Menantang diri 30 hari Frugal Living


My name is Elga, and I’m an impulsive buyer and heavy hoarder.”

Mungkin kalau saya berhadapan dengan psikiater atau klub terapi, itulah yang akan saya katakan. Saya memang bukan Rebecca Bloomwood, tokoh rekaan Sophie Kinsela yang menggemari baju-tas-sepatu hingga bangkrut karena berhutang. Tapi saya juga harus mengakui, bahwa saya tak jauh beda. Saya penggemar pernak-pernik lucu dan punya ketertarikan berganti-ganti yang memicu pengeluaran uang secara impulsif. Pengeluaran yang tidak ada dalam anggaran. I’m messed up.

Situasi saya jadi ironis karena saya bekerja sebagai reporter ekonomi dan saat ini masuk kompartemen investasi. Bisa diejek Warren Buffet dan jadi celaan Suze Orman saya, sudah setahun kerja kok bahkan enggak ada ekstraknya (baca: tabungan, investasi, dll).  Sementara, teman-teman saya sudah ada yang memiliki emas batangan, menyicil rumah bahkan merintis bisnis. Lha saya? Hidup cuma untuk hari ini, padahal katanya mau jalan-jalan keliling dunia. Mimpi kali!

Nah kebetulan, beberapa hari lalu saya diminta bantu mencari bahan dan wawancara tentang kiat frugal living. Hah? Hidup ugal-ugalan? Ha ha ha! Bukaaan! Frugal living sederhananya bisa diartikan sebagai gaya hidup hemat dan tidak berlebihan. Kesannya menderita ya? Tapi ada kalanya, untuk mencapai keseimbangan neraca keuangan pribadi, kita harus bertindak cukup drastis.

So, here it is! I’m challenging myself to 30 days frugal living! Saya menantang diri sendiri untuk hidup hemat selama 30 hari per 1 September 2014.

Sayangnya, meski niat menggebu, saya kurang amunisi. Karena sejujurnya, posisi keuangan saya per 1 September nanti juga sudah ironis. Antiklimaks deh hiks hiks *sesenggukan di pojokan* Tapi apa boleh buat, justru ini tantangannya. Saya harus bisa memaksimalkan sisa anggaran dan menekan pengeluaran sepanjang September hingga tiba hari bahagia tiap bulan: gajian. Yay!

Kalau begitu, apa situasinya dan apa rencananya?

Saat ini saya cukup beruntung karena kos saya terhitung sangat murah untuk ukuran tinggal di Ibukota. Sepertinya ibu kos saya hobi beramal dengan menampung anak kos yang memelas seperti saya. Uang kos saya sebetulnya cuma buat bayar listrik dan iuran sampah kayaknya. *lebay*

Lalu, karena saya sekarang jarang liputan lapangan dan lebih banyak di kantor, biaya transportasi dan telekomunikasi saya mendadak terasa jauh lebih hemat. Saya bisa pakai telepon kantor kalau mau, meskipun saya lebih suka menelepon narasumber dengan ponsel pribadi. Siapa tahu dihapal dan disimpan, ya kan? :P tapi saya juga bisa titip beli makan pada mas-mas office boy dengan pilihan menu yang lebih murah ketimbang saat liputan. Biaya nongkrong cari wifi untuk mengetik laporan pun terpangkas karena saya sudah pakai komputer kantor (bahkan untuk mengetik blog ini! Yay!).

Seharusnya, dengan skema di atas, hidup saya harusnya bergelimang harta karena banyak yang bisa ditabung bukan? Iya, itu cita-citanya. Sayangnya, sifat-sifat yang sudah saya sebutkan di atas adalah bencana. Tabungan saya sering jebol karena saya doyan makan enak. Makan enak selalu bersahabat dengan harga yang tidak murah. Belum lagi, kalau ada barang lucu atau alasan “bantu teman” yang jualan ini-itu. Saya juga penggemar berat stationery alias perkakas alat tulis yang lucu-lucu. Setiap masuk gerai seperti Scoop, niatnya cuma lihat-lihat, selalu berakhir belanja minimal satu barang. Waduh!

Saya juga hobi nonton film, penggemar berat milk tea (seminggu sekali pasti beli) dan tidak bisa bilang tidak kalau diajak nongkrong, dan saya juga pengguna internet kelas berat. Walaupun sudah ganti provider telekomunikasi, paket internet yang saya pakai tetap tidak cukup! Tambah lagi, saya “penyusuh” kelas berat alias tukang koleksi barang-barang “lucu” dan “imut” yang ujung-ujungnya tidak banyak dipakai. Wah, gawat…

Nah, rencananya saya ingin memangkas kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Saya juga ingin menutup habis cicilan konsumtif yang masih membebani neraca keuangan saya setidaknya 3-4 bulan ke depan dan lebih banyak menyisihkan porsi tabungan dan investasi. Mampu enggak ya? Tapi tantangan sudah diucapkan, kita lihat saja apa yang terjadi per 30 September nanti. Challenge accepted!!

 

Cheers!

EA

One thought on “Menantang diri 30 hari Frugal Living

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s