Ulas singkat: Midori Traveler’s Notebook


Kali ini saya mau ulas (review) singkat saja tentang objek obsesi baru saya akhir-akhir ini: Midori Traveler’s Notebook! Yayyyy! Barangnya sudah sampai dan langsung diapa-apain dalam sehari! Terima kasih mbak Rani yang baik hati kayak ibu peri! *joget India*

Midori Traveler’s Notebook (MTN) ini adalah produk alat tulis (stationery) dari Jepang. Produsennya Travelers Factory, desainernya Design Phil. Kalau taruh kata kunci itu di Google dan Youtube, sudah ada ratusan orang lain yang mengulas. Jadi, saya tidak perlu jelaskan detil sejarah dan lainnya ya.  Pokoknya ini cuma sekilas info saja hahaha!

Saya membeli MTN ini pada sebuah toko di Amsterdam, Belanda dengan harga 44.9 Euro. HAH?! He eh, silahkan saja harga itu dikonversi ke dalam rupiah hahaha! Memang semahal itu. Mungkin ini adalah barang yang paling mahal saya beli dalam 2 tahun terakhir selain motor , komputer tablet dan Blackberry.

Lalu, apa istimewanya?

Kalau Anda melihat bentuk aslinya di tangan, mungkin yang terbersit pertama kali adalah “beginian doang harganya segitu? Ini mah bisa bikin sendiri!” Tepat sekali. Pada dasarnya, Midori ini hanya selembar kulit dipotong segi empat, diwarna, ditekuk, diberi lubang untuk tali elastis yang berfungsi sebagai penahan notes dan juga menyatukan kulit ini agar tertutup. Yep. Cuma selembar sampul kulit! Tapi isi buku notesnya bisa diganti-ganti tidak seperti buku diary, agenda atau notes tebal sekali pakai yang umum beredar. Selain itu, sampul ini bisa memuat beberapa notes sekaligus yang bisa kita gunakan sesuai keperluan. Sistem yang fleksibel, singkatnya.

Tapi kenapa saya rela merogoh kocek sedalam itu hanya untuk sampul kulit yang kalau saya pesan di perajin lokal paling hanya Rp 200.000 atau setara US$ 18? Saya punya serentetan alasan yang bahkan sebagian besar tidak dianggap logis. Salah satunya karena saya mendukung orisinalitas dan ide. Sisa lainnya, biar waktu yang menjawabnya. Halah.

Sebelum memutuskan membeli Midori yang asli, saya sempat mencoba membeli “tiruannya” dengan ukuran yang lebih lazim. Tapi setelah menjajalnya dalam beberapa minggu, rupanya masih ada rasa penasaran yang kemudian berubah jadi obsesi. Saya ingin punya yang asli. Walaupun dari hasil riset, banyak orang mengaku kecewa dengan barangnya. Katanya kulitnya bukan kualitas bagus lah, bau kimia lah, atau yang kemahalan lah.

Sekadar informasi, ukuran Midori ini juga tidak umum dan tidak mengacu pada ukuran buku notes yang banyak dijual di pasaran. Untuk ukuran paspor, milik Midori betul-betul seukuran paspor! Sementara, AS dan Eropa kebanyakan menggunakan ukuran “pocket” atau sedikit lebih panjang dari ukuran buku paspor asli. Ukuran reguler Midori sangat “tanggung” yaitu 21cm x 11cm dalam posisi tertutup. Sedikit lebih sempit dibandingkan A5 yang banyak beredar di pasaran.

Padahal, buku notes merek Midori yang mengakomodasi ukurannya hanya dijual di toko tertentu atau harus dibeli online. Merepotkan bagi mereka yang tidak punya akses ke Jepang atau penjual mereka di kota-kota atau negara lain. Sehingga kesannya Midori ini enggak niat jualan. Lha gimana, orang mau beli kok mereka sendiri enggak memperluas distribusi atau bikin sistem pesanan online sendiri (kita juga tidak bisa pesan dari produsennya, lo! Karena mereka cuma jualan di Jepang!).

Dan, Midori ini juga sangat konvensional. DesignPhil cuma membuatnya dalam dua warna yaitu hitam dan cokelat. Memang ada edisi khusus terbatas warna camel (cokelat kekuningan yang sangat cakep) dan putih, tapi sudah jadi barang koleksi yang sangat langka. Sementara, konsumen ingin warna-warna lain, jenis kulit yang lain dan varian ukuran yang lain. Jadilah peluang ini disambar para pembuat kulit perorangan yang bisa menambahkan lubang pensil, warna kulit berbeda, jenis kulit berbeda dan seterusnya. Bahkan ada seorang pembuat yang memproduksi desain sangat mirip dan bisa menjualnya seharga US$ 65-US$80! Lah, malah lebih mahal dari aslinya!

