Tantangan Frugal Living, Setelah 30 Hari


Akhirnya! Hari ke-30 sudah tiba!! Selesai sudah tantangan frugal living alias hidup hemat yang saya canangkan bulan ini. Lo, kok tahu-tahu sudah hari terakhir? Cerita sepanjang 30 hari mana? Ya enggak ada. Suka-suka saya ceritanya ha ha ha!

Sebelumnya, saya sudah pernah cerita bahwa saya mengawali tantangan ini dengan situasi minus. Maksudnya, awalan buruk karena duit saya juga sudah ngepas. Jadi sebetulnya, enggak bisa dilacak sahih juga sih, seberapa besar penghematan yang bisa saya lakukan. Tapi setidaknya saya bisa kasih tahu seperti apa rasanya hidup (terpaksa) hemat itu.

Pertama, rasanya seperti orang yang biasa makan nasi lalu diminta ganti kentang. Ya enggak kenyang, tanggung dan ada yang kurang. Akibatnya kadang saya suka curang. Misalnya, dengan menggunakan kartu kredit. Mengalihkan pembayaran bulan ini ke bulan depan. Jadi pos pengeluarannya jadi enggak terhitung di tantangan. Wah, bisa dikeplak nih hi hi hi!

Eitss tapi saya juga dengan bangga menyatakan penggunaan kartu kredit saya sudah berkurang lo, sekitar 30%! Saya juga tetap menabung dan berinvestasi walaupun masih belum berhasil menyisihkan dana darurat. Seharusnya, dengan durasi bekerja yang sudah saya alami, setidaknya saya sudah bisa menyimpan dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Tapi namanya saya, suka saja mengorek tabungan itu untuk keperluan yang sama sekali tidak darurat. Fiuhhh…

Lha terus, apa prestasi saya selama sebulan ke belakang? Yah, walaupun kecil, ternyata tantangan 30 hari Frugal Life ini lumayan mengubah situasi dan cara pikir saya. Berikut hal-hal yang berhasil saya upayakan:

Bye bye Cha Time
Ini cukup berat. Sebelum tantangan ini, saya nyaris tiap minggu ke mal cuma buat beli bubble milk tea asal Taiwan ini. Segelas minimal Rp 21.000 karena saya doyan banget yang matcha red bean milk tea. But you know what? I never buy any for these 30days!!! Terakhir beli, adalah akhir Agustus lalu, itupun pakai poin bonus saya sebagai pemegang kartu anggota. Bahkan, di hari terakhir, saat saya dan teman nonton film di mal, saya bisa lho, melengos dari rayuan kedai ungu satu itu! Bangga deh hahaha! Total hemat: Rp 21.000 x 4-6 kali = Rp 84.000 – Rp 126.000 (HAH?! Lumayan yaaa ternyata!). Tapi saya enggak tahan godaan juga…tanggal 1 Oktober dirayakan dengan…beli brown rice milk tea with pearl hahaha!

Jebakan Stationery

Saya juga pernah bilang kalau saya terobsesi produk stationery alias alat-alat-tulis-lucu-tak-berguna-tapi-kepakai-kok itu. Nah, saya mengaku dosa kalau saya masih tidak bisa menghindarinya. Di tengah bulan, saya beli empat notes yang berukuran pas  Midori Traveler’s Notebook (5,5 cm x 21 cm) di sebuah mal seharga Rp 88.000. Alasannya, karena itu adalah “hal langka” dan saya “capek” bikin notes sendiri. Plak! Tapiii, saya juga berhasil menahan tidak membeli satu set pena khusus gambar merek Sakura Micron Pen seharga Rp 108.000 dan beralih membeli satu saja pena bermerek itu seharga Rp 20.000. Saya coba pakai dan ternyata sangat suka sama ketipisan garisnya!

Makan makan makan

Saya harus berterima kasih pada teman baik saya nona Ch, yang bersedia berbaik hati suplai lauk-pauk gratis beberapa kali seminggu sehingga saya jadi super hemat. Tinggal masak nasi atau tambah beli lauk sedikit. Jadinya, saya jarang beli sarapan dan makan siang. Total penghematan? Sekitar Rp 400.000 – Rp 600.000!

Saya juga jadi jarang dine out alias makan di resto sesering bulan-bulan sebelumnya. Tapi sekali lagi, semua upaya saya ini enggak ada ekstraknya! Yaaa setidaknya tidak bikin tagihan kartu kredit saya bengkak hahaha!

Apa dong manfaatnya tantangan ini selain pembuktian? Ternyata, menahan diri selama 4 minggu membuat saya berpikir dua bahkan tiga kali sebelum menginginkan sesuatu. Misalnya saja, saya betul-betul ingin beli dompet lucu. Tapi saya ingat tantangan ini dan saya memasukkan pertanyaan-pertanyaan seperti “perlu enggak sekarang?”, “harganya masuk akal apa tidak?” atau “Kamu betulan butuh atau pengen?” ke pikiran saya. Hasilnya, saya bisa menahan diri dan berpikir lebih logis sebelum asal mengeluarkan uang.

Bahkan, saya berhasil menahan diri untuk tidak membeli tiket konser Kla Project walaupun sangat menginginkannya. Sisi iblis saya berbisik, “kapan lagi kamu nonton Kla di Jakarta dengan bonus D’Cinnamon?” tapi, sisi logis saya juga bilang, “Kalau kamu bela-belain beli tiket itu, kamu sanggup enggak makan seminggu? Atau puasa internet 3 bulan?” Dan, sisi logis saya yang menang. Hiks..hiks…maaf ya Om Katon…

Nah, apakah saya masih akan melanjutkannya? Ya, saya masih akan berusaha melanjutkannya. Bukan berhemat ketat tapi dengan berusaha lebih bijak. Bijak mengeluarkan uang, bijak membuat keputusan pembelian. Sulit lo, tapi bukan tidak mungkin! Ayo, kamu juga bisa!

 

 

 

*Ditulis tanggal 30 malam, baru sempat diterbitkan sekarang X))

One thought on “Tantangan Frugal Living, Setelah 30 Hari

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s