Saya (hampir) jadi jurnalis


Sebelumnya, saya enggak pernah menyinggung secara khusus tentang pekerjaan. Maklum, banyak orang ingin memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi dan…yang enggak penting-penting macam ini hihihi.

Tapi saya ingin sedikit cerita enggak apa-apa ya.

Sudah sepuluh bulan belakangan, status saya berubah jadi wartawan. Well, belum berstatus karyawan (tetap) sih, tapi kemana-mana saya mengaku wartawan beneran. Melakukan pekerjaan wartawan sungguhan juga seperti wawancara, ketemu narasumber, cari data dan informasi, lalu menuliskan jadi laporan.

Tapi saya masih belum merasa jadi wartawan betulan. Kok?

Bagaimana ya bilangnya…soalnya saya belum merasa punya kemampuan untuk disebut sebagai wartawan. Bayangkan ya, saya masih belum aktif memberikan ide liputan, masih suka enggak paham tentang isu walaupun sudah riset sana-sini (via internet). Saya juga masih belum bisa menembus narasumber-narasumber yang…haduh, lebih susah dihubungi daripada menteri.

Singkatnya, saya merasa belum punya jurus-jurus jitu pun sikap dan sifat seorang jurnalis yang baik dan mumpuni. Ini bukannya mencari pembenaran atau manja-manjaan dengan memancing hiburan ya (emang dangdutan?). Banyak yang bilang, “tenang saja, toh kamu masih baru.” Tapi…tapi saya merasa, harusnya siap amunisi juga sih ya…

Ada kalanya saya ingin semuanya segampang memakan roti penghapal milik Doraemon. Itu lho, yang tinggal dijiplakkan ke buku lalu dimakan. Terus nanti kita jadi ingat segala hal. Enak ya? Iya, mengkhayal memang enak. ha ha!

Tapi, entah kenapa…saya suka lho ada di sini. Mungkin karena semua serba baru dan membuat saya tertantang. Walaupun sering juga sih, rasanya capek luar biasa hingga ingin ngesot pulang saja hahaha! Apalagi kalau narasumber susah dihubungi..dududu! *garuk-garuk tembok*

Setelah masa stres di bulan-bulan pertama karena adaptasi pekerjaan, sekarang saya stres lagi karena pindah kompartemen…walaupun yang sekarang lebih seru sih. Saya banyak mengulas hal-hal riil seputar isi dapur dan kebutuhan pangan. Sesuatu yang dekat sama kehidupan sehari-hari sebetulnya.

Ibu saya sampai bilang begini, “Ealah nduk (panggilan anak perempuan), ternyata kamu kok beneran jadi wartawan.” X))) hahahaha!! Lha dulu ibu mikirnya saya jadi apa ya? Sudah niat ambil jurusan jurnalistik juga!

Ya beginilah, saya juga sudah terlanjur basah. Sudah kadung kecemplung di pusaran kencang bernama isu dan berita. Kita lihat saja ini nanti pusarannya bagaimana. Apa membikin saya membubung tinggi seperti burung yang masuk termal atau malah terpental keluar.

Tapi, kalau ditanya orang: Apa pekerjaannya mbak?

Saya sudah bisa jawab: Wartawan.

Hehehe!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s