Saya belum/tidak mau nge-Path


Belakangan ini saya merasa makin “tua” karena makin enggan cari tahu informasi terbaru. Saya membatasi aktivitas sehari-hari hanya pada pekerjaan dan ketertarikan. Jadi, saya enggak terlalu ngeh saat ada “Insiden F” yang dirisak (bully) masyarakat internet gara-gara mengumpat di Path.

Oh well, itu persoalan lain yang nanti jadi perdebatan panjang karena kasusnya jadi rumit dan keruh. Simpan untuk lain kali. Karena menyinggung soal Path, maka saya mau ngobrol saja soal itu dan kawan-kawannya: aplikasi dunia maya.

Saya tidak menggunakan Path.

Ya, saya punya akun Path, tapi saat ini aplikasinya sudah saya hapus dari komputer tablet saya. Bahkan juga aplikasi Facebook walaupun saya masih menggunakannya. Alasannya sederhana saja: sudah terlalu banyak aplikasi, terlalu banyak yang harus dibuka dan diikuti. Tambah lagi, semuanya menghabiskan daya baterai.

Saya tidak merasa kualitas hidup saya meningkat lantaran saya menggunakan aplikasi-aplikasi media sosial itu. Yang meningkat malah kadar kenarsisan dalam diri saya. Saya cuap-cuap di sana seolah apa yang saya cuapkan penting untuk disimak dan diperhatikan orang. Saya kadang merasa ada “yang hilang” bila tidak bisa mengaksesnya barang 1-2 hari.

Kembali ke Path, sebetulnya saya merasa ide pembuatnya cukup brilian. Tampilan aplikasinya menarik, jumlah teman terbatas sehingga terasa eksklusif, gambar-gambarnya bagus, dan seterusnya. Hingga akhirnya, ada opsi untuk mengaitkan publikasi di Path ke…Twitter dan Facebook. Lah?

Memang sih, opsi itu bisa dipakai, bisa juga tidak. Tapi, ini membuktikan bahwa sebetulnya kita tidak butuh banyak aplikasi. Dengan memilih opsi berbagi ke dua aplikasi itu, sama halnya mengakui bahwa kita sebetulnya terbatas dalam tenaga dan pikiran.

Saya beri contoh, sampai saat ini saya punya sekitar 5,6…8 blog yang masih aktif (tapi sebagian lupa kata kuncinya). Semuanya bermula dari “keserakahan” saya untuk menulis topik berbeda. Saya merasa butuh satu blog khusus untuk topik tertentu. Saya punya Blogspot,Tumblr, medium, 4 blog wordpress dan entah apa lagi sampai lupa.

Tapi yang paling aktif ujung-ujungnya cuma satu ini. Blog personal pertama tempat saya bisa cuap-cuap tentang apa saja. Saya kelelahan dan merasa tak punya waktu untuk terlibat pergaulan dunia maya lagi. Terlalu banyak hal yang saya ingin tahu tapi tak ada banyak waktu untuk menekuninya satu-satu.

Tidak cuma blog sebetulnya, saya juga punya 3 akun Twitter, 2 akun Facebook, Quora, LinkedIn, About, Ask.fm, Pinterest, Flickr dan entah apa lagi. Jangan tanya untuk apa. Pada dasarnya saya hanya hobi coba-coba hal baru. Cuma sekadar tahu saja “Oh seperti ini tampilannya, oh begini cara kerjanya.” Hanya sedangkal itu.

Daaaannnn, sepertinya itu adalah pertanda saya harus memilih.

Dengan terbatasnya waktu dan kapasitas otak, akhirnya saya memilih untuk mengakses rutin aplikasi internet yang memang terasa nyaman untuk saya saat ini. Satu blog (WordPress), dua akun media sosial (Facebook, Twitter), Instagram (saya anggap ini akun media sosial gambar :D) dan email saja.

Kalau mau dimaksimalkan, semua pilihan saya itu sudah cukup memadai untuk menjaring informasi, berbagi, dan kalau mau, cari tahu tentang hidup orang lain alias kepo hahaha! Terlalu banyak aplikasi membuat saya tidak bisa menikmati waktu. Merasa resah selalu dan membuang waktu kalau saya leyeh-leyeh atau bersantai.

Lebih parah lagi, kualitas hidup saya menurun. Saya tidak lagi bisa menghabiskan buku dalam sekali baca. Dan saya sudah lama tidak baca buku. Artinya, saya punya masalah konsentrasi dan multitasking. Saya hanya sempat membaca cepat tanpa menikmati setiap kata di dalamnya. Otak saya jadi pelupa.

Menjabarkan persoalan ini membuat saya berpikir, mungkin sudah saatnya juga saya melakukan diet internet. Mengaksesnya saat perlu saja. Membatasi pemakaiannya dan mematikannya saat saya tidur. Mencoba menekuni lagi pusaran waktu yang nyata dan menikmati setiap detiknya.

Jadi maaf, saat ini saya belum atau tidak mau menggunakan Path (dan aplikasi-aplikasi lain yang sebanyak rumput tetangga itu). Ah, jadi ingat, saya harus cuci baju dan beres-beres kamar. Sampai ketemu dalam cuapan saya berikutnya ya pendengar…eh pembaca!

Cheers!
EA

One thought on “Saya belum/tidak mau nge-Path

  1. “Terlalu banyak aplikasi membuat saya tidak bisa menikmati waktu. Merasa resah selalu dan membuang waktu kalau saya leyeh-leyeh atau bersantai. Lebih parah lagi, kualitas hidup saya menurun. Saya tidak lagi bisa menghabiskan buku dalam sekali baca. Dan saya sudah lama tidak baca buku. Artinya, saya punya masalah konsentrasi dan multitasking.”

    Saya sepertinya mengalami hal yang sama Ga.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s