Arry Potcher!


Waktu saya berumur 7 tahun, bapak saya meninggalkan rumah. Sejak itu saya tidak pernah melihat atau mendengar lagi kabar tentang bapak saya. Saya juga sudah hampir lupa wajahnya selain dari sepotong foto lama yang masih disimpan ibu di balik tumpukan baju di lemari tuanya. Sendirian, ibu saya membesarkan saya dan adik sampai lulus kuliah dan bisa mandiri.

Tapi, sekitar 1,5 tahun lalu, tante (adik bapak) mendapat kabar kalau ada kenalannya yang melihat Bapak di London, Inggris. Sepertinya takdir sedang berpesan bahwa saya harus menemuinya di sana. Di Inggris.

Bohong.

Yah, sepertinya saya memang tidak berbakat mengarang cerita. Belum apa-apa saya sudah takut kalau cerita di atas kejadian betulan. Saya juga tidak pintar membumbui detil aksi supaya ceritanya “terasa” asli. Tidak, bapak saya masih ada. Terakhir bertemu pekan lalu, beliau masih gendut, sehat dan gembira. Memang, waktu kecil bapak saya sering pergi, tapi selalu kembali. Persis kayak bumerang Australia: dilempar…eh balik lagi. Garing.

Soal Bapak saya yang pergi memang bohongan, tapi keinginan ke Inggrisnya betulan. Mirip sari tebu: 100% asli. Hmm, mungkin rasa itu tidak sekuat yang dirasakan oleh mereka yang ingin ke sana untuk menemui seseorang…eits, tunggu. Saya…juga ingin bertemu seseorang.

Saya dan orang ini bertemu hampir 20 tahun lalu. Saat itu saya masih SD dan diajak ayah ibu jalan-jalan ke toko buku. Di sanalah saya melihatnya pertama kali. Berbaju merah dan emas, tersempil di jajaran rak buku: Harry Potter and The Chamber of Secrets. Seri kedua dari tujuh seri Harry Potter karya J.K Rowling.

Lalu sejak itulah saya menjalin hubungan pertemanan, lebih dari sahabat, dengan bocah berkacamata bulat dengan luka petir di dahinya ini. Petualangan Harry menemani masa kecil saya sampai jelang remaja. Cinta pertama saya pada tokoh cerita sampai sekarang saya sudah dewasa.

Saking piawainya Ibu Rowling merangkai cerita, saya sungguh bisa membayangkan suasana kehidupan Harry di Inggris. Perpaduan dunia muggle di London dan sekitar Hogwarts yang sureal dan magis. Aduh, saya jatuh cinta.

Ada waktu-waktu saat saya berharap Hogwarts betulan ada. Pasti saya akan menekuni aneka mantra yang hebat dan membuat dompet serba ada milik Hermione Granger. Saya juga ingin menemani Mr. Weasley keliling dunia muggle dan makan hotdog bersama di bawah Big Ben. Berlari menembus peron 9 3/4 dengan membawa burung hantu seputih salju.

Saat Warner Bros Studio mengumumkan membuka studio setting yang digunakan dalam penggarapan film Harry Potter beberapa tahun lalu, saya seperti gila. Saya harus kesana! Walaupun hanya sehari, walaupun hanya sejam menikmati! Saya harus melihat King’s Cross Station dan mencari sendiri peron 9 3/4. Saya ingin naik kereta dengan kompartemen sambil ngemil cokelat kodok. Saya juga harus melihat London Bridge (The Millennium Bridge) yang sempat dihancurkan Lord Voldemort. Lebih lagi, saya harus menengok Hogwarts! Kalau bisa!

Dalam impian saya, saya juga akan merasakan jadi muggle saat saya menginjakkan kaki di negara Ratu Elizabeth itu. Merasakan sendiri aura kebudayaan yang kuno dan romantis, Mencoba bercakap dengan aksen British (yang selalu saya tirukan seperti “‘Arry Potcher!”), juga suasana muram mendung yang selalu diceritakan kawan saya. Meski saya sudah menerima kenyataan bahwa semua itu fiksi, tapi London dan Inggris yang jadi latar belakang cerita sungguhan nyata kan?

Inggris di benak saya juga tentang era Victoria. Saya membayangkan berkeliling kota dengan kereta kuda. Berlagak bangsawan dengan gaun menggembung,  menjinjing payung renda, berjalan sambil mendongakkan dagu dan mengangkat rok sedikit. Tepat pukul empat, saya akan duduk dengan secangkir teh dan aneka kue yang dideskripsikan dalam novel roman seperti scone, crumpet dengan aneka selai tradisional dan banyak lagi! Saya mau mencoba semua itu!

Kalau dirangkum, alasan-alasan di atas sangat kekanakan ya? Tapi saya sudah memasukkannya dalam daftar “hal yang harus dilakukan sebelum mati” dan bertekad akan mewujudkannya meski usia tak muda lagi. ‘Arry Potcher, tunggu aku ya!

 

Watching Harry Potter movie's with MrPotato

Ngemil Mister Potato sambil nonton film Harry Potter ke-917 kalinya

 

 

*tulisan ini sebagai partisipasi lomba “Ngemil eksis pergi ke Inggris” yang diadakan @MisterPotato_ID semoga kesampaian ketemu Harry nih! :D

2 thoughts on “Arry Potcher!

  1. Di kota kelahiran saya, Harry Potter sama sekali tidak ada gaungnya. Beruntung, kakak membawakan saya buku tersebut dari Jogjakarta. Dalam benak saya, Inggris juga kelabu, seperti setting sekuel Sherlock Holmes.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s