Bangku taman dan analogi kantin kejujuran


Kalau Anda penduduk Jakarta, pasti tahu ada perubahan-perubahan yang terjadi belakangan. Misalnya, peletakan bangku-bangku taman di sepanjang trotoar di berbagai bilangan jalan.

Menurut kabar (seperti yang pernah saya baca di sebuah media online), bangku-bangku kayu panjang berangka besi tersebut merupakan sumbangan dari pengusaha teman baik Joko Widodo sang gubernur baru Jakarta. Tapi Joko Widodo alias Jokowi tidak mengiyakan atau menampik kabar tersebut. Begitulah.

Jadi, sudah sekitar 3-4 bulan bangku-bangku itu diletakkan per 25 meter (sekitar itu) di sepanjang trotoar. Awalnya baru sepanjang jalan Sudirman, yang sangat terkenal sebagai kawasan perkantoran itu, lalu tak lama jalan Gatot Soebroto pun menyusul, lalu ruas jalan lain juga mulai mendapatnya.

Saya sendiri menganggap bangku-bangku itu sangat berguna. Dengan minimnya halte bus berbangku saat ini, pejalan kaki sangat kesulitan jika ingin beristirahat sejenak. Setelah berjalan jauh, pasti menyenangkan jika bisa duduk sebentar bukan? Apalagi para orang tua dan wanita hamil. Selama ini Jakarta tidak terlalu ramah pada orang-orang ini.

Sedangkan saya? Sebagai pemotor saya memang jarang menyusuri jalanan Jakarta dengan berjalan. Tapi saya dua kali memanfaatkan bangku itu untuk bekerja. Misalnya saat saya harus segera mengirim berita, padahal situasi jalanan macet luar biasa dan saya tak punya pilihan menuju stasiun selain jalan kaki.

Karena sudah mepet tenggat, saya pun duduk di salah satu bangku. Sambil berusaha mengabaikan derum motor-motor yang menerabas trotoar (yang sangat ingin saya tendang satu-satu sampai jatuh tapi ini cerita lain) lalu mengetik berita.

Terlepas dari soal kinerja Jokowi sebagai gubernur baru dan entah kepentingan apa di balik peletakan bangku-bangku itu, saya menyukai gagasan memanusiawikan Jakarta. Pertama kali tiba di kota ini, saya tahu tidak bisa berharap banyak bisa mendapatkan kenyamanan. Kenyamanan itu barang mewah di sini.

Tapi keberadaan bangku-bangku ini (serta trotoar yang diperbaiki) melembutkan sedikit wajah Jakarta yang keras dan kejam. Mau tak mau, saya juga jadi teringat analogi kantin kejujuran.

Tahu kan, konsep kantin kejujuran? Kantin ini ditaruh di sekolah-sekolah tanpa penjaga atau pengurus. Ya, Anda ambil sendiri makanan dan minuman yang Anda mau. Sepuasnya? Silahkan. Tapi jangan lupa menaruh uang sesuai harga di tempatnya. Yap. Tidak gratis.

Saya sudah melihat hal itu berlaku dan berjalan cukup lancar (entah bagaimana kebenarannya), di sebuah sekolah swasta khusus murid laki-laki di Yogyakarta. Kantin itu seperti menantang seseorang untuk berbuat sebaliknya. Tahulah, situasi sepi bisa menggoda seseorang untuk mengambil uang di kotak itu, atau makan tanpa bayar.

Sama seperti bangku-bangku itu.

Siapa yang bisa menjamin keutuhan dan kondisi bangku-bangku ini? Balok-balok kayu berpeliturnya bisa dicopot dari rangkanya, bautnya bisa dilepas, atau yang terparah: mengangkut seluruhnya. Jakarta bukan kota yang kebal tindakan jahat dan pencurian. Tak ada aparat yang bisa mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan di kota ini. Kita, para warga Jakarta (yang asli dan tidak asli), tahu hal itu dengan baik bukan?

Tapi bukan berarti minus harapan sama sekali. Sama seperti kantin kejujuran, bangku-bangku itu bisa terus ada karena diperlukan. Ya, bangku-bangku itu diperlukan untuk menyediakan tempat rehat bagi semua orang. Gratis. Anda cuma perlu mengalah jika sudah ada yang menempati duluan atau lebih membutuhkan.

Jadi, sepanjang rasa butuh itu ada dan dimiliki semua orang, saya rasa bangku-bangku itu serta apapun fasilitas publik lainnya, bakal bisa bertahan. Tak seperti telepon umum yang sudah lenyap dari wajah kota manapun di Indonesia. Dan Anda tahu mengapa.

Cheers!
EA

One thought on “Bangku taman dan analogi kantin kejujuran

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s