Aman versus Bahagia


Saya tidak terpikir frase apa lagi untuk menyebut kedua hal yang menghantui pikiran saat ini. Ada rantaian kejadian, pengalaman hingga renungan diam-diam yang membuat saya mempertentangkan dua hal: logika dan rasa (perasaan).

Lalu, entah darimana saya menarik hubungan deduktif, bahwa logika berpasangan dengan “aman”, sementara rasa bergandengan dengan “bahagia”. Ini sifatnya relatif dan mungkin hanya saya yang mengalami.

Begini, saya coba sampaikan dengan kasus yang kadang paradoks dan bisa diputarbalikkan sedemikian rupa. Taruhlah Anda mencari pasangan (ini contoh paling gampang). Logika mengatakan, carilah pasangan yang mapan, yang cukup materinya dan memiliki modal alias biaya menghadapi kehidupan. Dengan demikian Anda akan “aman”. Aman dari apa? Ya aman secara finansial atau materi.

Tapi, kalau menuruti rasa, pasti inginnya seseorang yang tampang sesuai selera, saling cinta meski sederhana. Karena melibatkan lebih banyak subjektivitas, maka implikasinya, Anda “bahagia”. Sederhana? Tidak, saya yakin. Karena Anda akan protes, “saya bahagia kok dengan yang mapan, kaya raya dan kebetulan sesuai selera.” Atau, “kami sudah yakin akan sukses bersama setelah berjuang bersama,” dan seterusnya.

Makanya tadi saya bilang relatif. Ada banyak contoh kasus lain tapi saya tidak ingin jadi terlampau personal. Nanti ada saja yang rumongso (merasa) disindir, padahal tidak.

Tapi, buat saya, logika dan rasa ini adalah makhluk yang sama-sama berteriak kuat di kepala. Kadang suara yang satu mengalahkan suara lainnya. Logika memenuhi pikiran saya dengan rasa takut dan kecemasan serta kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saya pikirkan.

Sementara rasa, menarik saya dengan dorongan tiba-tiba, impulsif, optimisme dan tak peduli resiko. Mana yang lebih baik? Tidak ada, buat saya. Soalnya, saya memilih mana yang paling nyaman atau tepat, atau setidaknya terbaik dari terburuk untuk saya pegang saat ini. Bisa jadi saya kurang bahagia saat memilih mengikuti logika, tapi setidaknya saya merasa aman. Bisa mengatur strategi langkah selanjutnya.

Kadang-kadang juga, saya mengizinkan rasa yang memimpin dan menarik saya menyusuri harapan, perasaan, dan mimpi. Lalu menggandeng nalar untuk mencari caranya. Tapi jangan salah, kedua hal ini juga bisa berkamuflase dan menyamarkan diri.

Kita merasa melakukan sesuatu berdasarkan logika padahal dipicu oleh keinginan kuat yang bahkan tidak logis maupun normatif. Sebaliknya, apa yang tampak dilakukan dengan perasaan justru sebetulnya dorongan dari nalar panjang yang ingin melakukan sesuatu dengan benar.

Selamanya mereka seperti melakukan baratayudha abadi. Perang yang tak pernah usai. Ah capek juga mikir begini.

One thought on “Aman versus Bahagia

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s