Mendaki Lawu di Malam Satu Suro


Malam ini linimasa Twitter saya dipenuhi kicauan seputar 1 Suro dan segala ritual yang mengikutinya. Contoh, jamasan (mencuci benda pusaka), mubeng beteng (mengelilingi benteng Jogja), tapa bisu dan seterusnya. Ditambah pula dengan aktivitas pendakian gunung di malam keramat ini.

Lalu saya teringat beberapa tahun lalu…

Waktu itu saya dan beberapa teman UKM pecinta alam, semuanya perempuan, merencanakan pendakian gunung Lawu. Girls only niatnya. Tapi seperti bisa diduga dalam kasus mana saja, cewek gampang berubah pikiran (ya kan?). Jadilah menjelang hari H tersebut peserta berguguran. Tinggal saya dan seorang senior perempuan.

Harusnya, kalau tinggal berdua, keputusannya sudah jelas: batal saja. Tapi sepertinya ada yang tidak beres di otak kami berdua waktu itu sehingga tetap memutuskan berangkat.

Well, karena cuma berdua maka kegiatan berkemas jadi lebih ringkas. Sayangnya, kami tidak bisa meminimalkan peralatan. Agar aman dan “nyaman”, kami tetap harus membawa tenda, kompor dan tentu saja, air. Ugh… Sudah cuma berdua, perempuan semua pula… Huhuhu… Berat gan!

Tapi kami dapat rejeki pinjaman tenda mini dari teman yang lain. Senior saya membawa ransel terberat berisi tenda, sedangkan saya membawa kompor dan bahan makanan. Ribet? Pastinya. Lebih sinting lagi, kami memutuskan bermotor ke pos awal pendakian Lawu di Cemara Sewu.

Dari Jogja ke Cemara Sewu yang ada di Kabupaten Karanganyar butuh waktu tempuh sekitar 4 jam kalau saya tak salah ingat. Yang terberat justru selepas Solo menuju Cemara Sewu. Jalan berkelok sementara saya membonceng di belakang dan menyandang carrier seberat 12 kilogram. Andai ada instruktur kebugaran, dia pasti akan sependapat: perjalanan menanjak dengan menahan carrier di pundak bakal bikin perut kotak-kotak!

Kami tiba sudah cukup sore waktu iti, sekitar jam 5 petang. Kami memutuskan segera saja mendaki dan menitipkan motor di penjaga pos Cemara Sewu. “Teman-temannya mana mbak?” tanya si penjaga. “Oh, mereka masih di Tawangmangu mas,” dusta kami.

Yap. Kami (terpaksa) banyak berbohong saat itu. Maklum saja, kami kan tidak tahu apa yang akan dipikirkan atau dilakukan orang lain jika tahu kami hanya berdua saja, perempuan semua pula. Penampilan saya waktu itu agak “menyelamatkan” kami sebab masih tomboy berambut cepak dan berdada rata sehingga disangka laki-laki.

Waktu mendaki, kami tidak tahu kalau saat itu adalah malam 1 Suro. Sumpah. Kami hanya menandai hari itu sebagai tanggal merah biasa di kalender. Keanehan mulai terasa sebab sesama pendaki yang berpapasan dengan kami tidak terlihat sebagai pendaki.

Maksudnya, kebanyakan mereka tidak berpenampilan atau membawa perlengkapan mendaki yang memadai seperti ransel, jaket atau semacamnya. Mereka bercelana pendek, memakai sandal jepit dengan tas seadanya bahkan ada yang hanya berbekal botol air dan tongkat kayu.

Sialnya, di beberapa pos kecil saya mulai memergoki ada sajen berupa bunga dan dupa. Sial! Sial! Pikir saya. Menjelang pos kedua, kami banyak beristirahat. Maklum saja, biasanya beban pendakian dibagi minimal 4 orang, ini hanya dibagi berdua. Sekelompok pendaki yang turun menyapa kami dan berkomentar, “mbok yang bawa tas besar itu masnya, kasihan mbaknya itu lho,” kata mereka.

Yeah, benar, mereka kira saya laki-laki! hahahah! Saya diam saja. Soalnya bakal lebih awkward kalau saya buka mulut dan mereka tahu yang sebenarnya. Namun pada pendaki yang menyadari kami berdua perempuan selalu menanyakan mana rombongan kami yang lain. Jawaban seperti “sudah duluan” atau “masih di bawah” jadi kalimat andalan.

Situasi jadi agak sulit bagi saya ketika jalan makin menanjak dengan batuan besar khas Lawu dari sisi Cemara Sewu. Saya nyaris tidak bisa menikmati perjalanan lantaran sibuk menenangkan dentuman jantung yang tak mau diam. Daaaan… Tiba-tiba teman saya bilang ia mengantuk.

Rupanya saya kurang mengenal kebiasaan teman perjalanan saya ini. Kalau capek atau mengantuk, dia benar-benar harus berhenti. Wah, gawat, pikir saya. Dia duduk di batu dan tertidur! Bayangkan! Padahal kami belum mencapai tempat datar untuk mendirikan tenda. Duh, dalam situasi terburuk, saya hanya tidak mau dia kenapa-kenapa.

Ini Lawu lho.

