Kenapa kita kudu berseteru melulu?


Sebagai manusia, saya cenderung tidak tahan untuk tidak berkomentar. Yah, anggap saja ini bagian dari kegiatan sampingan saya. Iya, semacam komentator profesional tak berbayar. Hehe!

Ceritanya, saya mulai masuk fase kehidupan paska-sekolah. Tahulah, bekerja, menikah, berkeluarga, pindah wilayah, dan seterusnya. Oh, saya sendiri baru tahap pertama saja: bekerja penuh waktu. Dan betulan penuh waktu. Soalnya orang lain bekerja sekitar 7-8 jam (tergantung efektifitas kerja dan waktu tempuh perjalanan), sementara saya, walaupun terlihat fleksibel, minimal 10-12 jam. Lhaa…kok curhat.

Sementara, di sudut pojok kehidupan sana, teman-teman saya memasuki fase hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang baru pacaran, ada yang masih berkutat mencari gelar, ada yang sudah jadi manajer, tapi sebagian besar setahu saya mulai menikah dan memiliki anak.

Di sini saya mulai menarik diri dari cerita berjalan dan memilih jadi penonton. Yaaa, melihat bagaimana yang itu berjibaku dengan hubungan jarak jauh sementara yang ini menikmati peran barunya sebagai ibu baru, sementara yang lain masih mengupayakan kestabilan pekerjaan. Semuanya terlihat sahut-menyahut seperti film yang diputar simultan bersilangan.

Tapi yang menarik dari semua potongan cerita mereka, entah sadar atau tidak, masing-masing meski masuk ke fase yang sama, mengambil kelompok yang berbeda-beda. Lalu…mulai berseteru. Nah, ini seru. Sekaligus miris.

Saya ambil contoh salah dua di antaranya. Dua kasus yang paling dekat dan cukup saya pahami meski belum saya alami. Just simply because…I am a woman too. Itu lho, isu seru tentang “ibu penuh waktu (full time mother) dan soal menyusui dengan ASI (air susu ibu/breastfeeding).” Sebetulnya saya tidak kompeten menyoal ini dari sisi ilmiah. Jadi biarlah tugas itu dilakukan para peneliti dan mesin pencari. Saya cuma tidak tahan berkomentar saja ehehe!

Saya akan mencoba untuk tidak berat sebelah. Jadi, sebagian besar teman saya yang telah menikah langsung masuk fase OB = Orangtua Baru. Teman-teman saya itu, pastilah tegang campur gelisah karena merasa tak punya pengalaman. Gimana nih caranya menghadapi bayi? Nanti kalau gede mau diajarin apa? They have no idea how to be parents, right? Sama saja dengan “pertama kali” untuk segalanya. Cemas dan takut salah itu lumrah.

Tapi di mata saya sebagai penonton. Masing-masing orang mulai mencari “pembenaran” sendiri-sendiri, terutama berkaitan dengan pilihan-pilihan mereka.

Contohlah si A terlihat tidak suka dan sakit hati karena dibilang ibu rumah tangga “tidak sibuk” karena tidak bekerja. Sementara si B yang bekerja merasa bersalah dan tidak lengkap karena harus meninggalkan anaknya di rumah. Di sudut sana ada si C yang merasa bersyukur bisa menyusui bayinya bahkan menyumbangkan ASInya untuk bayi lain. Tapi si D tak bisa berbuat apa-apa selain menggunakan susu bubuk alias susu formula karena entah kenapa ASInya tak keluar.

Ada aktor-aktor yang saya keluarkan di sini. Yakni si Y yang mengabaikan anaknya atau si Z yang memilih tidak menyusui karena alasan tidak peduli. Bagi saya mereka tidak perlu dipahami pun dipedulikan. Mau disindir seperti apa percuma bukan?

