tempat baru, memenangkan permainan ini.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s