Berbagai cerita sudah saya dengar tentang gunung ini, secantik apapun suasana Lawu dengan milyaran bintang yang menaungi di atas kepala, gunung ini menyimpan kekuatan mistis juga. Dan meskipun saya tidak punya indra keenam, saya tidak mau teman saya kesurupan. Lha kalau dia begitu, saya harus bagaimana? Hiiii

Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan tidur di bebatuan. Apa boleh buat! Matras kami gelar, flysheet (pelapis luar tenda untuk menjaga tenda agar tidak basah) kami bentangkan menutupi badan sekadarnya. Dalam hitungan detik teman saya sudab hijrah ke pulau mimpi. Sementara saya berdoa dalam hati. Sialnya, rintik halus kabut mulai menerpa.

Tiba-tiba…

Dari kejauhan terdengar langkah beberapa pasang kaki. Saya langsung waspada. Saya tajamkan telinga… Hah? Suara tembang? Suara tembang itu mendekat dan makin jelas suara laki-laki. “yen ning tawang ana lintang… Lho?! Ada yang tidur di sini?!” seru si pelantun tembang. Ia menghentikan kakinya tak jauh dari kepala saja (yang tertutup flysheet). Sial, rupanya kami asal membangun tenda darurat tanpa menyadari itu dekat jalur pendakian.

“Permisi mas,” lanjut si penembang. Saya tidak bisa memikirkan reaksi lain selain berdehem dan mencoba membuat suara serendah mungkin,” nggih,” tukas saya singkat. Hahaha! Berhasil juga! Tak lama rombongan itu segera berlalu.

Esoknya, kami melanjutkan perjalanan pagi-pagi. Berpapasan dengan beberapa peziarah lain yang hanya memakai sandal seadanya dan ikat kepala. Bahkan penutup mata! Astaga, yang menjalankan laku rupanya banyak juga.

Sial lainnya adalah, rupanya warung-warung tak jauh dari puncak buka! Argh! Tahu begitu kan tidak usah susah payah bawa kompor! Bahkan kami bisa menginap di warung-warung itu karena mereka menyediakan ruang untuk istirahat para pendaki.

Akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan ransel kami barang sebentar di salah satu warung sementara kami mendaki ke puncak. Perjalanan ke puncak terasa lebih mudah karena tak bawa beban di pundak. Then… We found another creepy thing. Gundukan rambut di sekitar tugu puncak! Ghyaaa!

Apa kedai penjual jimat di tikungan yang kami lewati dalam perjalanan dari warung menuju puncak tadi tidak cukup? Kenapa ada gundukan rambut manusia di tugu? Saya ingin menjerit histeris dan ngeri. Badan capek dan saya masih tidak bisa menurunkan kadar waspada. “Nazar orang kali,” ujar teman saya enteng. Baiklah, sepertinya itu masuk akal juga.

Malamnya, kami melakukan hal terkonyol bagi para pendaki lain: menggelar tenda di halaman warung dan…memasak! Hahaha! Sudah capek-capek dibawa, mubazir kan kalau tendanya tidak didirikan? Pokoknya kami mau balas dendam tidur nyenyak dari malam sebelumnya. (duh, punggung saya masih sakit kalau ingat rasanya tidur beralas batu walaupun dilapisi matras).

Malam itu kami makan sosis goreng, roti panggang dan kentang goreng. Hihihi! Mewah yaa! Iyalah! Prinsip saya, kalau naik gunung harus makan bergizi dan enak! Setelah mengemil cokelat dan minum susu, teman saya langsung tertidur pulas. Saya juga bersiap tidur tapi…ada suara beberapa pendaki di luar tenda. “iki lho tenda sing isine wedhok kabeh (ini lho tenda yang isinya perempuan semua, -Jawa)” celetuk salah satunya.

Sial. Bulu kuduk saya langsung berdiri dan saya terbaring nyalang sampai pagi. Saat tidak ada apapun terjadi, saya baru bisa tidur. Di sebelah, teman saya mendengkur dengan damainya. Huh, kamu tidak tahu sih!

Paginya kami segera sarapan dan berkemas. Jalur pulang kami berbeda, kali ini kami lewat Cemara Kandang yang lebih landai. Sayangnya, jalur tanah tersebut lebih licin gara-gara hujan dan kami terpeleset berkali-kali. Tapi kali ini, tiap bersapa dengan pendaki lain yang bertanya, “perempuan semua nih mbak?” kami menjawab “iya dong!” :D Soalnya hari sudah terang dan turun Lawu cuma perlu beberapa jam.

Sekarang kalau ditanya, apa mau mengulangi? Hmmm.. Mungkin kali ini bawa porter saja yaaa!

PS:
Saya jarang bercerita soal pengalaman saya naik gunung padahal sangat menyukainya. Kangen juga sih masa-masa itu. Sayang saya juga tak banyak berfoto. Soalnya waktu itu kamera digital belum semurah sekarang hehe..

6 thoughts on “Mendaki Lawu di Malam Satu Suro

  1. Info: tanggal 18 Juli 2014 malem selikur ada pendakian di gunung sumbing yang mirip dengan pendakian satu suro di gunung lawu. Tahun lalu saya ikut mendaki (sendiri). Rencananya saya ikut mendaki lagi. Kalau tertarik lokasi pendakian dari dusun Cepit desa Pagergunung kecamatan Bulu kabupaten Temanggung. Dari Jogja ke Temanggung trus Parakan. Sebelah timur rumah sakit Ngesti Waluyo Parakan ada jalan yang menuju ke selatan arah desa Pagergunung. Pendakian biasanya dimulai jam 14.00, tapa sampai setelah magrib tetap ada yang baru mulai mendaki. Tertarik dengan tantangannya..?

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s