Kebahagiaan Sederhana Wartawan Pemula


Tidak terasa setahun (lebih sebulan) saja jadi wartawan. Oho, jangan tanya soal kadar pengalaman. Sama seperti kacang tanah, saya masih kecambah. Masih hijau sekali dan masih perlu dipoles sana-sini.

Tapi saya cukup menikmati :) don’t worry… (Kayak ada yang khawatir ya)

Nah, saya ingin cerita sedikit mumpung idenya lewat. Maklum, sudah lewat jam tenggat jadi otak saya juga perlu istirahat. Hal simpel-simpel saja, yang sederhana, yang bisa membuat seorang wartawan pemula (kayak saya) bahagia. Hahaha, maaf sedikit hiperbola.

Sebelum jadi wartawan kece yang terlihat (catat!) smart dan bermartabat, saya harus lebih dulu jadi wartawan cupu yang rajin bertanya ini-itu bahkan hal-hal dasar di setiap topik. Pada siapa? Narasumber tentunya. 

Bagi saya, kebahagiaan pertama terasa saat narasumber MAU dihubungi. Itu adalah hal pertama yang melambungkan doa syukur saya setiap hari. Pesan pendek yang dibalas, panggilan telepon yang diangkat atau surel yang dibalas. Terpujilah mereka (para narasumber) yang baik hati dan mudah dihubungi! 

Omong-omong, saya selalu menganggap narasumber yang bersedia dikontak sebagai baik hati. Terlepas dari intensi yang mereka miliki. Apalagi kalau jawaban yang diberi bermutu dan layak ditulis.

Kedua, agenda yang layak jadi berita dan ada data. Ya, selain mencari-cari bahan (isu) sendiri, kerja wartawan terkait erat dengan berbagai agenda yang diadakan calon narasumber. Lha, sayangnya kami ini sering kena agenda “bodong“. Acaranya sih ada, tapi kadang topiknya (walaupun ditulis keren dalam bahasa Inggris) tidak nyambung atau enggak mutu. Pusinglah awak memutar otak!

Ketiga adalah: punya stok berita. Astaganaga, hal ini yang paling jarang saya miliki walaupun diwajibkan. Ada masanya, ketika wartawan mengalami “paceklik” agenda dan kering isu. Apalagi saat-saat jelang hari libur. Saat itu, biasanya narasumber yang dibutuhkan sulit dihubungi karena cuti atau pergi ke luar negeri.

Jadilah semacam kiamat kecil bagi wartawan, andai tidak punya stok berita saat itu terjadi. Kan, saya kerja di koran yang liburnya berkebalikan dengan karyawan kantoran. Besok tanggal merah, liburnya hari ini. Tapi saat libur nasional kami justru bekerja bikin berita. Di sinilah peran stok berita itu sodara!

Persoalannya,  apakah berita tersebut jadi kehilangan unsur kelayakan berita terutama soal “kebaruan”? Coba ditimbang, kebaruan itu bukan cuma soal kecepatan lho. No offense teman-teman media online hehe!

Terakhir, (walaupun masih banyak hal lain) saya paling bahagia kalau bisa punya…waktu luang! Yap. Waktu sangat mahal buat saya setahun terakhir ini. Dengan jam kerja yang panjang, saya jarang senggang. Jangan tanya buku terakhir yang saya baca karena saya tidak sempat menyelesaikan.

Saat ini saya masih terus berusaha cari celah. Bagaimana menyiasati waktu yang sedikit untuk melakukan banyak hal di luar kerja seperti pekerjaan rumah, rekreasi dan sosialisasi. Jika ada hari dimana pekerjaan saya bisa lebih cepat diselesaikan, itulah kebahagiaan.

Bahkan sekarang saya sudah jarang lari dan masak sejak memasuki ritme harian. Aduh, kok malah curhat.

Tapi ya, saya yakin sekali tidak ada pekerjaan yang nol kesulitan di dunia ini. Jadi pasti Anda juga sedang bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Semoga kita semua selalu semangat, bahkan saat-saat setiap hal terasa berat…

Cheers!Elga signature

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s