Berpisah dengan Barang Kesayangan


Nothing last forever. Pada saatnya nanti, kita harus merelakan sesuatu atau seseorang pergi. Saya yakin, Anda semua pernah memiliki barang kesayangan, entah apapun bentuknya. Tapi namanya barang, suatu waktu ia akan berhenti berfungsi, rusak, atau hilang bukan? Sama seperti tas carrier Polo saya.

Hari ini saya memutuskan sudah waktunya untuk berpisah dengannya, lalu jadi merasa sedikit melankolis. Tas ransel ini sudah melewati tahun-tahun penuh cerita, dipanggul bahu yang berbeda-beda (karena dipinjam teman tentunya), bahkan sudah berjalan lebih jauh dari saya.

Saya membelinya sekitar tahun 2005, tidak ingat persis kapan. Saat itu, ia tergantung di salah satu bagian penjualan tas di Ramayana, Jalan Malioboro Jogja. Ukurannya besar, warnanya abu dominan hitam. Polo, mereknya. Saya jatuh cinta seketika. Apalagi, saat itu ada label potongan harga tujuh puluh persen. Keren (dan murah)!

Kalau dipikir lagi, mungkin tas itu bukan Polo asli karena seingat saya Polo hanya menerbitkan tas kopor, ransel kantoran dan baju. Atau memang ada tas-tas gunung? Ah, tidak penting. Buat saya yang baru senang-senangnya ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam, pertemuan dengan tas ini seperti sudah ditakdirkan.

Ukuran besar si Polly, sebut saja begitu (saya baru kasih nama sekarang), sangat cukup membawa banyak barang. Bahkan saya baru sadar kalau ukuran ini sepertinya lebih cocok untuk cowok dibanding untuk saya. Kalau dikira-kira, mungkin Polly muat untuk 70-90 liter. Euh, pantas kalau diisi penuh rasanya punggung mau patah hahaha!

Salah satu yang langka dari desain si Polly adalah jenisnya yang dapat dibuka baik dari depan (front load) atau dari atas (top load). Kalau dibawa pergi, pokoknya enak saja untuk mengambil-ambil barang. Strap atau pegangannya cukup lebar dan nyaman digunakan. Ada kantong kecil di bagian bantalan sabuknya. Sebenarnya, ini adalah jenis yang sangat cocok untuk backpacking. Hiks.

Polly sudah menemani saya menjelajah gunung-gunung di Jawa Tengah, satu gunung di Jawa Timur dan satu di Jawa Barat. Untuk membawa ransum makanan dari ibu kalau saya pulang ke rumah. Dia pernah ikut teman saya ke Rinjani walaupun saya belum sampai ke sana. Pernah pula ikut ekspedisi. Saya juga menggunakan Polly untuk mengangkut barang saat pindah dari Jogja ke Jakarta. Dia ikut teman saya yang lain keliling Thailand sampai Kamboja. Saya? Kemarin tidak bawa dia pas ke Vietnam karena ukurannya terlalu besar.

Juga, karena ia sudah tidak prima…

Strap untuk mengikat pinggang Polly sudah berserabut, bagian depan sobek-sobek karena dimakan tikus (hih). Lalu bagian pengunci pinggangnya pernah patah. Polly sudah terlalu tua. Karena itu saya tidak lagi bisa menyimpannya karena hanya akan teronggok dan menimbun debu.

Jadi saya menggulungnya, memasukkannya dalam tas plastik dan menaruhnya di sisi tong sampah yang akan diangkut Bapak Tukang Sampah setiap pagi. Bila ada yang menemukan dan memutuskan memakainya, biarlah Polly menambah sisa umur. Bila tidak, semoga ia istirahat dengan tenang. Terima kasih Polly, sudah menemaniku lamaaa sekali…

Mendadak haru,
EA

One thought on “Berpisah dengan Barang Kesayangan

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s