Aslinya, MTN ini “cuma” 3.800 yen lho! Hahahaha! Ada sebuah situs Jepang yang melayani pengiriman internasional cukup murah. Sayangnya, saya tidak yakin dengan status bea cukai di Indonesia. Jadilah saya titip mbak Rani yang pulang lewat Belanda usai studinya di Eropa. Wajar saja bila di Belanda harga itu yang saya dapatkan, lha sudah diimpor dari Jepang ke Belanda (lalu ke Indonesia)! Wajar ya kan? Kan? *maksa

Saya membuka kemasannya di hadapan mbak Rani dan seorang teman. Mereka penasaran bentuknya bagaimana. Kayak apa sih notes yang bikin Elga terobsesi? Mungkin begitu pikir mereka. Sebelumnya saya sudah melakukan “riset” Youtube, Google, Instagram, Facebook group dan Flickr demi Midori ini selama berminggu-minggu. Jadi kurang lebih saya “sudah tahu” apa yang akan saya dapatkan. Tidak ada unsur kejutan atau ekspektasi berlebihan.

Pertama, saya mengharapkan bau-bauan kimiawi dari hasil penyamakan dan penyimpanan Midori. Banyak yang bilang baunya parah banget! Tapi waktu saya buka dari kemasannya, baunya tidak separah itu. Pengalaman tiap orang berbeda sih he he. Kedua, karena banyak orang bilang kulit yang digunakan sifatnya floppy alias terlalu lemes dan gampang ditekuk, saya pikir kulitnya cukup tipis. Eh, ternyata lebih tebal rasanya. Memang gampang ditekuk (pliable), tapi juga terasa kokoh atau sturdy.

Saya coba ukur, tebal kulitnya sekitar 2-2,5 mm dan dipoles kasar seperti dilapisi cat hitam mengilap.  Ini saya juga tidak kaget karena sudah dijelaskan pembuatnya sebagai “rough cut” alias dipotong kasar. Tidak dipoles licin seperti untuk pinggiran dompet atau sejenisnya. Soal warna, saya pesan warna cokelat. Warnanya cukup solid seperti batang cokelat murni (dark chocolate) dengan pengunci berbentuk bundar di ujung atas. Yang ternyata tidak mengganggu atau ngganjel saat dipakai menulis. Simpul tali elastis di bagian sampul belakang juga tidak ngganjel. Entah ya, kalau nanti sudah menulis sampai lembar terakhir.

Soal ukuran, saya memang sudah bersiap untuk takjub dengan ukurannya yang tidak lumrah itu. Tapi ukuran Midori yang persegi panjang tapi langsing ini menurut saya cakep sekali deh. Mirip dompet, bisa untuk selip-selipkan tiket, surat dan segala macam. Mudah digenggam walaupun cukup besar dan mengintimidasi. Iya, itu halamannya jadi segede lapangan bola, mau ditulisi apa coba?

Saya memiliki Midori ini sudah 24 jam. Sudah saya beri charm alias hiasan bandul bentuk topi penyihir dan kacamata supaya jadi tema Harry Potter! Tadi saya juga sudah iseng nge-print notes buatan sendiri. File-nya cari di internet, di-print dalam format booklet. Karena tidak sabar bawa ke fotokopian untuk dipotong dan dijilid, saya potong sendiri pakai alat (beli di toko hardware sebulan lalu demi Midori) dan dijilid dengan strapler kantor. Satu notes asli Midori saya simpan untuk nanti. Inginnya sih notes ini untuk mencatat perjalanan saya keliling dunia *halah*. Tapi sementara, untuk nulis curhatan dan rencana-rencana hidup saja dulu.

Apakah saya happy? Yah, mungkin tidak se-happy yang saya rasakan waktu pertama kali menemukan topik Midori. Kebanyakan riset sih, jadinya serasa sudah memiliki. Tapi begitu barangnya di tangan, saya tahu saya ingin bersama dia sangat lama. Welcome, my new mate!

Owl charm-nya sudah saya copot karena ganggu, tapi kalau begini sangat Harry Potter yaaa! :D

Owl charm-nya sudah saya copot karena ganggu, tapi kalau begini sangat Harry Potter yaaa! :D

For all the travelers who have a free spirit” – motto Midori Traveler’s Notebook

Cheers!