Semua sepakat bahwa merawat anak itu komitmen sebagai orangtua. Iyalah, kalau tidak mau jadi orangtua jangan punya anak. Selesai. Semua juga sepakat kalau air susu ibu itu memiliki unsur gizi terbaik bagi calon manusia dewasa yang masih berwujud makhluk kecil tanpa daya itu.

Tapi tidak perlu melegitimasikannya jadi satu-satunya pedoman suci kehidupan, ya kan? Mungkin saja, pihak yang saling menyindir entah di media sosial atau pembicaraan umum itu sebetulnya mencari pembenaran atas pilihan mereka. Bahwa, dengan memilih keluar dari pekerjaan dan mengasuh anak 24 jam adalah hal yang paling benar. Atau, bisa bekerja dan mengatur aktivitas sembari mengasuh anak adalah hal yang hebat. Lalu membuat “geng” atau “komunitas” yang sama dan menyerang lainnya. Tambah lagi, mencari bukti-bukti yang “menguatkan pernyataan itu” pendapat ahli, komentar orang terkenal dan seterusnya.

Nah, bagaimana tuh kelihatannya?

Tiap orang memiliki alasannya untuk menentukan pilihan. Tapi seharusnya ia juga tidak memaksakan pilihannya itu jadi pedoman baku orang lain bukan?

Betul sih, sifat dasar manusia itu ingin mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau mengamini hal-hal yang ia yakini. Saya juga begitu. Sebisa mungkin saya ingin orang lain setuju dengan saya. Dan ya, saya juga bisa merasa tersinggung saat pendapat saya tidak diakui atau disetujui. Itu wajar bukan?

Tapi saya berusaha keras menghargai pilihan orang lain yang berbeda. Misalnya, karena lahir di keluarga dengan kedua orangtua bekerja, saya juga merasa sedikit terusik melihat teman-teman yang mumpuni di bidang kerjanya meninggalkannya untuk mengasuh anak. Tapi itu sudah pilihan mereka. Mungkin saja suatu waktu mereka akan kembali, mungkin tidak. Disayangkan, tapi dimaklumi. Kira-kira demikian.

Bagi mereka yang meneruskan bekerja sembari mengasuh anak, itu juga tak mengapa. Karena banyak alasan yang tak perlu diperdebatkan. Toh, bukan orang lain yang menjalani. Masing-masing punya skala prioritasnya sendiri.

Tapi untuk yang merasa benar sendiri, mbok eling (tolong ingat). Sama seperti “banyak jalan menuju Roma” , yang penting tujuannya kan sama meski caranya beda-beda. Saya yakin sih, jaman orangtua saya dulu karena tidak ada internet mereka pasti lebih cemas. Mencoba menemukan formula yang paling tepat untuk membesarkan saya dan kakak saya.

Lucunya (atau ironisnya), saya tidak ingat sebagian besar masa kecil saya. Apakah ibu saya menyusui saya 6 bulan atau dua tahun (akhirnya cuma tahu dari cerita saja). Atau apakah saya merasa sedih karena ditinggal ayah ibu kerja atau tidak. Saya sudah lupa. Toh saya tidak merasa kekurangan perhatian atau cinta mereka.

Saya sih cuma bisa menyumbang doa, semoga keseruan belajar sebagai orang tua tidak membuat kawan-kawan saya lupa tujuan utamanya: anak yang sehat dan bahagia. Apapun caranya yang penting harapannya sama.

Selamat menjalani peran baru ya, semoga ayah-ayah baru juga tak lupa menceburkan diri ke fase itu. Jangan menghindari tugas yang tidak menyenangkan seperti ganti popok atau bangun tengah malam.

Selain dua hal itu masih banyak hal lain yang diulang dan diperdebatkan secara kontinyu. Cuma saya menahan diri agar tak berpanjang-panjang mengeluh dan membuat citra positif saya ternoda (halah!). Mungkin juga, itu karena bumi bulat dan berputar. Masalahnya ya itu-itu melulu. Hahahha!

Cheers!

Elga signature

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s