Begini begitu, ternyata ada sebabnya


Sudah tiga hari saya tidak bisa ketawa. Bibir saya kering bukan main dan robek di tengah. Tambah pula, sariawan perih di pipi dalam sebelah kiri yang selalu tergesek kawat gigi saat saya berusaha buka suara. Sungguh pekan penuh cobaan akibat lalai mengonsumsi air dan vitamin dalam jumlah cukup.

Karena tak tahan sakit, akhirnya saya putuskan mencari obat sariawan dalam perjalanan menuju kantor. Saat menimbang rute, saya teringat ada sebuah apotek tak jauh dari kantor, di sisi kiri jalan sehingga mudah bagi saya untuk mampir tanpa perlu menyeberang. Apotek itu selalu tampak sepi bagi saya yang melaluinya nyaris setiap hari. Padahal ia punya halaman cukup luas, pun letaknya di pinggir jalan. Ah, sekali-sekali ke apotek umum, sekalian ‘nglarisi’ (bawa hoki dengan membeli barang), pikir saya.

Kala itu sudah cukup malam, namun belum memasuki waktu tutup toko pada umumnya. Sekitar 20.15 waktu setempat. Setelah memarkir motor di halaman apotek, saya masuk ke apotek yang kosong. Hanya ada seorang perempuan sekitar 30an tengah mencocokkan nota dan menekan tuts-tuts kalkulator.

Ia mendongakkan kepala saat saya menuju arahnya dan menyapa, “malam mbak, ada obat sariawan?” kata saya. Dengan intonasi datar ia menyahut, “seperti apa?” karena saya tidak terpikir merek tertentu, saya coba saja dari obat yang paling familiar: obat bubuk hijau. Tahu kan? Yang dalam tabung kaca kecil, bubuknya mirip ekstrak teh hijau dan rasanya pahit. “Oh, enggak ada,” ujar si pramuniaga itu sambil menekuni hitungannya lagi.

Hah? Cuma begitu? Tidak ada saran alternatif? Pikir saya. Lalu saya coba lagi bertanya, “lalu apa adanya?” dan ia menyebutkan satu merek. Nah, setahu saya, merek yang ia sebutkan memang direkomendasikan untuk mengobati sariawan. Tapiiiiii rasanya seperti ditusuk seribu jarum! Pedih jenderal! Tapi lagi, versi terbaru obat itu juga sudah menjamin bebas rasa perih tersebut.

Makanya saya tanya lagi, “obatnya yang (versi) baru atau lama mbak?” kemudian si mbak mengernyit sambil membalas, “maksudnya?” Belum saya selesai menjelaskan perbedaan keduanya, ia sudah melengos sambil mengucap, “wah, nggak tahu ya.”

Detik itu pula saya memaki dalam hati dan segera angkat kaki dari apotek yang nyaris punah itu.

Sekarang saya mengerti. Mengapa apotek itu selalu tampak sepi. Apakah kamu mengerti juga? Dengan demikian, terbukti lagi satu hukum “sebab-akibat” yang menghinggapi bumi ini sejak lama…

One thought on “Begini begitu, ternyata ada sebabnya

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s