EA

PS: Maap, ini kok malah separo curhat. Ya, namanya juga cuap-cuap ya, rencana sama eksekusi beda hasilnya! hahaha!

18 thoughts on “Ulas singkat: Midori Traveler’s Notebook

  1. Waaah ada yang suka midori jugaaa 😍😍😍 kirain ga ada di indo yang suka. Pengen beli, tapi mahaaal, pengen bikin sendiri tapi ga tau bahan kulit yang kaya gimana. aku juga liat beberapa midori cover yang dari kain, cuma masih bingung gimana caranya biar kokoh. Kalo bikin insert midorinya bisa :) cuma bikin covernya yang susah :(

  2. HaLo, saya mampir seteLah iseng GoogLe MTN Indonesia ^^
    Sudah ngidam Midori dari awaL tahun ini, tapi ga berani beLi onLine (yap, bea cukai) dan ga ada yang bisa dititipin.. Habis baca post ini jadi makin ngidam >___<

    • Heheheh bikin sendiri ajaaa! Beli kulitnya di toko kulit bisa kok (atau beli yang kulit imitasi juga bisa). Di Malaysia ada yang jual lebih murah, tapi ya emang fauxdori. Menurut saya, daripada beli fauxdori mending bikin sendiri. Btw, saya ada rekomendasi situs online yang ok walaupun harus punya PayPal sih: pencils.jp lumayan cepat sampai dan dari Jepang jadi harganya enggak semahal situs lain yang di Amerika atau Eropa. Ongkirnya sekitar 100 yen atau 100 ribu rupiah. Emang jadinya mahal ya hahaha.

      • Halo, mau coba bantu. Saya dari dulu udah sering beli barang dari luar negeri (eg. amazon, ebay, focalprice, etc). Biasanya saya pakai jasa forwarder, supaya urusan bea cukai lebih gampang. Jadi sistemnya, kita mau beli barang, misalnya dari amazon, kita kontak forwarder supaya barang itu dibelikan. Lalu sama forwardernya akan dibelikan disimpen di gudangnya dia di US. Setiap tanggal tanggal tertentu tiap bulan, barang-barang kita (bersama barang lainnya) akan dikirim ke Indo. Nah dari situ, kita udah ga usah pusing urusan pengiriman, pajak impor, bea cukai dll. Semua sudah diurusin sama forwardernya itu Silahkan cari di Kaskus, ada beberapa jasa forwarder yang saya bisa rekomendasi. Kalo bener bener butuh, bisa email saya saja pribadi :D saya sendiri beli MTN dari lewat forwarder. Goodluck. Oiya, forwarder yang saya tau itu cuma terima barang dari US, engga dari jepang :( Btw, we really need to create “Midori Travelers Notebook indonesia user group” haha, since till now i have not really found any MTN group in Indonesia, or at least Jakarta.

      • Hahahha ide menarik tuh Bayu! Tapi sebenernya aku enggak tahu kalau meet up itu ngobrolin apa sih ya? X)) Tapi pasti asik sih tukar tips cara pemanfaatan MTN. Btw, aku kayaknya nitip sama seorang blogger yang mau ke Jepang (dia juga bakal beli Midori), trus aku kenal juga beberapa IG user yang punya atau suka MTN dari Indonesia, cuma nyebar sih… Mau coba bikin? Kontak aku ya…line: elgapotter atau email aku di blog ini :)

  3. halo, gue juga punya midori traveler’s notebook. 4/3 bulan lalu beli langsung dari amazon harganya sekitar 600ribu sampai ke Jakarta. Apa ada sejenis komunitas MTN di Indonesia ?

    • Hi Bayu! Seneng deh akhirnya ketemu sesama pengguna Midori :D Saya sih ikut grup Midori yang kebanyakan anggotanya dari AS. Pernah ikut juga grup yang gede banget anggotanya tapi mereka isinya beli faux melulu :P Kapan pakainya? Hahahaha! Kalau lihat kegiatan pengguna Midori di Singapore, Hong Kong, Korea gitu sih mereka kayak suka bikin meet up kecil-kecilan. Mau coba cari? Hehehe! Kabarin yaaa! Saya sih di Jakarta.

    • Hahaha untuk orisinalitas sistem yang minimalis dan bisa dipakai bertahun-tahun, kayaknya harga itu akan susut sendiri kok mbak :) sama kayak pena yang bagus, sepatu yang bagus, dst. Bandulnya beli di toko scrapbook di GI, tapi kayaknya bisa ketemu di mana aja sih hehe

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s