Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (2)


Begitu tahun ajaran pertama dibuka, mulailah kehidupan masa remaja SMA yang penuh warna kayak lagunya Chrisye “Engkau masih anak seeekolah satu SMA…Belum tepat waktu tuk begitu beginiiii” :D

Kali ini saya mau bocorin sedikit bagaimana kehidupan asrama gadis-gadis liar  manis dan penuh tata krama khas sekolah khusus perempuan. Maklum saja ya kalau maju-mundur. Biar kayak plot flashback gitu lhooo. Setelah mengalami kehidupan asrama, saya menyadari sesuatu: anak asrama itu kreatif dan bisa apa saja.

Karena sekolah kami swasta Katolik, maka bisa dipastikan asrama kami juga tak jauh-jauh dari tujuan menjadikan putri-putri yang manis dan religius. Iyalah, yang mengawasi saja suster ya kaaan! *dibekep kerudung* Makanya, tiap hari Jumat kami mengadakan misa bersama. Panitianya bergantian antar unit. Nah, misa ini ujung-ujungnya jadi ajang “pamer” antar unit juga. 

Maksudnya, karena bebas memilih tema, biasanya kami mencari lagu yang hits dicocok-cocokkan dengan lagu ibadat. Asal tema cinta, Tuhan pasti iya-iya aja ya kan? *lalu disamber petir* lagu dan doa misa ditulis di teks yang khusus dibuat saat misa itu. Teksnya ini yang lalu dimacem-macemin bentuknya. Mulai dari piramida, bentuk baju, atau bahkan gulungan kertas yang lucu-lucu. Bayangkan dalam setahun ada berapa kali misa? :P

Selain itu, tiap unit juga membuat kostumnya sendiri. Unit saya pernah bikin tema olahraga jadi kostumnya baju sporty dan teksnya bentuk bola rugby. Pas kelas dua, kakak kelas saya penggemar komik Jepang. Tadinya mau bikin kostum kimono tapi ujung-ujungnya malah jadi hanbok Korea :D Caranya? Pakai kemeja putih, lilitkan seprei warna polos (yap. seprei!) di bawah dada biarkan menjuntai lalu ikat dengan tali rafia. Supaya terlihat makin mirip hanbok, lilitkan pita besar di bawah dada dan tata rambut ala Korea. Hahaha silahkan bayangkan, tapi hasilnya lumayan menakjubkan juga lho.

Kali lain, kamar mandi beberapa unit harus diperbaiki bergantian. Pas giliran unit saya, tidak ada pilihan selain ikut antri giliran mandi unit lain. Pilihannya, mandi sangat pagi (baca: subuh buta) atau setelah doa pagi. Yang terakhir sangat tidak disarankan karena potensi terlambat sekolah sangat besar. Nanti disuruh lari keliling lapangan (sekadar info, seumur-umur sekolah di Stece, saya cuma lari keliling lapangan sekali. Prestasi ._.)

Karena malas harus antre mandi di unit lain, saya punya ide bikin kamar mandi “darurat”. Caranya? Lagi-lagi pakai seprei! Terpujilah mereka penemu seprei :D Jadi seprei itu saya gantung dengan tali jemuran di bagian belakang unit. Di bagian itu biasanya kami mencuci baju. Jadi ada keran dan alas semen untuk itu. Pas, cocok! Melihat kami mandi pakai “bilik pemilu”, unit-unit lain ikutan bikin. Jadilah di deretan belakang itu ada beberapa bilik pemilu buat mandi! Hi hi hi! Untungnya, yang hobi wara-wiri di sisi unit kami (cuma tiga unit) cuma suster dan bukan bapak penjaga ^^!

Selain itu kami, anak asrama, juga punya segudang cara mengakali apa yang tidak ada. Di tiap unit tidak ada kompor. Kalau ingin masak mi malam-malam harus ke dapur yang ada di ujuuuung belakang. Malassss (padahal alasannya cuma takut gelap). Jadilah kami memanfaatkan termos listrik untuk merebus mi! Tinggal tunggu air mendidih, masukkan mi (iya, ke dalam termos) lalu tunggu matang. Voila! Bisa rebus telur juga lho!

Oh ya, waktu saya SMA belum banyak yang punya ponsel. Yang punya saja cuma berani telpon dua-detikan (yang generasi 90an pasti tahu). Sama seperti alat penata rambut bernama…catok! Itu barang langka, enggak kayak sekarang beli seribu dapat tiga! *bibirnya dijepit catok*

Tapi ya dasar anak asrama, pengen punya rambut lurus tapi malas keluarkan uang ke salon, akhirnya…pakai setrika! He eh, Anda enggak salah baca. Se-tri-ka. Saya pernah diminta kakak kelas untuk menyetrika rambutnya. Dalam arti sesungguhnya.

“Elga, aku minta tolong dong,” kata kakak kelas.

“Apa kak? (panggilan ke senior adalah ‘kak’ bukan ‘mbak’ apalagi ‘tante’, kak!) ,” sahut saya asal-asalan.

“Setrikain rambutku dong. Biar kayak dicatok!”

“….”

Dan saya pun menyetrika rambutnya. Dia telengkan kepala di atas papan setrikaan, rambutnya digerai lalu dilapisi kertas koran. Saya menggosokkan setrika yang sudah dipanaskan. ^^!

Tapi setrika juga punya fungsi lain selain untuk rambut dan pakaian. Saat lapar dan bosan makan mi instan, kami ingin juga makan…roti bakar! Iya. Pakai setrika juga! Silahkan bayangkan sendiri caranya, apa menteganya dioles setelah atau sebelum roti disetrika?

Cheers!!!

3 thoughts on “Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (2)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s